<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kegiatan Penyuluh Arsip - Suntara</title>
	<atom:link href="https://suntara.or.id/category/kegiatan-penyuluh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Media kolaborasi Penyuluh Se-Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Jun 2026 00:50:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2025/06/cropped-ikon-logo-suntara-32x32.png</url>
	<title>Kegiatan Penyuluh Arsip - Suntara</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bos Goseh Ajak Semua Pihak Menahan Diri, Utamakan Ukhuwah di Tengah Polemik Gus Ipul dan Hamzah Sahal</title>
		<link>https://suntara.or.id/bos-goseh-ajak-semua-pihak-menahan-diri-utamakan-ukhuwah-di-tengah-polemik-gus-ipul-dan-hamzah-sahal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2026 00:07:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2240</guid>

					<description><![CDATA[<p>Polemik yang berkembang antara Menteri Sosial sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, dan pegiat media sosial sekaligus penulis, Hamzah Sahal, mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Di tengah dinamika yang terjadi, Founder Goseh, Ikhwan Syahlani, yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam di KUA Berastagi mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan semangat persaudaraan sebagaimana diajarkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/bos-goseh-ajak-semua-pihak-menahan-diri-utamakan-ukhuwah-di-tengah-polemik-gus-ipul-dan-hamzah-sahal/">Bos Goseh Ajak Semua Pihak Menahan Diri, Utamakan Ukhuwah di Tengah Polemik Gus Ipul dan Hamzah Sahal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Polemik yang berkembang antara Menteri Sosial sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, dan pegiat media sosial sekaligus penulis, Hamzah Sahal, mendapat perhatian dari berbagai kalangan.</p>
<p>Di tengah dinamika yang terjadi, Founder Goseh, Ikhwan Syahlani, yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam di KUA Berastagi mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan semangat persaudaraan sebagaimana diajarkan Nahdlatul Ulama (NU).</p>
<p>Menurut Ikhwan, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi maupun demokrasi. Namun, setiap perbedaan hendaknya disikapi dengan kepala dingin dan tetap mengedepankan adab serta etika dalam menyampaikan pendapat.</p>
<p>&#8220;NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia telah mengajarkan nilai-nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i&#8217;tidal (adil). Nilai-nilai ini penting untuk terus dijaga dalam menyikapi setiap perbedaan yang muncul,&#8221; kata Ikhwan Syahlani kepada media, Jumat (19/6/2026).</p>
<p>Masyarakat diharapkan tidak memperkeruh suasana dengan spekulasi maupun narasi yang berpotensi memperlebar jurang perbedaan. &#8220;Biarlah proses yang sedang berjalan diselesaikan melalui jalur yang telah disediakan oleh negara dan lembaga yang berwenang.</p>
<p>Kita semua perlu memberikan ruang bagi proses tersebut untuk berjalan secara objektif dan profesional,&#8221; ujarnya. Ikhwan mengatakan, kondisi bangsa saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan ekonomi, lapangan pekerjaan, hingga kebutuhan masyarakat terhadap stabilitas sosial. Karena itu, energi bangsa seharusnya diarahkan untuk membangun optimisme dan kerja sama.</p>
<p><img decoding="async" class="wp-image-2242 size-medium" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc-300x165.png" alt="" width="300" height="165" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc-300x165.png 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc-768x422.png 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc.png 900w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Ikhwan Syahlani, SHI&#8221;Kami yang berada di ujung Sumatera pun ikut merasakan energi negatif ketika muncul ketegangan yang berkepanjangan di ruang publik.</p>
<p>Padahal masyarakat saat ini membutuhkan banyak kabar baik, membutuhkan teladan persatuan, dan membutuhkan tokoh-tokoh yang mampu menjadi perekat bangsa,&#8221; katanya.</p>
<p>Sebagai pelaku usaha digital lokal yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat, Ikhwan mengaku memahami pentingnya menjaga suasana yang kondusif. Menurutnya, seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan dan menghindari polarisasi yang tidak produktif.</p>
<p>&#8220;Semua pihak harus tetap profesional menjalankan tugas dan pengabdiannya masing-masing. Para ulama, tokoh masyarakat, pejabat negara, insan pers, aktivis media sosial, hingga pelaku usaha memiliki peran penting dalam menjaga ketenangan masyarakat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ikhwan juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh sampai menghilangkan rasa hormat antar sesama. Dalam tradisi NU, musyawarah dan tabayun selalu menjadi jalan utama untuk menyelesaikan persoalan.</p>
<p>&#8220;Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai kehilangan ukhuwah. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan yang merugikan umat dan bangsa,&#8221; katanya.</p>
<p>Ikhwan Syahlani merupakan Founder Goseh, sebuah platform transportasi dan layanan digital lokal yang beroperasi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.</p>
<p>Melalui Goseh, ia bersama ratusan mitra pengemudi berupaya mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui pemanfaatan teknologi digital. Aplikasi Goseh saat ini tersedia untuk perangkat Android melalui <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.myGoseh.Goseh&amp;hl=id&amp;utm_source=chatgpt.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">Google Play Store Goseh</a> dan perangkat iOS melalui <a href="https://apps.apple.com/id/app/goseh/id6746654566?utm_source=chatgpt.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">App Store Goseh</a>.</p>
<p>Menutup pernyataannya, Ikhwan berharap seluruh pihak dapat kembali fokus pada agenda-agenda besar kemasyarakatan yang lebih bermanfaat bagi umat.</p>
<p>&#8220;Indonesia membutuhkan energi positif. Mari kita rawat persatuan, memperkuat silaturahim, dan bersama-sama membangun bangsa dengan semangat saling menghormati serta saling menguatkan,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/bos-goseh-ajak-semua-pihak-menahan-diri-utamakan-ukhuwah-di-tengah-polemik-gus-ipul-dan-hamzah-sahal/">Bos Goseh Ajak Semua Pihak Menahan Diri, Utamakan Ukhuwah di Tengah Polemik Gus Ipul dan Hamzah Sahal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menuju GOSEH Anniversary Ke-8 Di Sinabung Hills : Momentum Penyuluhan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal</title>
		<link>https://suntara.or.id/menuju-goseh-anniversary-ke-8-di-sinabung-hills-momentum-penyuluhan-dan-pemberdayaan-ekonomi-lokal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2026 13:57:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekraf]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2237</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perayaan ulang tahun ke-8 𝗚𝗢𝗦𝗘𝗛 yang akan diadakan di Sinabubg Hills Berastagi pada 18 Agustus tahun ini akan menjadi momen yang berbeda. Tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan perayaan atas perjalanan panjang perusahaan, GOSEH juga ingin menjadikan momentum ini sebagai sarana penyuluhan dan pemberdayaan ekonomi lokal yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Saat ini, pihak [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/menuju-goseh-anniversary-ke-8-di-sinabung-hills-momentum-penyuluhan-dan-pemberdayaan-ekonomi-lokal/">Menuju GOSEH Anniversary Ke-8 Di Sinabung Hills : Momentum Penyuluhan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perayaan ulang tahun ke-8 𝗚𝗢𝗦𝗘𝗛 yang akan diadakan di Sinabubg Hills Berastagi pada 18 Agustus tahun ini akan menjadi momen yang berbeda. Tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan perayaan atas perjalanan panjang perusahaan, GOSEH juga ingin menjadikan momentum ini sebagai sarana penyuluhan dan pemberdayaan ekonomi lokal yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.</p>
<p>Saat ini, pihak manajemen GOSEH terus mematangkan berbagai persiapan, termasuk melakukan koordinasi dan negosiasi dengan pihak hotel terkait fasilitas, kapasitas peserta, serta konsep acara yang akan diusung.</p>
<p>Pemilihan Sinabung Hills sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan. Berada di kawasan sejuk Berastagi dengan panorama alam yang indah, lokasi ini diharapkan mampu menghadirkan suasana yang nyaman sekaligus menginspirasi. Lebih dari sekadar tempat penyelenggaraan, Sinabung Hills akan menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan dan semangat untuk tumbuh bersama.</p>
<p>Mengusung tema pemberdayaan ekonomi, GOSEH ingin menghadirkan kegiatan penyuluhan yang memberikan wawasan kepada para mitra dan masyarakat mengenai peluang usaha di era digital. Berbagai materi akan diarahkan pada penguatan kapasitas pelaku usaha, pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan pendapatan, serta pentingnya membangun kolaborasi untuk menciptakan ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.</p>
<p>Selama delapan tahun perjalanan, GOSEH telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran layanan transportasi dan pengantaran berbasis aplikasi tidak hanya memudahkan mobilitas, tetapi juga membuka kesempatan kerja, memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM, serta mendorong tumbuhnya ekonomi lokal di berbagai daerah.</p>
<p>Karena itu, anniversary kali ini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, melainkan juga menjadi refleksi dan komitmen bersama untuk terus berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, GOSEH ingin membuktikan bahwa teknologi dan inovasi dapat berjalan seiring dengan upaya pemberdayaan ekonomi yang inklusif.</p>
<p>Menuju GOSEH Anniversary Ke-8 di Sinabung Hills, seluruh keluarga besar GOSEH bersiap menyambut sebuah perayaan yang bukan hanya meriah, tetapi juga penuh makna. Sebuah momentum untuk berbagi ilmu, memperkuat kolaborasi, dan bersama-sama membangun ekonomi lokal yang lebih tangguh di masa depan.</p>
<p>Delapan tahun melangkah bersama, delapan tahun tumbuh bersama, dan kini saatnya melangkah lebih jauh untuk memberdayakan ekonomi lokal demi kesejahteraan bersama.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/menuju-goseh-anniversary-ke-8-di-sinabung-hills-momentum-penyuluhan-dan-pemberdayaan-ekonomi-lokal/">Menuju GOSEH Anniversary Ke-8 Di Sinabung Hills : Momentum Penyuluhan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Arah Kiblat Sudah Menjamur, Masih Perlukah Tim Pengukur Kiblat?</title>
		<link>https://suntara.or.id/aplikasi-arah-kiblat-sudah-menjamur-masih-perlukah-tim-pengukur-kiblat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 08:13:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2234</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di zaman ketika hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi melalui telepon genggam, pertanyaan ini terasa semakin relevan: masih perlukah pengukuran arah kiblat dilakukan secara manual? Hari ini, cukup membuka aplikasi di smartphone, lalu dalam hitungan detik muncul panah yang menunjukkan arah Ka&#8217;bah. Bahkan banyak aplikasi salat, peta digital, hingga fitur bawaan ponsel yang mampu menampilkan arah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/aplikasi-arah-kiblat-sudah-menjamur-masih-perlukah-tim-pengukur-kiblat/">Aplikasi Arah Kiblat Sudah Menjamur, Masih Perlukah Tim Pengukur Kiblat?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di zaman ketika hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi melalui telepon genggam, pertanyaan ini terasa semakin relevan: masih perlukah pengukuran arah kiblat dilakukan secara manual?</p>
<p>Hari ini, cukup membuka aplikasi di smartphone, lalu dalam hitungan detik muncul panah yang menunjukkan arah Ka&#8217;bah. Bahkan banyak aplikasi salat, peta digital, hingga fitur bawaan ponsel yang mampu menampilkan arah kiblat secara instan. Di tengah kemudahan tersebut, sebagian masyarakat mungkin bertanya-tanya, mengapa masih ada petugas, penyuluh agama, atau tim falak yang datang ke masjid untuk melakukan pengukuran arah kiblat secara manual? Apakah itu sekadar tradisi yang belum ditinggalkan, atau memang masih diperlukan?</p>
<p>Pertanyaan ini menarik untuk dikaji. Sebab di satu sisi, teknologi memang telah memberikan kemudahan yang luar biasa. Namun di sisi lain, kemudahan tidak selalu identik dengan ketepatan.</p>
<p>Sebagian besar aplikasi arah kiblat bekerja dengan memanfaatkan GPS, kompas digital, dan sensor magnetik pada ponsel. Masalahnya, tidak semua perangkat memiliki tingkat akurasi yang sama. Gangguan medan magnet, posisi pengguna, kualitas sensor, hingga kesalahan kalibrasi dapat menyebabkan hasil yang ditampilkan meleset beberapa derajat. Untuk penggunaan pribadi, selisih kecil tersebut mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Namun untuk bangunan permanen seperti masjid, musala, atau pesantren, tingkat ketelitian tentu menjadi lebih penting.</p>
<p>Di sinilah pengukuran manual atau pengukuran teknis oleh ahli falak masih memiliki peran. Menariknya, istilah &#8220;manual&#8221; sebenarnya sering disalahpahami. Pengukuran arah kiblat yang dilakukan petugas saat ini bukan berarti menggunakan perkiraan atau metode tradisional semata. Banyak di antaranya justru memanfaatkan data astronomi, koordinat geografis, perangkat ukur modern, hingga metode Rashdul Kiblat yang secara ilmiah sangat akurat.</p>
<p>Dengan kata lain, yang dilakukan bukanlah pertarungan antara metode lama melawan teknologi baru. Yang terjadi justru kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Lalu apakah setiap rumah harus diukur ulang secara manual? Tentu tidak. Untuk kebutuhan ibadah sehari-hari, aplikasi arah kiblat yang terpercaya umumnya sudah sangat membantu. Namun untuk pembangunan atau penetapan arah kiblat masjid dan musala yang akan digunakan masyarakat dalam jangka panjang, proses verifikasi dan pengukuran yang lebih akurat tetap diperlukan.</p>
<p>Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah &#8220;Apakah pengukuran manual masih relevan?&#8221; melainkan &#8220;Seberapa penting tingkat akurasi yang kita butuhkan?&#8221;</p>
<p>Karena pada akhirnya, teknologi memang memudahkan kita menemukan arah kiblat. Tetapi ketelitian dalam memastikan arah tersebut tetap menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadapkan diri ke tempat yang sama: Ka&#8217;bah di Makkah. Dan dalam urusan ibadah, terkadang yang dicari bukan hanya kemudahan, melainkan juga keyakinan.</p>
<p>Di era digital ini, aplikasi boleh menjadi penunjuk jalan. Namun ilmu falak dan pengukuran yang tepat tetap menjadi kompas yang memastikan kita tidak sekadar mengikuti arah, tetapi juga memahami alasan di baliknya. Sebab teknologi dapat berubah setiap tahun, tetapi kebutuhan akan kepastian dan ketepatan akan selalu relevan sepanjang zaman.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/aplikasi-arah-kiblat-sudah-menjamur-masih-perlukah-tim-pengukur-kiblat/">Aplikasi Arah Kiblat Sudah Menjamur, Masih Perlukah Tim Pengukur Kiblat?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Zona Kolaborasi: Gagasan Sederhana untuk Dampak Penyuluhan yang Lebih Besar</title>
		<link>https://suntara.or.id/zona-kolaborasi-gagasan-sederhana-untuk-dampak-penyuluhan-yang-lebih-besar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2026 11:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2226</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah tantangan penyuluhan agama yang semakin kompleks, kolaborasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Kabupaten Karo dengan kondisi geografis yang luas, karakter masyarakat yang beragam, serta sebaran wilayah binaan yang cukup jauh sering kali membuat sebagian penyuluh bekerja dalam ruang yang terbatas. Tidak sedikit yang harus menjalankan tugasnya secara mandiri dengan segala keterbatasan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/zona-kolaborasi-gagasan-sederhana-untuk-dampak-penyuluhan-yang-lebih-besar/">Zona Kolaborasi: Gagasan Sederhana untuk Dampak Penyuluhan yang Lebih Besar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah tantangan penyuluhan agama yang semakin kompleks, kolaborasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Kabupaten Karo dengan kondisi geografis yang luas, karakter masyarakat yang beragam, serta sebaran wilayah binaan yang cukup jauh sering kali membuat sebagian penyuluh bekerja dalam ruang yang terbatas. Tidak sedikit yang harus menjalankan tugasnya secara mandiri dengan segala keterbatasan yang ada.</p>
<p>Dalam sebuah diskusi dan obrolan santai bersama Kepala KUA Berastagi, Bapak H. Fahmi Sahuddin Tarigan, muncul sebuah gagasan menarik yang patut dipertimbangkan sebagai langkah penguatan penyuluhan agama di Kabupaten Karo. Gagasan tersebut adalah membagi wilayah penyuluhan ke dalam beberapa zona berdasarkan kecamatan. Misalnya, Kabupaten Karo dibagi menjadi empat zona yang masing-masing terdiri dari beberapa kecamatan yang berdekatan.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2227" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/Logopit_1780829612259-300x169.jpg" alt="" width="300" height="169" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/Logopit_1780829612259-300x169.jpg 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/Logopit_1780829612259-768x432.jpg 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/Logopit_1780829612259.jpg 800w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Sekilas, ide ini tampak sederhana. Namun jika dikelola dengan baik, dampaknya bisa sangat besar. Pembagian zona bukan hanya soal membagi wilayah kerja, melainkan membangun ekosistem kolaborasi yang lebih kuat di antara para penyuluh.</p>
<p>Melalui sistem zona, penyuluh tidak lagi merasa bekerja sendiri. Setiap program dapat dirancang dan dilaksanakan secara bersama-sama. Kegiatan pembinaan masyarakat, sosialisasi program pemerintah, edukasi keluarga sakinah, moderasi beragama, hingga pendampingan sertifikasi halal dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan efektif.</p>
<p>Lebih dari itu, zona penyuluhan dapat menjadi ruang bertukar gagasan dan pengalaman. Setiap penyuluh memiliki kelebihan, pendekatan, dan pengalaman yang berbeda. Ketika mereka berada dalam satu wadah kolaborasi yang terstruktur, maka akan lahir berbagai inovasi yang mungkin tidak muncul jika bekerja secara individual.</p>
<p>Sistem ini juga membuka peluang lahirnya program-program unggulan di setiap zona. Ada zona yang fokus pada pemberdayaan ekonomi umat, ada yang mengembangkan pembinaan generasi muda, ada pula yang menjadi model penguatan keluarga dan masyarakat. Keberhasilan di satu zona dapat menjadi inspirasi bagi zona lainnya.</p>
<p>Pada akhirnya, tujuan terbesar dari gagasan ini bukan sekadar membagi wilayah kerja. Tujuannya adalah membangun kebersamaan, memperkuat koordinasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.</p>
<p>Kabupaten Karo memiliki banyak penyuluh yang kompeten, berdedikasi, dan memiliki semangat pengabdian yang tinggi. Yang dibutuhkan hanyalah sebuah sistem yang mampu menyatukan energi tersebut dalam satu gerakan bersama. Mungkin, pembentukan zona penyuluhan adalah salah satu langkah kecil yang dapat melahirkan perubahan besar bagi masa depan penyuluhan agama Islam di Kabupaten Karo. Karena ketika para penyuluh bergerak bersama, manfaatnya akan jauh lebih luas daripada ketika mereka berjalan sendiri-sendiri.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/zona-kolaborasi-gagasan-sederhana-untuk-dampak-penyuluhan-yang-lebih-besar/">Zona Kolaborasi: Gagasan Sederhana untuk Dampak Penyuluhan yang Lebih Besar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perkuat Ekonomi Lokal, GOSEH Luncurkan Diskon Ongkir Hingga 60 Persen</title>
		<link>https://suntara.or.id/perkuat-ekonomi-goseh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 13:56:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2220</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, kemajuan teknologi akan lebih bermakna apabila mampu menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu upaya yang patut diapresiasi adalah hadirnya aplikasi GOSEH, sebuah layanan delivery yang berfokus pada penguatan potensi ekonomi lokal. Dalam perspektif penyuluhan agama [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/perkuat-ekonomi-goseh/">Perkuat Ekonomi Lokal, GOSEH Luncurkan Diskon Ongkir Hingga 60 Persen</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, kemajuan teknologi akan lebih bermakna apabila mampu menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu upaya yang patut diapresiasi adalah hadirnya aplikasi GOSEH, sebuah layanan delivery yang berfokus pada penguatan potensi ekonomi lokal.</p>
<p>Dalam perspektif penyuluhan agama Islam, pembangunan ekonomi tidak hanya bertujuan meningkatkan keuntungan, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Islam mengajarkan pentingnya bekerja, berdagang secara jujur, serta saling mendukung dalam aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat luas bagi umat.</p>
<p>GOSEH hadir sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan pelaku usaha lokal. Melalui platform ini, produk-produk UMKM dapat lebih mudah dikenal dan dijangkau oleh konsumen. Kemudahan akses tersebut membuka peluang peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha sekaligus memperluas pilihan bagi masyarakat untuk menikmati produk lokal.</p>
<p>Lebih dari sekadar layanan antar, GOSEH memiliki potensi menciptakan perputaran ekonomi yang tetap berada di daerah. Setiap transaksi yang terjadi tidak hanya memberikan manfaat kepada pemilik usaha, tetapi juga kepada pengemudi, pemasok bahan baku, dan berbagai pihak yang terlibat dalam rantai ekonomi lokal. Semakin besar perputaran ekonomi di tingkat lokal, semakin kuat pula daya tahan ekonomi masyarakat.</p>
<p>Dalam konteks penyuluhan ekonomi keumatan, mendukung UMKM lokal merupakan bentuk nyata dari semangat ta&#8217;awun atau saling membantu. Ketika masyarakat memilih membeli produk dari usaha lokal, sesungguhnya mereka sedang berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah.</p>
<p>Digitalisasi juga menjadi peluang bagi UMKM untuk berkembang tanpa harus menghadapi biaya promosi yang besar. Dengan memanfaatkan platform seperti GOSEH, pelaku usaha dapat menjangkau lebih banyak pelanggan, meningkatkan kualitas layanan, dan beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin akrab dengan teknologi.</p>
<p>Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang datang dari luar, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengembangkan dan mendukung potensi yang dimiliki sendiri. GOSEH merupakan salah satu contoh bagaimana teknologi dapat digunakan sebagai sarana pemberdayaan ekonomi keumatan, memperkuat UMKM lokal, serta menumbuhkan semangat gotong royong ekonomi demi terwujudnya kesejahteraan bersama.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/perkuat-ekonomi-goseh/">Perkuat Ekonomi Lokal, GOSEH Luncurkan Diskon Ongkir Hingga 60 Persen</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Refleksi Setahun SUNTARA, Kerinduan Akan Ruang Bersama</title>
		<link>https://suntara.or.id/refleksi-setahun-suntara-kerinduan-akan-ruang-bersama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 16:10:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2206</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah derasnya perubahan sosial, penyuluh agama sesungguhnya memikul tugas yang semakin berat. Mereka bukan hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat bertanya, mengadu, bahkan mencari ketenangan di tengah keadaan yang sering tidak menentu. Namun di balik peran itu, para penyuluh kerap bekerja dalam ruang yang sunyi: bergerak sendiri-sendiri, sibuk dengan wilayah binaan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/refleksi-setahun-suntara-kerinduan-akan-ruang-bersama/">Refleksi Setahun SUNTARA, Kerinduan Akan Ruang Bersama</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah derasnya perubahan sosial, penyuluh agama sesungguhnya memikul tugas yang semakin berat. Mereka bukan hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat bertanya, mengadu, bahkan mencari ketenangan di tengah keadaan yang sering tidak menentu. Namun di balik peran itu, para penyuluh kerap bekerja dalam ruang yang sunyi: bergerak sendiri-sendiri, sibuk dengan wilayah binaan masing-masing, dan jarang memiliki ruang yang benar-benar mempertemukan pengalaman maupun kegelisahan mereka sebagai sesama pelayan masyarakat.</p>
<p>Padahal tantangan yang dihadapi hampir serupa. Tentang masyarakat yang berubah cepat, generasi muda yang semakin jauh dari ruang-ruang pembinaan, persoalan sosial yang semakin rumit, hingga tuntutan administrasi yang sering menguras tenaga. Banyak gagasan baik lahir di lapangan, tetapi tidak sempat berkembang karena berhenti di daerahnya masing-masing. Tidak ada cukup ruang untuk saling belajar, saling menyambung pengalaman, atau sekadar mengetahui bahwa di tempat lain ada orang-orang yang sedang berjuang dengan keresahan yang sama.</p>
<p>Dari kegelisahan itulah setahun lalu saya pernah percaya bahwa jarak antar penyuluh agama di negeri ini sebenarnya bisa dipendekkan. Bukan dengan perjalanan dinas, bukan pula lewat forum-forum seremonial, melainkan melalui sebuah ruang bersama yang memungkinkan orang-orang saling bertemu pikiran, pengalaman, dan keresahan. Dari keyakinan kecil itu lahirlah sebuah gagasan bernama <strong>Suntara (Suluh Nusantara)</strong>.</p>
<figure id="attachment_2208" aria-describedby="caption-attachment-2208" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-2208 size-medium" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/05/vr-300x200.png" alt="" width="300" height="200" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/05/vr-300x200.png 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/05/vr.png 651w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-2208" class="wp-caption-text">Dokumentasi Launching Suntara</figcaption></figure>
<p>Nama itu terdengar besar. Mungkin terlalu besar untuk sesuatu yang lahir dari kegelisahan sederhana: melihat para penyuluh bekerja dalam kesunyian masing-masing. Kita sering berada di tengah masyarakat, berbicara tentang persaudaraan, gotong royong, dan pentingnya saling menguatkan. Tetapi sesama penyuluh sendiri kerap berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing sibuk dengan wilayah binaannya, programnya, laporannya, dan persoalan masyarakat yang datang silih berganti tanpa jeda.</p>
<p>Padahal sering kali masalah yang dihadapi serupa. Tentang remaja yang kehilangan arah. Tentang keluarga yang rapuh. Tentang masyarakat yang semakin mudah bertengkar karena hal-hal kecil. Tentang bagaimana agama kadang hanya berhenti sebagai ceramah, belum menjadi pelukan sosial. Saya membayangkan, jika pengalaman-pengalaman kecil dari berbagai daerah itu dipertemukan, mungkin akan lahir kekuatan yang lebih besar. Akan ada penyuluh yang tidak lagi merasa sendirian menghadapi keadaan. Tetapi perjalanan setahun ini mengajarkan hal lain: manusia ternyata tidak cukup dipertemukan hanya dengan teknologi.</p>
<p>Ada hal-hal yang jauh lebih rumit daripada membuat platform atau membangun sistem. Yakni membangun rasa percaya, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa mendengar orang lain juga penting di tengah kesibukan diri sendiri. Saya mulai menyadari, mungkin selama ini saya terlalu sibuk membangun sesuatu yang menurut saya dibutuhkan, tetapi belum cukup lama duduk untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan para penyuluh di lapangan. Mungkin mereka tidak selalu membutuhkan ruang besar dengan gagasan yang tinggi. Kadang yang dibutuhkan hanya tempat sederhana untuk saling bertanya, saling mengabari, atau sekadar merasa bahwa ada orang lain yang memahami lelah yang sama.</p>
<p>Suntara mungkin belum tumbuh seperti yang saya bayangkan. Bahkan mungkin masih tertatih mencari bentuknya sendiri. Tetapi kegelisahan yang melahirkannya belum benar-benar hilang. Sebab sampai hari ini saya masih percaya: kita tidak kekurangan orang-orang baik. Kita hanya terlalu jarang dipertemukan.</p>
<p>Ikhwan Syahlani, SHI., Penyuluh Agama Islam KUA Berastagi, Kabupaten Karo Smatera Utara</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/refleksi-setahun-suntara-kerinduan-akan-ruang-bersama/">Refleksi Setahun SUNTARA, Kerinduan Akan Ruang Bersama</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berebut Mimbar di Hari Besar, Dakwah Berubah Jadi Ajang Gelar</title>
		<link>https://suntara.or.id/berebut-mimbar-di-hari-besar-dakwah-berubah-jadi-ajang-gelar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 06:41:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2201</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap tahun, menjelang hari-hari besar Islam seperti Idul Adha atau Idul Fitri, ada satu fenomena yang diam-diam terus berulang di tengah masyarakat. Bukan tentang persiapan kurban, bukan tentang semangat berbagi, melainkan tentang perebutan mimbar. Ada yang kecewa karena tidak ditunjuk menjadi khatib. Ada yang merasa lebih pantas menjadi imam. Ada yang tersinggung karena namanya tidak [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berebut-mimbar-di-hari-besar-dakwah-berubah-jadi-ajang-gelar/">Berebut Mimbar di Hari Besar, Dakwah Berubah Jadi Ajang Gelar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 16px;">Setiap tahun, menjelang hari-hari besar Islam seperti Idul Adha atau Idul Fitri, ada satu fenomena yang diam-diam terus berulang di tengah masyarakat. Bukan tentang persiapan kurban, bukan tentang semangat berbagi, melainkan tentang perebutan mimbar. Ada yang kecewa karena tidak ditunjuk menjadi khatib. Ada yang merasa lebih pantas menjadi imam. Ada yang tersinggung karena namanya tidak masuk dalam susunan petugas hari raya. Bahkan tidak jarang muncul kelompok-kelompok kecil yang saling menjauh hanya karena urusan siapa yang berdiri di podium.</span></p>
<p>Ironisnya, semua itu terjadi di atas nama dakwah.</p>
<p>Padahal dakwah tidak pernah sesempit pengeras suara masjid. Dakwah juga tidak hanya hidup di atas mimbar megah atau di hadapan ribuan jamaah. Jika dakwah hanya dipahami sebagai kesempatan berbicara di depan umum, maka kita sedang memperkecil makna Islam itu sendiri.</p>
<p>Hari ini, sebagian orang mulai mengukur keberhasilan dakwah dari seberapa besar masjid tempat ia berceramah, seberapa banyak jamaah yang hadir, atau seberapa sering namanya disebut panitia. Akibatnya, mimbar berubah menjadi simbol prestise, bukan lagi amanah. Ketika kesempatan itu tidak didapatkan, lahirlah kekecewaan, persaingan, bahkan konflik yang kadang lebih besar daripada nilai dakwah yang ingin disampaikan.</p>
<p>Padahal Rasulullah ﷺ tidak membangun pengaruh hanya dari podium. Beliau berdakwah melalui akhlak, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian terhadap masyarakat. Banyak hati luluh bukan karena pidato panjang, tetapi karena keteladanan yang nyata.</p>
<p>Ada orang yang tidak pernah menjadi khatib Idul Adha, tetapi setiap hari membantu tetangga yang kesulitan. Ada yang tidak pernah berdiri di mimbar besar, tetapi membiayai anak yatim untuk sekolah. Ada yang suaranya tidak pernah terdengar di pengeras masjid, tetapi tutur katanya membuat keluarganya lebih dekat kepada agama. Bukankah itu juga dakwah?</p>
<p>Kita sering lupa bahwa masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan ceramah, tetapi juga contoh hidup. Dunia sudah terlalu penuh dengan orang yang pandai berbicara, namun kekurangan orang yang mampu menghadirkan ketenangan, kejujuran, dan kasih sayang dalam kehidupan nyata.</p>
<p>Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk merenung. Hari raya kurban mengajarkan tentang keikhlasan melepaskan ego. Nabi Ibrahim tidak mempertahankan keinginannya sendiri ketika diuji oleh Allah. Namun di zaman sekarang, kadang justru ego tumbuh di sekitar syiar agama. Kita rela berdebat demi posisi, tetapi lupa memperbaiki hati.</p>
<p>Mimbar hanyalah tempat. Dakwah yang sesungguhnya adalah bagaimana manusia menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan. Seorang pedagang yang jujur sedang berdakwah. Seorang ayah yang lembut kepada keluarganya sedang berdakwah. Seorang pemuda yang menjaga lisannya di media sosial juga sedang berdakwah.</p>
<p>Tidak semua orang harus berdiri di podium untuk menjadi jalan kebaikan.</p>
<p>Bisa jadi, suara yang paling didengar Allah bukan berasal dari mikrofon masjid terbesar, melainkan dari hati yang tulus membantu sesama tanpa ingin dipuji siapa pun.</p>
<p>Masyarakat perlu kembali memahami bahwa kemuliaan dalam dakwah bukan terletak pada siapa yang paling sering tampil, tetapi siapa yang paling ikhlas memberi manfaat. Sebab ketika dakwah berubah menjadi ajang perebutan panggung, maka yang hilang bukan hanya ketenangan umat, tetapi juga ruh keikhlasan itu sendiri.</p>
<p>Dan mungkin, di situlah letak ironi terbesar kita hari ini: terlalu sibuk mencari tempat untuk berbicara, sampai lupa menjadi teladan dalam kehidupan.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berebut-mimbar-di-hari-besar-dakwah-berubah-jadi-ajang-gelar/">Berebut Mimbar di Hari Besar, Dakwah Berubah Jadi Ajang Gelar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbisnis Lebih Menyenangkan Karena Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menjatuhkan</title>
		<link>https://suntara.or.id/berbisnis-lebih-menyenangkan-karena-bertumbuh-bersama-bukan-saling-menjatuhkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 16:17:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2196</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masjid Agung Kabanjahe,17/05 Kolaborasi antar pelaku usaha memiliki satu kelebihan utama: kita punya kepentingan yang sama, yaitu sama-sama ingin berkembang, mendapatkan pelanggan, meningkatkan penjualan, dan memperoleh keuntungan. Inilah salah satu hal menyenangkan menjadi pengusaha. Saat berkolaborasi dengan sesama pelaku usaha, tujuan kita biasanya lebih selaras. Pemilik usaha kuliner ingin dagangannya laku, platform digital ingin transaksi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berbisnis-lebih-menyenangkan-karena-bertumbuh-bersama-bukan-saling-menjatuhkan/">Berbisnis Lebih Menyenangkan Karena Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menjatuhkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Masjid Agung Kabanjahe,17/05 Kolaborasi antar pelaku usaha memiliki satu kelebihan utama: kita punya kepentingan yang sama, yaitu sama-sama ingin berkembang, mendapatkan pelanggan, meningkatkan penjualan, dan memperoleh keuntungan.</p>
<p>Inilah salah satu hal menyenangkan menjadi pengusaha. Saat berkolaborasi dengan sesama pelaku usaha, tujuan kita biasanya lebih selaras. Pemilik usaha kuliner ingin dagangannya laku, platform digital ingin transaksi meningkat, jasa pengantaran ingin order bertambah, dan konsumen ingin layanan yang mudah. Ketika semua terhubung dalam satu ekosistem, semua pihak sama-sama diuntungkan.</p>
<p>Sebaliknya, dalam banyak bentuk kerja sama lain, sering kali masing-masing pihak memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Ada yang fokus pada target pribadi, ada yang mengejar posisi, ada yang hanya menjalankan kewajiban. Akibatnya, energi yang dikeluarkan lebih banyak untuk menyamakan arah.</p>
<p>Kolaborasi bisnis lebih sederhana: kalau partner bertumbuh, kita juga ikut bertumbuh. Tidak ada alasan untuk menjatuhkan, karena keberhasilan satu pihak justru memperbesar peluang pihak lain.</p>
<p>Melalui ekonomi digital, kolaborasi ini semakin mudah dilakukan. UMKM kini bisa bekerja sama dengan aplikasi lokal, komunitas, reseller, supplier, hingga layanan delivery untuk memperluas pasar. Tidak harus besar untuk mulai berkolaborasi; yang penting punya visi yang sama dan komitmen untuk bertumbuh bersama.</p>
<p>Maka, mindset yang perlu dibangun pelaku UMKM hari ini bukan lagi “bagaimana saya menang sendiri”, tetapi bagaimana kita bisa maju bersama dalam ekosistem yang saling menguntungkan.</p>
<p>Karena pada akhirnya, enaknya berusaha adalah saat kita tidak berjalan sendirian, tetapi bertumbuh bersama orang-orang yang punya tujuan yang sama: membangun usaha yang sehat, berkelanjutan, dan menguntungkan.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berbisnis-lebih-menyenangkan-karena-bertumbuh-bersama-bukan-saling-menjatuhkan/">Berbisnis Lebih Menyenangkan Karena Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menjatuhkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyuluh Karo Sampaikan Apresiasi Atas Suksesnya Raker Kanwil Kemenag Sumatera Utara</title>
		<link>https://suntara.or.id/penyuluh-karo-sampaikan-apresiasi-atas-suksesnya-raker-kanwil-kemenag-sumatera-utara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 07:14:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru Hari Ini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2189</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kabanjahe, 30 April 2026 — Rapat Kerja Wilayah Kantor yang telah berlangsung sejak Selasa, 28 April 2026, resmi berakhir dengan lancar dan sukses. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, yakni luring dan daring melalui Zoom, dan juga secara tatap muka sehingga memungkinkan partisipasi yang lebih luas dari berbagai unsur di lingkungan Kementerian Agama. Acara tersebut diikuti [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-karo-sampaikan-apresiasi-atas-suksesnya-raker-kanwil-kemenag-sumatera-utara/">Penyuluh Karo Sampaikan Apresiasi Atas Suksesnya Raker Kanwil Kemenag Sumatera Utara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kabanjahe, 30 April 2026</strong> — Rapat Kerja Wilayah Kantor yang telah berlangsung sejak Selasa, 28 April 2026, resmi berakhir dengan lancar dan sukses. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, yakni luring dan daring melalui Zoom, dan juga secara tatap muka sehingga memungkinkan partisipasi yang lebih luas dari berbagai unsur di lingkungan Kementerian Agama.</p>
<p>Acara tersebut diikuti oleh sejumlah peserta dari berbagai daerah di Sumatera Utara, termasuk para Penyuluh Agama Islam yang turut diundang mengikuti rangkaian kegiatan secara virtual. Kehadiran para penyuluh dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung program-program strategis kementerian, khususnya pada bidang pembinaan umat dan penguatan moderasi beragama.</p>
<p>Mewakili Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh), para Penyuluh Agama Islam Karo menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terselenggaranya Rapat Kerja Wilayah tersebut. Mereka berharap hasil rapat ini dapat menjadi pijakan kuat bagi kemajuan Kementerian Agama ke depan.</p>
<p>“Selamat dan sukses atas selesainya Rapat Kerja Wilayah Kantor Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara. Semoga hasil yang dirumuskan dapat membawa Kementerian Agama semakin maju, profesional, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” demikian pernyataan perwakilan Pokjaluh.</p>
<p>Rapat kerja wilayah ini diharapkan mampu menghasilkan berbagai kebijakan dan langkah strategis yang selaras dengan visi Kementerian Agama dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, penguatan tata kelola kelembagaan, serta pembangunan sumber daya manusia yang unggul.</p>
<p>Dengan berakhirnya kegiatan ini, seluruh peserta diharapkan dapat mengimplementasikan hasil rapat di unit kerja masing-masing demi tercapainya program-program prioritas Kementerian Agama di wilayah Sumatera Utara.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-karo-sampaikan-apresiasi-atas-suksesnya-raker-kanwil-kemenag-sumatera-utara/">Penyuluh Karo Sampaikan Apresiasi Atas Suksesnya Raker Kanwil Kemenag Sumatera Utara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyuluh KUA Berastagi Sosialisasikan Akses Program Beasiswa kepada Siswa SMK</title>
		<link>https://suntara.or.id/penyuluh-agama-islam-di-kua-berastagi-sosialisasikan-akses-program-beasiswa-kepada-siswa-smk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 04:11:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2185</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Berastagi berlangsung dengan penuh antusiasme. Kegiatan ini melibatkan para siswa SMK Al-Karomah Berastagi yang hadir untuk mendapatkan wawasan keagamaan sekaligus motivasi pendidikan. Dalam kesempatan tersebut, penyuluh agama Islam, Ikhwan Syahlani, secara khusus menekankan pentingnya pemanfaatan handphone sebagai sarana untuk mengakses berbagai program beasiswa yang tersedia [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-agama-islam-di-kua-berastagi-sosialisasikan-akses-program-beasiswa-kepada-siswa-smk/">Penyuluh KUA Berastagi Sosialisasikan Akses Program Beasiswa kepada Siswa SMK</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Berastagi berlangsung dengan penuh antusiasme. Kegiatan ini melibatkan para siswa SMK Al-Karomah Berastagi yang hadir untuk mendapatkan wawasan keagamaan sekaligus motivasi pendidikan.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, penyuluh agama Islam, Ikhwan Syahlani, secara khusus menekankan pentingnya pemanfaatan handphone sebagai sarana untuk mengakses berbagai program beasiswa yang tersedia di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa di era digital saat ini, informasi mengenai beasiswa sangat mudah ditemukan, sehingga para siswa diharapkan lebih aktif mencari peluang tersebut.</p>
<p>Ikhwan menjelaskan bahwa program beasiswa tidak hanya diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kurang mampu, tetapi juga terbuka luas bagi siswa yang memiliki kreativitas, inovasi, dan prestasi. Banyak lembaga, baik pemerintah maupun swasta, yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk melanjutkan pendidikan melalui berbagai skema beasiswa.</p>
<p>Lebih lanjut, ia mendorong para siswa untuk mulai membiasakan diri mencari informasi beasiswa sejak dini, memahami persyaratan yang dibutuhkan, serta mempersiapkan diri agar mampu bersaing. Menurutnya, kesungguhan dalam mencari dan memanfaatkan peluang beasiswa dapat menjadi jalan untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi tanpa terkendala biaya.</p>
<p>Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Materi yang disampaikan tidak hanya memberikan pemahaman keagamaan, tetapi juga membuka wawasan mereka tentang pentingnya pendidikan dan peluang yang dapat diraih melalui program beasiswa.</p>
<p>Melalui kegiatan ini, KUA Kecamatan Berastagi diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk lebih proaktif, cerdas dalam memanfaatkan teknologi, serta memiliki semangat tinggi dalam meraih masa depan melalui pendidikan.</p>
<p>Kiatan ini juga menjadi bagian dari inovasi yang dilakukan oleh KUA Kecamatan Berastagi dalam memperluas perannya di tengah masyarakat. KUA tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat pelayanan pernikahan, melainkan juga sebagai pusat edukasi dan pembinaan umat.</p>
<p>Melalui berbagai kegiatan penyuluhan, KUA turut berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, dengan memberikan wawasan keagamaan, motivasi pendidikan, serta informasi penting seperti akses program beasiswa dan pengembangan diri di era digital.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-agama-islam-di-kua-berastagi-sosialisasikan-akses-program-beasiswa-kepada-siswa-smk/">Penyuluh KUA Berastagi Sosialisasikan Akses Program Beasiswa kepada Siswa SMK</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
