Daya Korsa, Kisah Penyuluh Agama Menjawab Derita Korban Erupsi Semeru dengan Pemberdayaan

Author picture

Penulis

Lumajang, Suntara

Masih melekat di benak kita semua, Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, mengalami erupsi dahsyat pada 4 Desember 2021. Awan panas guguran meluncur cepat ke pemukiman warga di lereng gunung, menyebabkan kerusakan parah di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Ratusan rumah hancur, puluhan orang meninggal dan luka-luka, serta ribuan lainnya harus mengungsi.

Di lereng Semeru, tepatnya di Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, trauma erupsi masih terasa. Rumah-rumah hilang tertimbun lahar, ladang tak lagi bisa digarap, dan banyak warga kehilangan arah. Namun dari kepedihan itu, muncul secercah harapan berkat sebuah gerakan bernama Daya Korsa (Pemberdayaan Ekonomi Umat Korban Erupsi Semeru).

Di tengah puing-puing dan trauma, penyuluh agama KUA Kecamatan Candipuro, Maghfur Hasbulloh tak tinggal diam. Dirinya bersama penyuluh agama lainnya tidak hanya hadir sebagai penguat spiritual, tetapi juga menjadi motor penggerak kebangkitan ekonomi warga. Melalui program ternak kolektif Daya Korsa, penyuluh agama menggandeng para penyintas untuk beternak kambing secara berkelompok.

Program ini didesain tak hanya sebagai bantuan jangka pendek, tapi sebagai solusi jangka panjang. Kelompok ternak diberikan pelatihan, pendampingan rutin, serta akses ke pasar. Hasilnya mulai terlihat, sebagian kelompok sudah bisa menjual ternaknya untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga.

Daya Korsa inisiasi Maghfur yang dibantu Penyuluh Agama Islam lainnya di Kecamatan Candipuro ini menggabungkan dakwah spiritual dengan upaya nyata membangkitkan ekonomi warga terdampak, terutama lewat beternak kambing.

Penyuluh Agama sebagai Penggerak Sosial

Tidak hanya mengisi kajian atau khutbah, Maghfur dan Penyuluh Agama di Kecamatan Candipuro kini tampil sebagai agen perubahan. Mereka mendampingi warga, memfasilitasi pelatihan ternak, dan menjembatani dukungan dari lembaga zakat serta pemerintah.

Daya korsa
(Sumber Foto: Maghfur) Para penyuluh agama saat melakukan koordinasi bersama Masyarakat Semeru bangkit dan pemerintah

“Alhamdulillah, kami tidak sendiri, bersama warga Semeru bangkit, pemerintah dan para donatur terus melakukan inisiatif bersama dalam hadir di tengah masyarakat yang terluka dan ikut mencarikan solusi,” ungkap Maghfur saat dikonfirmasi, Selasa (13/05/2025).

Tak berhenti di ekonomi, Maghfur dan penyuluh agama lainnya juga aktif mendampingi anak-anak korban erupsi. Mereka membuka ruang-ruang belajar darurat, mengadakan kelas keagamaan dan motivasi, serta mengisi kekosongan pendidikan saat sekolah belum pulih. Di tengah trauma dan ketidakpastian, anak-anak tetap mendapatkan haknya untuk belajar dan tumbuh dengan harapan.

Zakat Produktif: Solusi Jangka Panjang

Program Daya Korsa juga mengusung pendekatan zakat produktif. Alih-alih hanya memberikan bantuan konsumtif, dana zakat disalurkan dalam bentuk kambing dan pelatihan beternak. Warga diberdayakan agar bisa mandiri dan dalam jangka panjang menjadi pemberi, bukan lagi penerima.

Hasilnya mulai terlihat. Beberapa warga kini memiliki penghasilan tambahan dari hasil ternak, bahkan bisa menyekolahkan anak atau merenovasi rumah.

Model Pemberdayaan Pascabencana Berbasis Spiritualitas

Daya Korsa memberi pelajaran penting bahwa pemulihan pascabencana tak cukup dengan logistik. Pendekatan spiritual, kolaboratif, dan berbasis potensi lokal adalah kunci.

Program ini menjadi model bahwa penyuluh agama yang selama ini identik dengan mimbar ternyata juga bisa hadir sebagai fasilitator ekonomi, motivator sosial, dan penggerak perubahan.

Kisah ini menjadi bukti bahwa dakwah tidak selalu lewat mimbar. Dalam situasi krisis, penyuluh agama mampu menjelma menjadi agen perubahan, menjahit kembali harapan dari reruntuhan bencana. Mereka hadir, mendengarkan, menguatkan, dan menggerakkan.

Terbaru

Artikel Terkait

Lainnya