<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hikmah Arsip - Suntara</title>
	<atom:link href="https://suntara.or.id/category/hikmah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Media kolaborasi Penyuluh Se-Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Sep 2026 11:02:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2025/06/cropped-ikon-logo-suntara-32x32.png</url>
	<title>Hikmah Arsip - Suntara</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kita Semua Sedang Lelah: Ketika Lelah Tidak Lagi Harus Disembunyikan</title>
		<link>https://suntara.or.id/kita-semua-sedang-lelah-ketika-lelah-tidak-lagi-harus-disembunyikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2026 11:02:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2326</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada masa ketika seseorang tetap tersenyum meskipun sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Tetap bekerja ketika tenaga hampir habis. Tetap melayani ketika hati sedang kehilangan daya. Tetap menjawab, “baik-baik saja,” meskipun di dalam diri ada banyak hal yang belum selesai. Hal itulah yang menjadi pintu masuk Aron Ginting Manik dalam bukunya Kita Semua Sedang Lelah: Sebuah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/kita-semua-sedang-lelah-ketika-lelah-tidak-lagi-harus-disembunyikan/">Kita Semua Sedang Lelah: Ketika Lelah Tidak Lagi Harus Disembunyikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ada masa ketika seseorang tetap tersenyum meskipun sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Tetap bekerja ketika tenaga hampir habis. Tetap melayani ketika hati sedang kehilangan daya. Tetap menjawab, “baik-baik saja,” meskipun di dalam diri ada banyak hal yang belum selesai.</p>
<p>Hal itulah yang menjadi pintu masuk Aron Ginting Manik dalam bukunya Kita Semua Sedang Lelah: Sebuah Pengingat bahwa Kita Tidak Berjalan Sendirian. Buku yang diterbitkan pada 2026 ini terdiri dari 280 halaman dan berada dalam ranah refleksi kehidupan serta spiritualitas Kristen.</p>
<p>Namun buku ini tidak sekadar berbicara tentang rasa lelah dalam pengertian fisik. Ia mencoba masuk lebih jauh: kepada kelelahan yang muncul karena tuntutan hidup, pekerjaan, relasi, kegagalan, penantian, tekanan sosial, pencarian identitas, luka batin, bahkan pergumulan iman.</p>
<p><strong>Lelah yang Tidak Selalu Terlihat</strong></p>
<p>Salah satu kekuatan buku ini adalah keberaniannya melihat kelelahan dari sisi yang sering luput dari perhatian.</p>
<p>Ada orang yang kelihatannya produktif, tetapi sebenarnya sedang kehabisan tenaga secara emosional. Ada yang tetap menjalankan perannya sebagai orang tua, pasangan, pemimpin, pekerja, pelayan gereja, atau bagian dari komunitas, sementara dirinya sendiri hampir tidak mempunyai ruang untuk berhenti.</p>
<p>Kelelahan seperti ini tidak selalu hadir dalam bentuk tangisan atau keputusan untuk menyerah. Kadang ia muncul sebagai kehilangan semangat, sulit menikmati kehidupan, mudah marah, sulit beristirahat, merasa hampa, atau terus menyalahkan diri sendiri karena merasa belum cukup baik.</p>
<p>Di sinilah buku Aron terasa dekat dengan realitas kehidupan sekarang.</p>
<p>Kita hidup dalam lingkungan yang sering kali mengukur seseorang melalui pencapaian. Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat begitu sempurna. Kesuksesan mudah dipamerkan, sementara kegagalan, kecemasan, dan luka biasanya disimpan rapat-rapat.</p>
<p>Akibatnya, seseorang bukan hanya lelah menjalani hidup, tetapi juga lelah mempertahankan kesan bahwa dirinya baik-baik saja.</p>
<p><strong>Bukan Buku yang Menghakimi</strong></p>
<p>Yang menarik, Kita Semua Sedang Lelah tidak mengambil posisi sebagai buku yang datang membawa semua jawaban. Buku ini justru menawarkan ruang untuk berhenti sejenak. Dalam bagian pengantarnya, terlihat jelas bahwa penulis ingin pembaca berdamai dengan kenyataan bahwa menjadi lelah adalah bagian dari pengalaman manusia. Kelelahan tidak otomatis berarti seseorang lemah, gagal, kurang beriman, atau tidak mampu menjalani kehidupan. Cara pandang semacam ini penting. Sebab sering kali manusia terlalu cepat menghakimi dirinya sendiri. Ketika gagal, ia merasa tidak cukup baik. Ketika tertinggal, ia merasa tidak berharga. Ketika membutuhkan pertolongan, ia menganggap dirinya lemah. Padahal, mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja justru dapat menjadi awal untuk mengenali diri dan memulai proses pemulihan.</p>
<p><strong>Pertemuan Psikologi, Kehidupan Sosial, dan Iman</strong></p>
<p>Buku ini juga menarik karena tidak membicarakan kelelahan hanya dari satu sudut pandang. Dalam uraian yang terlihat pada halaman-halaman awal, pembahasan tentang kelelahan bersentuhan dengan psikologi, kehidupan sosial, budaya produktivitas, relasi, serta iman Kristen. Pendekatan tersebut membuat buku ini tidak terasa seperti buku renungan yang hanya memberikan nasihat rohani. Persoalan manusia ditempatkan terlebih dahulu dalam realitas kehidupan sehari-hari. Ada kesadaran bahwa manusia membutuhkan rasa aman, penerimaan, hubungan yang sehat, kesempatan untuk beristirahat, dan ruang untuk menemukan kembali makna hidup. Baru kemudian, pembahasan itu diarahkan kepada pertanyaan yang lebih dalam tentang iman dan hubungan manusia dengan Tuhan.</p>
<p>Dengan demikian, iman dalam buku ini tidak ditempatkan sebagai cara untuk melarikan diri dari persoalan hidup. Sebaliknya, iman menjadi bagian dari perjalanan seseorang dalam menghadapi kenyataan hidup dengan lebih jujur.</p>
<p><strong>Dari Pencapaian Menuju Makna</strong></p>
<p>Salah satu gagasan yang terasa kuat adalah kritik terhadap cara manusia menentukan nilai dirinya melalui pencapaian. Kita terbiasa bertanya:</p>
<p>Sudah mencapai apa? Sudah punya apa? Seberapa sukses kita dibandingkan orang lain? Apakah hidup kita sudah sesuai dengan harapan?</p>
<p>Padahal, kehidupan manusia tidak selalu dapat diukur melalui daftar pencapaian.</p>
<p>Ada masa ketika seseorang memang harus berlari. Tetapi ada pula masa ketika seseorang perlu berhenti, menarik napas, dan menyadari bahwa hidup bukan perlombaan yang harus dimenangkan setiap hari. Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa nilai manusia tidak semata-mata lahir dari keberhasilan yang bisa diperlihatkan kepada dunia. Dalam perspektif iman yang dibangun penulis, manusia tetap mempunyai nilai bahkan ketika sedang gagal, kehilangan arah, terluka, atau kehabisan tenaga. Kasih Allah tidak bergantung pada seberapa banyak pencapaian yang berhasil dikumpulkan seseorang.</p>
<p>Pesan tersebut juga terlihat dalam kesan para pemberi pengantar buku. Mereka sama-sama menangkap buku ini sebagai sebuah pengingat bahwa kelelahan bukanlah sesuatu yang harus selalu dilihat sebagai kegagalan manusia.</p>
<p><strong>Buku yang Tidak Terburu-buru Memberi Solusi</strong></p>
<p>Ada satu hal yang menurut saya membuat tema buku ini relevan: manusia zaman sekarang terlalu sering ditawari solusi instan. Ketika sedang lelah, kita disuruh lebih kuat. Ketika gagal, kita diminta segera bangkit. Ketika sedih, kita diminta berpikir positif. Ketika mengalami masalah, kita segera mencari kalimat motivasi. Padahal tidak semua persoalan selesai hanya dengan satu nasihat.</p>
<p>Ada luka yang membutuhkan waktu. Ada kehilangan yang perlu diterima perlahan. Ada pertanyaan yang tidak langsung mempunyai jawaban.</p>
<p>Di titik inilah buku Aron mengambil pendekatan yang lebih manusiawi. Ia tidak terburu-buru memaksa pembaca keluar dari kelelahannya. Pembaca justru diajak duduk sejenak bersama pengalaman itu, mengenalinya, kemudian perlahan mencari kembali harapan.</p>
<p><strong>Ada Harapan di Balik Kelelahan</strong></p>
<p>Judul Kita Semua Sedang Lelah mungkin terdengar seperti kalimat yang muram. Tetapi sebenarnya pesan yang dibawa buku ini tidak berhenti pada kelelahan.</p>
<p>Ada kalimat penting yang menjadi semangat keseluruhan buku: kelelahan bukan akhir dari cerita. Ini yang membuat buku tersebut tidak jatuh menjadi buku yang hanya membicarakan luka. Kelelahan diakui, tetapi harapan tetap dipelihara.</p>
<p>Manusia boleh berhenti sejenak. Boleh mengakui bahwa dirinya tidak sanggup. Boleh meminta pertolongan. Boleh menangis. Boleh mengakui bahwa perjalanan terasa berat. Tetapi semua itu tidak berarti perjalanan harus berakhir.</p>
<p>Dalam kerangka iman Kristen yang digunakan Aron, harapan tersebut menemukan tempatnya dalam penyertaan Tuhan. Manusia tidak berjalan sendirian. Bahkan dalam keadaan ketika seseorang merasa sudah tidak memiliki kekuatan, masih ada keyakinan bahwa Tuhan tetap bekerja dan menyertai.</p>
<p><strong>Aron dan Cara Menulis yang Dekat dengan Kehidupan</strong></p>
<p>Aron Ginting Manik sendiri dikenal sebagai penulis, pendeta, dan pembicara. Ia menempatkan teologi bukan hanya sebagai sesuatu yang dibicarakan di ruang gereja, tetapi sebagai sesuatu yang berjumpa dengan kehidupan sehari-hari. Buku ini merupakan bagian dari upayanya membawa refleksi iman lebih dekat kepada pergumulan manusia modern.</p>
<p>Karena itu, pembaca tidak diajak berhadapan dengan bahasa teologi yang terlalu jauh dari kehidupan. Persoalan yang dibicarakan justru sangat dekat dengan keseharian: pekerjaan, relasi, kegagalan, penantian, tekanan sosial, kesehatan mental, pelayanan, dan pergumulan iman.</p>
<p><strong>Untuk Siapa Buku Ini?</strong></p>
<p>Buku ini terutama akan terasa dekat bagi mereka yang sedang berada dalam fase kehidupan yang penuh tekanan. Bagi orang yang sedang mempertanyakan arah hidup. Bagi mereka yang merasa tertinggal. Bagi seseorang yang sedang berusaha terlihat kuat di hadapan banyak orang. Bagi mereka yang menjalankan banyak peran sekaligus hingga lupa memberikan ruang bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Dan tentu saja, bagi siapa saja yang pernah berada pada titik ketika satu-satunya kalimat yang mampu diucapkan hanyalah:</p>
<p><em>“Saya lelah.”</em></p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/kita-semua-sedang-lelah-ketika-lelah-tidak-lagi-harus-disembunyikan/">Kita Semua Sedang Lelah: Ketika Lelah Tidak Lagi Harus Disembunyikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak Semua Tangga Harus Kita Naiki</title>
		<link>https://suntara.or.id/tak-semua-tangga-harus-kita-naiki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2026 17:19:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2319</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil kita seperti diajarkan untuk terus naik. Sekolah lebih tinggi, pekerjaan lebih baik, penghasilan lebih besar, posisi lebih tinggi. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi dalam perjalanan, mungkin ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan: apakah semua tangga memang harus kita naiki? Dalam kehidupan, manusia memang sering dihadapkan pada keinginan untuk menjadi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/tak-semua-tangga-harus-kita-naiki/">Tak Semua Tangga Harus Kita Naiki</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kecil kita seperti diajarkan untuk terus naik. Sekolah lebih tinggi, pekerjaan lebih baik, penghasilan lebih besar, posisi lebih tinggi. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi dalam perjalanan, mungkin ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan: <strong>apakah semua tangga memang harus kita naiki?</strong></p>
<p>Dalam kehidupan, manusia memang sering dihadapkan pada keinginan untuk menjadi lebih. Ketika sudah berada di satu tempat, mata kembali melihat ke tempat yang lebih tinggi. Ketika satu pencapaian sudah diraih, muncul keinginan untuk mendapatkan pencapaian berikutnya. Begitulah hidup berjalan.</p>
<p>Di dunia pekerjaan, terutama dalam lingkungan birokrasi, tangga itu bisa berbentuk jabatan, pangkat, ruang kerja, kewenangan, atau berbagai macam posisi yang dianggap sebagai tanda keberhasilan. Lalu dimulailah perlombaan&#8230;</p>
<p>Siapa yang lebih dulu naik. Siapa yang mendapatkan tempat lebih baik. Siapa yang dipercaya memegang jabatan. Kadang tanpa disadari, perjalanan bekerja yang semestinya menjadi ruang pengabdian berubah menjadi perjalanan untuk membuktikan siapa yang lebih tinggi dari siapa.</p>
<p>Padahal, tidak semua orang harus berada di puncak tangga yang sama. Ada yang menemukan kebahagiaan dalam memimpin. Ada yang merasa cukup ketika pekerjaannya memberi manfaat. Ada yang tidak membutuhkan ruangan besar untuk merasa dirinya berarti. Sebab nilai seseorang tidak selalu ditentukan oleh tempat di mana ia duduk, tetapi oleh apa yang ia lakukan ketika berada di sana.</p>
<p>Mungkin yang perlu dipikirkan bukan hanya seberapa tinggi seseorang bisa naik, tetapi juga &#8216;untuk apa ia naik&#8217;. Sebab jabatan yang tinggi tidak otomatis membuat seseorang lebih berarti. Begitu pula posisi yang sederhana tidak serta-merta membuat seseorang lebih rendah.</p>
<p>Karena semua orang akan berhadapan dengan batas. Ada masa ketika jabatan berakhir. Ada masa ketika pangkat berhenti. Ada masa ketika meja kerja yang setiap hari didatangi harus ditinggalkan. Bahkan sebuah karier yang panjang sekalipun pada akhirnya akan sampai pada satu titik yang sama: selesai. Dan mungkin justru di situlah kita baru mempunyai kesempatan untuk melihat perjalanan dari kejauhan.</p>
<p>Apa yang dulu begitu penting, ternyata tidak selamanya penting. Persaingan yang dulu membuat gelisah, perlahan kehilangan maknanya. Kursi yang dulu begitu ingin diduduki, akhirnya akan ditempati orang lain. Nama yang dulu disebut bersama jabatan, suatu hari hanya tinggal nama.</p>
<p>Tidak semua tangga harus kita naiki, ada kalanya cukup berdiri di tempat kita berada, lalu bekerja dengan baik. Sebab yang paling penting dari sebuah perjalanan bukan selalu tentang mencapai tempat tertinggi, tetapi tentang <strong>bagaimana kita melewati setiap anak tangga tanpa kehilangan diri sendiri.</strong></p>
<p>Di akhir cerita, kita baru sadar bahwa yang selama ini kita kejar begitu keras, tidak ikut kita bawa pulang. Jabatan berhenti, pangkat berhenti, pujian berhenti. Yang tinggal hanyalah kenangan tentang bagaimana kita pernah menjalani semuanya. Nice!</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/tak-semua-tangga-harus-kita-naiki/">Tak Semua Tangga Harus Kita Naiki</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apel Senin dan Pertanyaan yang Tak Pernah Kita Ajukan</title>
		<link>https://suntara.or.id/apel-senin-dan-pertanyaan-yang-tak-pernah-kita-ajukan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 03:03:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2310</guid>

					<description><![CDATA[<p>Senin pagi selalu punya suasana yang hampir sama. Orang-orang datang dengan seragam yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Barisan dibentuk, apel dimulai, amanat disampaikan, lalu semuanya kembali kepada rutinitas masing-masing. Begitu terus. Minggu berganti minggu. Karena terlalu sering dilakukan, kita kadang lupa bahwa ada sesuatu yang sebenarnya sedang berlangsung : waktu sedang berjalan. Apel di [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/apel-senin-dan-pertanyaan-yang-tak-pernah-kita-ajukan/">Apel Senin dan Pertanyaan yang Tak Pernah Kita Ajukan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Senin pagi selalu punya suasana yang hampir sama. Orang-orang datang dengan seragam yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Barisan dibentuk, apel dimulai, amanat disampaikan, lalu semuanya kembali kepada rutinitas masing-masing. Begitu terus. Minggu berganti minggu.</p>
<p>Karena terlalu sering dilakukan, kita kadang lupa bahwa ada sesuatu yang sebenarnya sedang berlangsung : <strong>waktu sedang berjalan.</strong></p>
<p>Apel di bulan September ini, adalah apel pertama dalam kepemimpinan Kepala KUA Kecamatan Berastagi, Arri Aliansyah Siregar, S.H.I., M.Si. Pergantian seorang pimpinan mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: kantor akan terus berjalan, sementara orang-orang di dalamnya akan datang dan pergi. Kita sering menilai teman sekantor dari apa yang terlihat. Yang rajin kita anggap biasa. Yang sekali melakukan kesalahan bisa lama kita ingat. Kita hafal kekurangan seseorang, tetapi sering lupa menyebutkan kebaikannya. Mengapa memuji orang lain terasa begitu sulit?</p>
<p>Mungkin karena kita terlalu sibuk mengukur diri sendiri dengan orang lain. Padahal, setiap orang membawa perjuangannya masing-masing. Ada pekerjaan yang selesai tanpa tepuk tangan. Ada tanggung jawab yang dipikul diam-diam. Ada orang yang tetap datang bekerja meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja.</p>
<p>Seorang pemimpin, barangkali, bukan hanya orang yang mampu memberi perintah. Pemimpin juga harus mampu melihat hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian: siapa yang bekerja dalam diam, siapa yang membutuhkan dukungan, dan siapa yang selama ini mungkin belum pernah mendengar satu kalimat sederhana: <em>“Terima kasih, pekerjaanmu berarti.”</em></p>
<p>Kemudian kita kembali kepada soal waktu. Kita sering mengatakan bahwa waktu berputar. Bukankah jarum jam memang berputar? Bukankah Senin akan kembali setelah tujuh hari? Tetapi mungkin yang berputar hanyalah jarum jam.</p>
<p><strong>Waktu sendiri tidak pernah kembali.</strong></p>
<p>Senin depan kita memang akan berdiri lagi di tempat yang sama. Tetapi kita sudah menjadi orang yang berbeda. Ada pengalaman yang bertambah, ada usia yang berkurang, dan ada kesempatan yang tidak mungkin diulang.</p>
<p>Maka mungkin setiap apel bukan sekadar kewajiban kedinasan. Ia adalah kesempatan untuk berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri:</p>
<p><strong>Selama waktu terus berjalan, sebenarnya apa yang sedang kita bangun dalam diri kita?</strong></p>
<p>Sebab suatu hari nanti, barisan itu akan tetap ada. Hanya saja, mungkin kita sudah tidak berada di dalamnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/apel-senin-dan-pertanyaan-yang-tak-pernah-kita-ajukan/">Apel Senin dan Pertanyaan yang Tak Pernah Kita Ajukan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyuluh Agama KUA Berastagi Bahu Membahu Mengisi Kekosongan Di SDN 040406 Berastagi</title>
		<link>https://suntara.or.id/penyuluh-agama-kua-berastagi-bahu-membahu-mengisi-kekosongan-di-sdn-040406-berastagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2026 04:08:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2304</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berastagi, Kabupaten Karo — Keterbatasan tenaga pendidik agama di sejumlah sekolah menjadi perhatian serius Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karo. Menjawab kondisi tersebut, para Penyuluh Agama Islam, Penyuluh Agama Kristen, dan Penyuluh Agama Katholik menunjukkan kepedulian dengan turun langsung ke sekolah untuk membantu mengisi kekosongan guru agama. Salah satu bentuk nyata gerakan tersebut dilakukan di SD [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-agama-kua-berastagi-bahu-membahu-mengisi-kekosongan-di-sdn-040406-berastagi/">Penyuluh Agama KUA Berastagi Bahu Membahu Mengisi Kekosongan Di SDN 040406 Berastagi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berastagi, Kabupaten Karo —</strong> Keterbatasan tenaga pendidik agama di sejumlah sekolah menjadi perhatian serius Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karo. Menjawab kondisi tersebut, para <strong>Penyuluh Agama Islam, Penyuluh Agama Kristen, dan Penyuluh Agama Katholik </strong>menunjukkan kepedulian dengan turun langsung ke sekolah untuk membantu mengisi kekosongan guru agama.</p>
<p>Salah satu bentuk nyata gerakan tersebut dilakukan di <strong>SD Negeri 040406 Berastagi,</strong> tempat para penyuluh secara bergantian memberikan materi pembelajaran agama kepada para siswa.</p>
<p>Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan arahan <strong>Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karo, Saparudin, MA.</strong>, yang sebelumnya menekankan bahwa masih terdapat sejumlah sekolah yang belum memiliki guru agama. Kondisi tersebut membutuhkan kolaborasi dan keterlibatan para penyuluh agar kebutuhan pembelajaran agama bagi peserta didik tetap dapat terpenuhi.</p>
<p>Di SD Negeri 040406, kegiatan penyuluhan tidak hanya dilakukan sekali. Sejumlah penyuluh agama telah beberapa kali hadir dan memberikan materi keagamaan kepada para siswa.</p>
<p>Dari unsur <strong>Penyuluh Agama Kristen</strong>, kegiatan tersebut melibatkan <strong>Ibu Ester Ekawani br Tarigan, Devi br. Barus, Omega br. Sembiring, Cahaya B. Manalu,.</strong> Sementara dari unsur Penyuluh Agama Islam Bapak Alpen Pinem, dan dari Penyuluh Agama Katholik ada <strong>Ibu Erna br. Sinaga.</strong></p>
<p>Kehadiran para penyuluh tersebut menjadi gambaran bahwa tugas pembinaan keagamaan di tengah masyarakat tidak selalu harus dibatasi oleh ruang dan sekat kelembagaan. Ketika terdapat kebutuhan pendidikan agama di sekolah, para penyuluh dapat mengambil peran sesuai dengan kompetensi dan keyakinan masing-masing.</p>
<p>Yang menarik, keterlibatan penyuluh agama Islam dan Kristen dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan wajah <strong>kerukunan umat beragama yang diwujudkan melalui kerja nyata</strong>. Mereka memiliki ruang pengabdian yang sama: memastikan anak-anak mendapatkan hak mereka untuk memperoleh pendidikan agama dan moral.</p>
<p>Bagi para siswa, kehadiran penyuluh bukan sekadar memberikan materi pelajaran. Interaksi langsung di ruang kelas juga menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai moral, karakter, kedisiplinan, toleransi, serta sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<h3>Kolaborasi untuk Menjawab Persoalan di Lapangan</h3>
<p>Arahan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karo mengenai masih adanya sekolah yang belum memiliki guru agama menjadi pemantik bagi para penyuluh untuk tidak hanya menunggu program, tetapi <strong>merespons kebutuhan nyata yang ditemukan di lapangan</strong>.</p>
<p>Penyuluh agama yang selama ini dikenal menjalankan fungsi pembinaan dan penyuluhan di tengah masyarakat, dalam konteks ini memperluas pengabdiannya ke lingkungan pendidikan.</p>
<p>Model seperti ini menjadi penting, terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik agama. Kehadiran penyuluh dapat menjadi solusi sementara sekaligus bentuk dukungan terhadap sekolah agar pembelajaran agama tetap berjalan.</p>
<p>Lebih dari itu, kolaborasi antara penyuluh agama Islam dan Kristen menghadirkan pesan penting tentang bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan.</p>
<p><strong>Mereka berbeda dalam keyakinan, tetapi bertemu dalam satu tujuan: memberikan pelayanan terbaik bagi generasi muda.</strong></p>
<p>Kegiatan di SD Negeri 040406 tersebut diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis dalam mendukung program Kementerian Agama, khususnya dalam memperkuat pendidikan karakter dan kehidupan keagamaan peserta didik.</p>
<p>Di tengah tantangan keterbatasan guru agama, langkah sederhana para penyuluh ini menjadi sebuah bentuk pengabdian yang nyata—<strong>hadir ke sekolah, masuk ke ruang kelas, dan memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan agama.</strong></p>
<p><strong>Dari ruang kelas SD Negeri 040406, semangat itu tumbuh: berbeda dalam iman, bersatu dalam pengabdian.</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-agama-kua-berastagi-bahu-membahu-mengisi-kekosongan-di-sdn-040406-berastagi/">Penyuluh Agama KUA Berastagi Bahu Membahu Mengisi Kekosongan Di SDN 040406 Berastagi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Piala Dunia dan Refleksi Penyuluhan Agama: Juara Bukan karena Sekali Bertanding</title>
		<link>https://suntara.or.id/piala-dunia-dan-refleksi-penyuluhan-agama-juara-bukan-karena-sekali-bertanding/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 07:51:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2264</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap empat tahun sekali dunia menyaksikan Piala Dunia. Miliaran orang terpukau melihat tim-tim terbaik berlaga hingga akhirnya hanya satu yang berdiri sebagai juara. Namun, sedikit yang menyadari bahwa kemenangan itu bukan ditentukan oleh satu pertandingan final. Gelar juara lahir dari proses panjang yang dipenuhi latihan tanpa henti, evaluasi, kedisiplinan, kerja sama, dan pembiasaan yang dilakukan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/piala-dunia-dan-refleksi-penyuluhan-agama-juara-bukan-karena-sekali-bertanding/">Piala Dunia dan Refleksi Penyuluhan Agama: Juara Bukan karena Sekali Bertanding</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap empat tahun sekali dunia menyaksikan Piala Dunia. Miliaran orang terpukau melihat tim-tim terbaik berlaga hingga akhirnya hanya satu yang berdiri sebagai juara. Namun, sedikit yang menyadari bahwa kemenangan itu bukan ditentukan oleh satu pertandingan final. Gelar juara lahir dari proses panjang yang dipenuhi latihan tanpa henti, evaluasi, kedisiplinan, kerja sama, dan pembiasaan yang dilakukan selama bertahun-tahun.</p>
<p>Di sinilah letak refleksi besar bagi seorang penyuluh agama.</p>
<p>Meningkatkan kualitas umat tidak akan pernah berhasil hanya dengan satu kali penyuluhan, satu kali ceramah, atau satu kali pengajian. Sebagaimana seorang pesepak bola tidak menjadi juara hanya karena bermain sekali, masyarakat pun tidak akan berubah hanya karena mendengar nasihat sesaat.</p>
<p>Perubahan membutuhkan proses. Kebaikan harus diulang, dilatih, dipraktikkan, lalu dibiasakan hingga menjadi karakter. Tugas penyuluh agama bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan mendampingi umat agar nilai-nilai agama tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Seorang pelatih sepak bola mengulang latihan yang sama berkali-kali hingga gerakan para pemain menjadi otomatis ketika bertanding. Demikian pula penyuluh agama. Pesan tentang kejujuran, salat berjamaah, kepedulian sosial, toleransi, menjaga keluarga, hingga akhlak mulia harus terus disampaikan, dicontohkan, dan didampingi secara berulang. Dari pengulangan itulah lahir perubahan yang nyata.</p>
<p>Allah Swt. berfirman:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.&#8221; (QS. Ar-Ra&#8217;d: 11).</p>
<p>Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan adalah sebuah proses, bukan peristiwa sesaat. Penyuluhan agama sejatinya adalah proses membangun peradaban, bukan sekadar menyampaikan ceramah.</p>
<p>Karena itu, keberhasilan penyuluh agama tidak semestinya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari seberapa besar perubahan yang terjadi pada umat yang didampinginya. Apakah masyarakat menjadi lebih rajin beribadah? Apakah keluarga menjadi lebih harmonis? Apakah generasi muda semakin berakhlak? Apakah kepedulian sosial semakin tumbuh? Itulah kemenangan yang sesungguhnya.</p>
<p>Piala Dunia mengajarkan bahwa juara adalah mereka yang mampu menjaga konsistensi dari awal hingga akhir. Penyuluh agama pun dituntut memiliki semangat yang sama: tidak lelah membimbing, tidak bosan mengingatkan, dan tidak berhenti mendampingi umat.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, juara bukanlah mereka yang paling banyak berbicara, tetapi mereka yang mampu menghadirkan dampak terbesar bagi orang lain.</p>
<p>Seorang penyuluh agama adalah juara ketika kehadirannya mampu mengubah kebiasaan umat menjadi lebih baik, menguatkan iman mereka, memperbaiki akhlak mereka, dan meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup bahkan setelah dirinya pergi. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/piala-dunia-dan-refleksi-penyuluhan-agama-juara-bukan-karena-sekali-bertanding/">Piala Dunia dan Refleksi Penyuluhan Agama: Juara Bukan karena Sekali Bertanding</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siapa Bilang Minoritas? Saatnya Umat Muslim Karo Mengubah Cara Pandang</title>
		<link>https://suntara.or.id/siapa-bilang-minoritas-saatnya-umat-muslim-karo-mengubah-cara-pandang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 10:05:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2178</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah keberagaman masyarakat di Kabupaten Karo, sering muncul pandangan bahwa umat Muslim adalah kelompok “minoritas” karena jumlahnya lebih sedikit dibandingkan umat Kristen Protestan. Secara statistik, anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru. Namun, jika kita berhenti hanya pada angka, kita berisiko menyederhanakan realitas sosial yang jauh lebih kompleks. Sudah saatnya konsep “minoritas” tidak semata-mata dilihat [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/siapa-bilang-minoritas-saatnya-umat-muslim-karo-mengubah-cara-pandang/">Siapa Bilang Minoritas? Saatnya Umat Muslim Karo Mengubah Cara Pandang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah keberagaman masyarakat di Kabupaten Karo, sering muncul pandangan bahwa umat Muslim adalah kelompok “minoritas” karena jumlahnya lebih sedikit dibandingkan umat Kristen Protestan. Secara statistik, anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru. Namun, jika kita berhenti hanya pada angka, kita berisiko menyederhanakan realitas sosial yang jauh lebih kompleks.</p>
<p>Sudah saatnya konsep “minoritas” tidak semata-mata dilihat dari kuantitas, melainkan juga dari kualitas. Sebab dalam kehidupan bermasyarakat, pengaruh, kontribusi, dan kapasitas suatu kelompok tidak selalu sejalan dengan jumlahnya.</p>
<h3>Minoritas: Perspektif yang Perlu Direvisi</h3>
<p>Pemaknaan minoritas yang hanya bertumpu pada angka sering kali melahirkan persepsi keterbatasan, seolah-olah kelompok tersebut memiliki ruang gerak yang sempit, pengaruh yang kecil, atau bahkan peran yang tidak signifikan. Padahal, sejarah dan realitas sosial menunjukkan bahwa banyak kelompok yang secara jumlah lebih sedikit justru mampu memberikan kontribusi besar dalam pembangunan masyarakat.</p>
<p>Di Kabupaten Karo, umat Muslim memiliki potensi besar yang tidak bisa diabaikan. Potensi ini bukan hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Ketika kualitas ini dioptimalkan, maka label “minoritas” menjadi tidak lagi relevan dalam konteks daya pengaruh dan kontribusi.</p>
<h3>Dari Kuantitas ke Kualitas</h3>
<p>Menggeser cara pandang dari kuantitas ke kualitas berarti menempatkan indikator seperti:</p>
<ul>
<li><strong>Kapasitas sumber daya manusia</strong></li>
<li><strong>Peran aktif dalam pembangunan sosial</strong></li>
<li><strong>Kemandirian ekonomi</strong></li>
<li><strong>Kontribusi dalam menjaga harmoni antarumat beragama</strong></li>
</ul>
<p>Sebagai contoh, jika umat Muslim mampu membangun ekosistem pendidikan yang baik, memperkuat ekonomi berbasis komunitas, serta aktif dalam kegiatan sosial lintas agama, maka posisi mereka dalam masyarakat akan jauh lebih kuat daripada sekadar angka statistik.</p>
<p>Dalam konteks ini, dakwah tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ceramah, tetapi juga sebagai gerakan pemberdayaan. Dakwah menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup umat sekaligus memperluas pengaruh positif di tengah masyarakat yang majemuk.</p>
<h3>Peran Strategis Kolaborasi</h3>
<p>Untuk mewujudkan paradigma baru ini, diperlukan kerja sama lintas sektor. Tidak cukup hanya mengandalkan satu pihak, melainkan harus melibatkan:</p>
<ul>
<li>Pemerintah daerah sebagai pembuat kebijakan</li>
<li>Pengusaha sebagai penggerak ekonomi</li>
<li>Pemangku adat sebagai penjaga nilai budaya</li>
<li>Tokoh masyarakat sebagai penghubung sosial</li>
<li>Dan tentu saja penyuluh agama Islam sebagai ujung tombak pembinaan umat</li>
</ul>
<p>Kolaborasi ini akan menciptakan ekosistem yang memungkinkan umat Muslim berkembang secara kualitas, sehingga mampu berkontribusi lebih besar dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Karo.</p>
<h3>Penyuluh Agama dan Kepala KUA : Agen Perubahan</h3>
<p>Peran penyuluh agama, khususnya di bawah koordinasi (KUA), menjadi sangat krusial. Mereka bukan hanya penyampai materi keagamaan, tetapi juga agen perubahan sosial.</p>
<p>Diperlukan kesadaran baru bahwa tugas pembinaan tidak hanya berorientasi pada rutinitas administratif, tetapi juga pada penguatan kualitas umat. Penyuluh dan kepala KUA perlu memahami bahwa:</p>
<ul>
<li>“Minoritas” bukan alasan untuk pasif</li>
<li>Kualitas adalah kunci utama dalam memperluas pengaruh</li>
<li>Dakwah harus adaptif terhadap konteks sosial masyarakat Karo</li>
</ul>
<p>Dengan pemahaman ini, strategi pembinaan dapat diarahkan pada peningkatan kapasitas umat secara menyeluruh—baik spiritual, intelektual, maupun ekonomi.</p>
<h3>Membangun Kesadaran Kolektif</h3>
<p>Mengubah cara pandang dari kuantitas ke kualitas bukanlah proses instan. Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran kolektif dan komitmen bersama. Namun, langkah pertama selalu dimulai dari cara kita memaknai realitas.</p>
<p>Umat Muslim di Kabupaten Karo mungkin lebih sedikit secara jumlah, tetapi bukan berarti lebih kecil dalam peran. Ketika kualitas menjadi fokus utama, maka ruang kontribusi akan terbuka lebih luas, dan dakwah pun akan berkembang dengan lebih pesat.</p>
<p>Pada akhirnya, “minoritas” bukanlah tentang berapa banyak, tetapi tentang seberapa besar dampak yang bisa diberikan.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/siapa-bilang-minoritas-saatnya-umat-muslim-karo-mengubah-cara-pandang/">Siapa Bilang Minoritas? Saatnya Umat Muslim Karo Mengubah Cara Pandang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pembinaan Tahun Depan”, Janji Tahunan yang Nyaris Lebih Konsisten daripada MTQ Itu Sendiri</title>
		<link>https://suntara.or.id/pembinaan-tahun-depan-janji-tahunan-yang-nyaris-lebih-konsisten-daripada-mtq-itu-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2026 05:26:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap kali rangkaian MTQ berakhir, ada satu momen yang terasa begitu akrab. Bukan semata gema lantunan ayat yang masih tersisa, atau haru para peserta, melainkan sebuah kalimat yang hampir selalu mengemuka di akhir sambutan: &#8220;Tahun depan kita harus mulai pembinaan peserta lokal, agar tidak lagi bergantung pada peserta dari luar daerah.&#8221; Kalimat ini disampaikan dengan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/pembinaan-tahun-depan-janji-tahunan-yang-nyaris-lebih-konsisten-daripada-mtq-itu-sendiri/">&#8220;Pembinaan Tahun Depan”, Janji Tahunan yang Nyaris Lebih Konsisten daripada MTQ Itu Sendiri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>S</b>etiap kali rangkaian MTQ berakhir, ada satu momen yang terasa begitu akrab. Bukan semata gema lantunan ayat yang masih tersisa, atau haru para peserta, melainkan sebuah kalimat yang hampir selalu mengemuka di akhir sambutan:</p>
<p><em>&#8220;Tahun depan kita harus mulai pembinaan peserta lokal, agar tidak lagi bergantung pada peserta dari luar daerah.&#8221;</em></p>
<p>Kalimat ini disampaikan dengan penuh keyakinan &#8211; intonasinya tegas, ekspresinya serius, bahkan kerap diiringi tepuk tangan hadirin yang seolah menaruh harapan besar. Sebuah tekad kolektif yang terdengar mulia, namun sayangnya sering kali bersifat sementara.</p>
<p>Sebab, begitu lampu panggung dipadamkan, spanduk diturunkan, dan dokumentasi diunggah ke media sosial, kalimat tersebut perlahan memudar. Ia hilang tanpa jejak, layaknya sisa konsumsi panitia yang terlewat untuk dibawa pulang.</p>
<p>Fenomena ini bukan hal baru. Ia seakan menjadi tradisi tak tertulis yang berulang dari tahun ke tahun dengan pola yang nyaris identik:</p>
<ol>
<li>Menjelang MTQ, panitia disibukkan dengan upaya mencari “kekuatan terbaik”, termasuk dari luar daerah.</li>
<li>Saat MTQ berlangsung, para peserta tampil optimal dan membawa nama daerah ke panggung prestasi.</li>
<li>Setelah MTQ usai, evaluasi digelar dan kembali, kalimat yang sama pun terdengar.</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Kita harus mulai pembinaan dari sekarang.&#8221;</em></p>
<p>Namun, “sekarang” kerap bergeser menjadi “nanti”, dan “nanti” tanpa disadari berubah menjadi “tahun depan” kembali.</p>
<p>Pertanyaannya sederhana: jika kesadaran akan pentingnya pembinaan selalu muncul setiap tahun, mengapa pelaksanaannya tak kunjung benar-benar dimulai?</p>
<p>Apakah karena pembinaan tidak seatraktif seremoni?<br />
Apakah karena hasilnya tidak dapat ditunjukkan secepat piala kemenangan?<br />
Atau justru karena kita telah terbiasa dengan solusi yang instan?</p>
<p>Menghadirkan peserta dari luar daerah pada dasarnya bukanlah sesuatu yang keliru. Dalam kondisi tertentu, itu bisa menjadi langkah strategis. Namun, ketika hal tersebut terus menjadi pola tahunan tanpa diimbangi upaya serius untuk membangun potensi lokal, yang dipertahankan bukan lagi prestasi, melainkan ketergantungan.</p>
<p>Ironisnya, di tengah situasi tersebut, potensi lokal kerap hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Mereka hadir, menyaksikan, dan mendengar janji-janji pembinaan—namun pulang tanpa membawa perubahan berarti.</p>
<p>Padahal, pembinaan bukan sekadar gagasan. Ia memerlukan perencanaan, konsistensi, dukungan anggaran, serta komitmen untuk memulai—bahkan dari langkah yang paling sederhana.</p>
<p>Tidak harus menunggu program besar atau instruksi resmi. Pembinaan dapat dimulai dari lingkup kecil: satu halaqah, satu pelatih yang berkelanjutan, atau sekelompok anak muda yang diberi ruang untuk belajar dan berkembang.</p>
<p>Mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya hasil MTQ, melainkan juga kejujuran kita terhadap komitmen yang terus diucapkan. Sebab janji yang berulang tanpa tindakan, pada akhirnya kehilangan makna—berubah dari harapan menjadi sekadar formalitas.</p>
<p>Dan jika tahun depan, setelah MTQ kembali usai, kalimat yang sama kembali disampaikan dengan susunan yang tak banyak berbeda, barangkali kita tidak perlu lagi memberikan tepuk tangan.</p>
<p>Cukup tersenyum.</p>
<p>Karena kita telah memahami bagaimana kisah ini berakhir.</p>
<p>Ikhwan Syahlani, SHI</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/pembinaan-tahun-depan-janji-tahunan-yang-nyaris-lebih-konsisten-daripada-mtq-itu-sendiri/">&#8220;Pembinaan Tahun Depan”, Janji Tahunan yang Nyaris Lebih Konsisten daripada MTQ Itu Sendiri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kepala KUA Berastagi Tekankan Pentingnya AD/ART Kemasjidan dalam Halal Bihalal Masjid Istihrar</title>
		<link>https://suntara.or.id/kepala-kua-berastagi-tekankan-pentingnya-ad-art-kemasjidan-dalam-halal-bihalal-masjid-istihrar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2026 15:36:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2169</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berastagi — Suasana hangat penuh kebersamaan terasa dalam acara halal bihalal yang diselenggarakan di pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus refleksi bersama dalam membangun tata kelola masjid yang lebih baik. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Berastagi, , menyampaikan sambutan yang menyoroti pentingnya keberadaan Anggaran Dasar dan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/kepala-kua-berastagi-tekankan-pentingnya-ad-art-kemasjidan-dalam-halal-bihalal-masjid-istihrar/">Kepala KUA Berastagi Tekankan Pentingnya AD/ART Kemasjidan dalam Halal Bihalal Masjid Istihrar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Berastagi </b>— Suasana hangat penuh kebersamaan terasa dalam acara halal bihalal yang diselenggarakan di pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus refleksi bersama dalam membangun tata kelola masjid yang lebih baik.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Berastagi, , menyampaikan sambutan yang menyoroti pentingnya keberadaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dalam pengelolaan kemasjidan.</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat yang membutuhkan sistem organisasi yang jelas dan terarah. “AD/ART bukan sekadar dokumen formalitas, tetapi menjadi pedoman utama dalam menjalankan roda organisasi masjid secara profesional, transparan, dan berkelanjutan,” ujarnya.</p>
<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dengan adanya AD/ART yang tersusun dengan baik, setiap pengurus memiliki batasan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Hal ini dinilai penting untuk menghindari konflik internal serta memastikan setiap program kerja berjalan efektif dan tepat sasaran.</p>
<p>Dalam konteks kebersamaan pasca-Ramadan, Fahmi juga mengaitkan nilai halal bihalal dengan semangat memperbaiki sistem dan memperkuat sinergi antar pengurus dan jamaah. “Momentum halal bihalal ini bukan hanya tentang saling memaafkan, tetapi juga memperbarui komitmen kita dalam memakmurkan masjid dengan tata kelola yang lebih baik,” tambahnya.</p>
<p>Acara tersebut dihadiri oleh pengurus masjid, tokoh masyarakat, serta jamaah dari berbagai kalangan. Selain sambutan, kegiatan juga diisi dengan tausiyah, ramah tamah, dan diskusi ringan mengenai pengembangan program kemasjidan ke depan.</p>
<p>Dengan adanya penekanan pada pentingnya AD/ART, diharapkan dapat menjadi contoh masjid yang tidak hanya aktif dalam kegiatan ibadah, tetapi juga unggul dalam tata kelola organisasi yang profesional dan modern.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/kepala-kua-berastagi-tekankan-pentingnya-ad-art-kemasjidan-dalam-halal-bihalal-masjid-istihrar/">Kepala KUA Berastagi Tekankan Pentingnya AD/ART Kemasjidan dalam Halal Bihalal Masjid Istihrar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembukaan Pengajian Dibuka Dengan Cara Melompat Tanpa Suara</title>
		<link>https://suntara.or.id/diatas-lantai-papan-masjid-raya-pembukaan-pengajian-dibuka-dengan-cara-melompat-tanpa-suara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2026 13:02:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2147</guid>

					<description><![CDATA[<p>𝘽𝙚𝙧𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙞, 𝙐𝙨𝙩𝙖𝙙𝙯 𝙄𝙠𝙝𝙬𝙖𝙣 𝙎𝙮𝙖𝙝𝙡𝙖𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙬𝙖𝙡𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙥𝙖𝙨𝙘𝙖 𝙡𝙞𝙗𝙪𝙧 𝙍𝙖𝙢𝙖𝙙𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙩𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙤𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙟𝙪𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙧𝙞 𝙟𝙚𝙢𝙥𝙤𝙡 𝙠𝙖𝙠𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙢𝙗𝙪𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙞 𝙡𝙖𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙥𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙨𝙟𝙞𝙙 𝙍𝙖𝙮𝙖 1928 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙞. Puluhan anak tampak hadir memenuhi ruang pengajian yang berlantai papan. Karakter lantai yang mudah berbunyi menjadi bagian dari metode pembelajaran yang diterapkan malam itu. Alih-alih langsung [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/diatas-lantai-papan-masjid-raya-pembukaan-pengajian-dibuka-dengan-cara-melompat-tanpa-suara/">Pembukaan Pengajian Dibuka Dengan Cara Melompat Tanpa Suara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>𝘽𝙚𝙧𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙞, 𝙐𝙨𝙩𝙖𝙙𝙯 𝙄𝙠𝙝𝙬𝙖𝙣 𝙎𝙮𝙖𝙝𝙡𝙖𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙬𝙖𝙡𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙥𝙖𝙨𝙘𝙖 𝙡𝙞𝙗𝙪𝙧 𝙍𝙖𝙢𝙖𝙙𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙩𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙤𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙟𝙪𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙧𝙞 𝙟𝙚𝙢𝙥𝙤𝙡 𝙠𝙖𝙠𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙢𝙗𝙪𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙞 𝙡𝙖𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙥𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙨𝙟𝙞𝙙 𝙍𝙖𝙮𝙖 1928 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙞.</p>
<p>Puluhan anak tampak hadir memenuhi ruang pengajian yang berlantai papan. Karakter lantai yang mudah berbunyi menjadi bagian dari metode pembelajaran yang diterapkan malam itu.</p>
<p>Alih-alih langsung memulai dengan membaca Iqra’ atau hafalan, Ikhwan meminta seluruh anak berdiri dan mencoba melompat.</p>
<p>“Coba melompat, tapi gunakan ujung jari jempol kaki, dan jangan sampai terdengar suara,” ujarnya.</p>
<p>Instruksi tersebut sempat memancing tawa. Beberapa anak langsung mencoba, namun bunyi keras dari lantai papan masih terdengar. Setelah beberapa kali percobaan, anak-anak mulai memahami teknik yang dimaksud—mendarat perlahan dengan tumpuan pada ujung jari jempol untuk meredam suara.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2152" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/04/Logopit_1775135054618-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/04/Logopit_1775135054618-300x199.jpg 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/04/Logopit_1775135054618-768x509.jpg 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/04/Logopit_1775135054618.jpg 900w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Suasana pun berubah dari riuh menjadi lebih fokus. Anak-anak terlihat berusaha mengontrol gerakan tubuh, menahan beban saat mendarat agar tidak menimbulkan bunyi yang mengganggu.</p>
<p>Menurut Ikhwan Syahlani, latihan tersebut memiliki tujuan sederhana namun mendalam.</p>
<p>“Ini latihan kecil agar anak-anak terbiasa berhati-hati dalam bergerak. Kalau jatuh saja bisa kita atur supaya tidak ribut, apalagi dalam sikap dan perilaku sehari-hari,” jelasnya.</p>
<p>Ia menambahkan bahwa pengajian tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga pembentukan adab dan pengendalian diri sejak dini.</p>
<p>Setelah sesi latihan, kegiatan dilanjutkan dengan pembelajaran seperti biasa. Namun suasana terlihat lebih tertib, dengan anak-anak yang lebih tenang dan memperhatikan.</p>
<p>Sejumlah orang tua yang hadir menilai metode tersebut efektif dan mudah dipahami anak-anak. Pendekatan praktis yang langsung dirasakan dinilai mampu memberikan kesan yang lebih kuat dibandingkan sekadar penjelasan teoritis.</p>
<p>Pembukaan pengajian di Masjid Raya Berastagi itu menjadi contoh bahwa inovasi dalam metode pembelajaran keagamaan dapat dilakukan dengan cara sederhana. Melalui “lompatan senyap”, nilai kehati-hatian dan ketenangan ditanamkan sejak awal—bahkan sebelum anak-anak mulai membaca.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/diatas-lantai-papan-masjid-raya-pembukaan-pengajian-dibuka-dengan-cara-melompat-tanpa-suara/">Pembukaan Pengajian Dibuka Dengan Cara Melompat Tanpa Suara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cahaya Kebenaran dan Penyembuh Jiwa</title>
		<link>https://suntara.or.id/cahaya-kebenaran-dan-penyembuh-jiwa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kabibur]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 00:27:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru Hari Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Ipari]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenag]]></category>
		<category><![CDATA[Pena Dai Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Penyiar Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Penyuluh Agama Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2107</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rabu. 11 Maret 2026 &#8211; Peringatan Nuzulul Qur&#8217;an Kementerian Agama Kabupaten Lamongan Di antara ayat-ayat yang sangat kuat maknanya dalam Surah Al-Isrā’ terdapat dua ayat yang sering dijadikan dasar refleksi oleh para ulama: ayat tentang datangnya kebenaran dan lenyapnya kebatilan, serta ayat tentang Al-Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat. Kedua ayat ini bukan hanya menjelaskan fungsi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/cahaya-kebenaran-dan-penyembuh-jiwa/">Cahaya Kebenaran dan Penyembuh Jiwa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://suntara.or.id/cahaya-kebenaran-dan-penyembuh-jiwa/img_20260311_172115/" rel="attachment wp-att-2108"><img decoding="async" class="size-full wp-image-2108" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_172115-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1441" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_172115-scaled.jpg 2560w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_172115-300x169.jpg 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_172115-1024x576.jpg 1024w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_172115-768x432.jpg 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_172115-1536x864.jpg 1536w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_172115-2048x1153.jpg 2048w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></a></p>
<h2><span style="font-size: 16px">Rabu. 11 Maret 2026 &#8211; Peringatan Nuzulul Qur&#8217;an Kementerian Agama Kabupaten Lamongan</span></h2>
<p>Di antara ayat-ayat yang sangat kuat maknanya dalam Surah Al-Isrā’ terdapat dua ayat yang sering dijadikan dasar refleksi oleh para ulama: ayat tentang <strong>datangnya kebenaran dan lenyapnya kebatilan</strong>, serta ayat tentang <strong>Al-Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat</strong>. Kedua ayat ini bukan hanya menjelaskan fungsi wahyu, tetapi juga menggambarkan bagaimana kebenaran bekerja dalam sejarah dan bagaimana Al-Qur’an berperan dalam memperbaiki kehidupan manusia.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p><strong>وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا</strong></p>
<p>“Katakanlah: telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”</p>
<p>Dalam penjelasan para ulama tafsir, kata <strong>الحق (al-ḥaqq)</strong> di sini dipahami sebagai <strong>kebenaran yang dibawa oleh wahyu</strong>, yaitu Islam itu sendiri. Kebenaran bukan hanya sekadar ide atau konsep, tetapi merupakan realitas yang datang membawa petunjuk hidup yang lurus. Ketika wahyu turun dan ajaran Islam ditegakkan, maka kebenaran itu memasuki kehidupan manusia secara nyata.</p>
<p>Sebaliknya, <strong>الباطل (al-bāṭil)</strong> mencakup segala bentuk kesesatan: penyembahan berhala, keyakinan yang salah, tipu daya setan, serta sistem hidup yang menyimpang dari petunjuk Allah. Menariknya, Al-Qur’an menggunakan kata <strong>زَهَقَ (zahqa)</strong> untuk menggambarkan lenyapnya kebatilan. Kata ini dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang <strong>hilang dengan cepat dan tidak memiliki daya tahan</strong>.</p>
<p>Para mufassir menjelaskan bahwa kebatilan pada hakikatnya tidak memiliki fondasi yang kuat. Ia mungkin tampak besar dan berkuasa dalam suatu masa, tetapi keberadaannya bersifat rapuh. Begitu kebenaran muncul dengan jelas, kebatilan akan runtuh dengan sendirinya. Karena itu ayat ini diakhiri dengan penegasan: <strong>إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا</strong> — sesungguhnya kebatilan memang diciptakan untuk lenyap.</p>
<p>Ayat ini juga memiliki makna sejarah. Ketika Nabi Muhammad ﷺ memasuki kota Makkah pada peristiwa Fathu Makkah, beliau menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka‘bah sambil membaca ayat ini. Peristiwa tersebut menjadi simbol bahwa ketika cahaya tauhid datang, segala bentuk kesyirikan dan kebatilan tidak lagi memiliki tempat.</p>
<p>Namun kemenangan kebenaran tidak hanya terjadi dalam sejarah besar umat manusia. Ayat ini juga berlaku dalam kehidupan batin setiap manusia. Ketika cahaya iman masuk ke dalam hati, maka berbagai bentuk kebatilan dalam diri—seperti kesombongan, hawa nafsu, dan keraguan—akan perlahan memudar.</p>
<p>Setelah menjelaskan kemenangan kebenaran, Al-Qur’an melanjutkan dengan ayat berikut:</p>
<p><strong>وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ<br />
وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا</strong></p>
<p>“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman, dan Al-Qur’an itu tidak menambah bagi orang-orang zalim selain kerugian.”</p>
<p>Ayat ini menjelaskan fungsi Al-Qur’an sebagai <strong>syifā’ (penyembuh)</strong>. Dalam penafsiran ulama, penyembuhan ini mencakup dua dimensi: penyembuhan hati dan penyembuhan kehidupan. Hati manusia sering dipenuhi oleh berbagai penyakit batin seperti keraguan, kecemasan, kesombongan, iri hati, dan kegelisahan. Al-Qur’an datang membawa petunjuk yang membersihkan hati dari penyakit-penyakit tersebut. Melalui ayat-ayatnya, manusia diajak mengenal Allah, memahami tujuan hidup, dan menemukan ketenangan dalam ibadah.</p>
<p>Selain sebagai penyembuh, Al-Qur’an juga disebut sebagai <strong>rahmat</strong> bagi orang-orang beriman. Rahmat di sini berarti bahwa Al-Qur’an menjadi sumber kebaikan yang luas bagi kehidupan manusia. Ia memberikan pedoman moral, aturan sosial, serta panduan spiritual yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an, manusia tidak hanya memperoleh ketenangan batin, tetapi juga membangun masyarakat yang adil dan berakhlak.</p>
<p>Namun ayat ini juga mengandung peringatan yang mendalam: wahyu yang sama tidak selalu membawa manfaat bagi semua orang. Bagi orang yang zalim—yaitu mereka yang menolak kebenaran dengan kesombongan—Al-Qur’an justru menambah kerugian mereka. Hal ini terjadi karena ketika seseorang menutup hatinya terhadap kebenaran, setiap ayat yang ia dengar justru memperkuat penolakannya. Bukan karena wahyu itu sendiri buruk, tetapi karena hati yang keras tidak mampu menerima cahaya petunjuk.</p>
<p>Dengan demikian, dua ayat ini menggambarkan sebuah prinsip besar dalam kehidupan spiritual. Kebenaran memiliki kekuatan untuk mengalahkan kebatilan, tetapi kemenangan itu hanya dapat dirasakan oleh hati yang terbuka. Al-Qur’an adalah cahaya dan penyembuh, namun manfaatnya hanya akan dirasakan oleh mereka yang datang kepadanya dengan iman dan kerendahan hati.</p>
<p>Melalui dua ayat ini kita belajar bahwa perubahan besar dalam kehidupan manusia dimulai dari dua hal: hadirnya kebenaran dan kesiapan hati untuk menerimanya. Ketika wahyu dipahami dan dihayati, ia tidak hanya mengubah keyakinan seseorang, tetapi juga membersihkan jiwanya dan menuntunnya menuju kehidupan yang lebih bermakna.</p>
<figure id="attachment_2109" aria-describedby="caption-attachment-2109" style="width: 2560px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://suntara.or.id/cahaya-kebenaran-dan-penyembuh-jiwa/img_20260311_171704/" rel="attachment wp-att-2109"><img decoding="async" class="size-full wp-image-2109" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_171704-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1440" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_171704-scaled.jpg 2560w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_171704-300x169.jpg 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_171704-1024x576.jpg 1024w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_171704-768x432.jpg 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_171704-1536x864.jpg 1536w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260311_171704-2048x1152.jpg 2048w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2109" class="wp-caption-text">Ngaos sareng KH. Khoirul Anam (Dirut Al Kaukaba)</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_2110" aria-describedby="caption-attachment-2110" style="width: 1097px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://suntara.or.id/cahaya-kebenaran-dan-penyembuh-jiwa/neo-dpena_20260309_140041_0000/" rel="attachment wp-att-2110"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-2110" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/Neo-DPENA_20260309_140041_0000-scaled.png" alt="" width="1097" height="2560" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/Neo-DPENA_20260309_140041_0000-scaled.png 1097w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/Neo-DPENA_20260309_140041_0000-129x300.png 129w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/Neo-DPENA_20260309_140041_0000-439x1024.png 439w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/Neo-DPENA_20260309_140041_0000-768x1792.png 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/Neo-DPENA_20260309_140041_0000-658x1536.png 658w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/03/Neo-DPENA_20260309_140041_0000-878x2048.png 878w" sizes="(max-width: 1097px) 100vw, 1097px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2110" class="wp-caption-text">Dewan Pengurus Pusat Pena Da&#8217;i Nusantara, Inovator Audiobook Binwin dan Penyiar Hikmah TV</figcaption></figure>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/cahaya-kebenaran-dan-penyembuh-jiwa/">Cahaya Kebenaran dan Penyembuh Jiwa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
