4 Sikap Menghadapi Musibah Berdasarkan Tingkatan Iman, Simak

musibah
Picture of admin pusat

admin pusat

Penulis

SULUH NUSANTARA – Setiap manusia pasti pernah menghadapi musibah di dalam hidupnya. Sebab, hidup di dunia tidaklah sempurna, ada baik dan buruknya, ada masa senang dan ada masa sedih.

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan hal ini dalam surat Al-Balad ayat 4. Ayat tersebut berbunyi:

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ فِى كَبَدٍ ٤

Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”

Tiap orang memiliki cara merespon yang berbeda-beda, terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya. Termasuk juga bagaimana cara mereka menghadapi musibah.

Melansir dari inilah.com, berikut adalah empat cara seseorang menghadapi musibah, berdasarkan tingkatan imannya:

1. Marah

Tingkatan yang paling rendah dalam menghadapi musibah adalah marah. Allah SWT menjelaskan sikap ini pada sebuah ayat dalam surat Al-Hajj ayat 11:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍۢ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْـَٔاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ ١١

Artinya: “Dan di antara manusia, ada yang menyembah Allah di pinggiran. Jika ia diberi nikmat berupa kebaikan, maka tenanglah hatinya. Namun jika ujian menimpanya, maka berubahlah rona wajahnya, jadilah ia merugi di dunia dan di akhirat.”

Marah sendiri bisa terbagi menjadi beberapa kategori yaitu marah yang tersimpan dalam hati, marah yang diungkapkan dengan kata-kata dan marah yang diekspresikan melalui anggota tubuh.

Seorang muslim baiknya menghindari marah ketika menghadapi musibah. Apa lagi jika marah tersebut sampai mencela takdir Allah.

Seseorang yang marah dengan takdir Allah, maka ia dikhawatirkan terjerumus dalam perbuatan syirik. Sebab, pada hakikatnya mencela takdir Allah layaknya seperti mencela Allah, sang pembuat takdir.

2. Sabar

Sabar adalah tingkatan minimal yang seorang muslim harus usahakan, ketika menghadapi musibah. Meskipun tidak menyukai apa yang ia hadapi, orang yang bersabar akan menahan untuk tidak marah.

Seseorang yang mencoba untuk bersabar, akan mendapat pahala. Dengan bersabar, ia pun dapat terhindar dari dosa yang mungkin dapat ia lakukan ketika marah.

Walaupun pahit, orang yang sabar akan mendapatkan kenikmatan di akhir. Seperti yang Allah jelaskan dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 155-157:
وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ
Artinya: “… Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

3. Ridho

Ridho artinya menerima, rela atau ikhlas terhadap apa yang terjadi pada hidupnya. Orang yang memiliki sifat ini akan berlapang dada dan menerima apa yang menimpanya, termasuk musibah.

Seseorang yang ridho akan menganggap ujian dan nikmat yang menimpanya sama saja, yaitu sama-sama bagian dari takdir dan ketetapan Allah.

Meskipun musibah tersebut membuat hatinya sedih, ia tetap menerimanya dengan rela dan lapang dada. Sebab, ia percaya bahwa Allah SWT adalah Rabb yang mengatur urusannya.

Melansir dari sarungatlas.co.id, ridho bukan hanya tentang menahan diri seperti sabar, tetapi ia akan menerima dan merasakan ketenangan serta kebahagiaan, dalam menghadapi apa pun yang sudah menjadi takdir.
Orang yang ridho akan cenderung tak merasa kecewa dan tidak puas, akan tetapi ia akan berpikir bahwa apa pun yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah SWT dan memiliki hikmah di baliknya.
Dalam hal ini, memiliki sikap ridho adalah tidak wajib, tetapi sunnah dan lebih afdhal (utama).

4. Syukur

Bersyukur merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling afdhal dalam menghadapi musibah. Seseorang yang bersyukur atas musibah adalah orang yang sadar, bahwa musibah menjadi sebab penghapusan dosa dan penambahan kebaikan.
Seperti dalam sebuah hadist, Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه

Artinya: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya,”(HR Bukhari dan Muslim).

Seorang bisa menjadi hamba Allah yang penuh rasa syukur, ketika ia melihat masih banyak orang lain yang lebih berat musibahnya dibandingkan dirinya.

Di sisi lain, ia menganggap bahwa musibah dalam hal dunia lebih ringan dibandingkan musibah dalam hal agama. Sebab, azab di dunia lebih ringan daripada azab di akhirat.

Kesimpulan

Setiap manusia memiliki pilihan terhadap bagaimana ia ingin menghadapi musibah. Bagi seorang muslim, sikap dalam menghadapi musibah memiliki tingkatan tertentu.

Tingkatan terendah adalah marah. Sabar adalah tingkatan minimal yang sebaiknya seorang muslim lakukan. Sedangkan, ridho lalu syukur adalah tingkatan tertinggi dan paling afdhal.

Semoga Allah SWT memberikan kita kemudahan dalam melewati musibah. Serta, menghapus dosa-dosa kita karena musibah yang kita hadapi. Aamiin.

 

Wallahu A’lam
Oleh Dennis Ramadhan

Terbaru

Artikel Terkait

Lainnya