<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kegiatan Penyuluh Arsip - Suntara</title>
	<atom:link href="https://suntara.or.id/category/kegiatan-penyuluh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Media kolaborasi Penyuluh Se-Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Apr 2026 07:14:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2025/06/cropped-ikon-logo-suntara-32x32.png</url>
	<title>Kegiatan Penyuluh Arsip - Suntara</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Penyuluh Karo Sampaikan Apresiasi Atas Suksesnya Raker Kanwil Kemenag Sumatera Utara</title>
		<link>https://suntara.or.id/penyuluh-karo-sampaikan-apresiasi-atas-suksesnya-raker-kanwil-kemenag-sumatera-utara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 07:14:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru Hari Ini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2189</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kabanjahe, 30 April 2026 — Rapat Kerja Wilayah Kantor yang telah berlangsung sejak Selasa, 28 April 2026, resmi berakhir dengan lancar dan sukses. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, yakni luring dan daring melalui Zoom, dan juga secara tatap muka sehingga memungkinkan partisipasi yang lebih luas dari berbagai unsur di lingkungan Kementerian Agama. Acara tersebut diikuti [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-karo-sampaikan-apresiasi-atas-suksesnya-raker-kanwil-kemenag-sumatera-utara/">Penyuluh Karo Sampaikan Apresiasi Atas Suksesnya Raker Kanwil Kemenag Sumatera Utara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kabanjahe, 30 April 2026</strong> — Rapat Kerja Wilayah Kantor yang telah berlangsung sejak Selasa, 28 April 2026, resmi berakhir dengan lancar dan sukses. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, yakni luring dan daring melalui Zoom, dan juga secara tatap muka sehingga memungkinkan partisipasi yang lebih luas dari berbagai unsur di lingkungan Kementerian Agama.</p>
<p>Acara tersebut diikuti oleh sejumlah peserta dari berbagai daerah di Sumatera Utara, termasuk para Penyuluh Agama Islam yang turut diundang mengikuti rangkaian kegiatan secara virtual. Kehadiran para penyuluh dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung program-program strategis kementerian, khususnya pada bidang pembinaan umat dan penguatan moderasi beragama.</p>
<p>Mewakili Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh), para Penyuluh Agama Islam Karo menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terselenggaranya Rapat Kerja Wilayah tersebut. Mereka berharap hasil rapat ini dapat menjadi pijakan kuat bagi kemajuan Kementerian Agama ke depan.</p>
<p>“Selamat dan sukses atas selesainya Rapat Kerja Wilayah Kantor Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara. Semoga hasil yang dirumuskan dapat membawa Kementerian Agama semakin maju, profesional, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” demikian pernyataan perwakilan Pokjaluh.</p>
<p>Rapat kerja wilayah ini diharapkan mampu menghasilkan berbagai kebijakan dan langkah strategis yang selaras dengan visi Kementerian Agama dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, penguatan tata kelola kelembagaan, serta pembangunan sumber daya manusia yang unggul.</p>
<p>Dengan berakhirnya kegiatan ini, seluruh peserta diharapkan dapat mengimplementasikan hasil rapat di unit kerja masing-masing demi tercapainya program-program prioritas Kementerian Agama di wilayah Sumatera Utara.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-karo-sampaikan-apresiasi-atas-suksesnya-raker-kanwil-kemenag-sumatera-utara/">Penyuluh Karo Sampaikan Apresiasi Atas Suksesnya Raker Kanwil Kemenag Sumatera Utara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyuluh KUA Berastagi Sosialisasikan Akses Program Beasiswa kepada Siswa SMK</title>
		<link>https://suntara.or.id/penyuluh-agama-islam-di-kua-berastagi-sosialisasikan-akses-program-beasiswa-kepada-siswa-smk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 04:11:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2185</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Berastagi berlangsung dengan penuh antusiasme. Kegiatan ini melibatkan para siswa SMK Al-Karomah Berastagi yang hadir untuk mendapatkan wawasan keagamaan sekaligus motivasi pendidikan. Dalam kesempatan tersebut, penyuluh agama Islam, Ikhwan Syahlani, secara khusus menekankan pentingnya pemanfaatan handphone sebagai sarana untuk mengakses berbagai program beasiswa yang tersedia [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-agama-islam-di-kua-berastagi-sosialisasikan-akses-program-beasiswa-kepada-siswa-smk/">Penyuluh KUA Berastagi Sosialisasikan Akses Program Beasiswa kepada Siswa SMK</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Berastagi berlangsung dengan penuh antusiasme. Kegiatan ini melibatkan para siswa SMK Al-Karomah Berastagi yang hadir untuk mendapatkan wawasan keagamaan sekaligus motivasi pendidikan.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, penyuluh agama Islam, Ikhwan Syahlani, secara khusus menekankan pentingnya pemanfaatan handphone sebagai sarana untuk mengakses berbagai program beasiswa yang tersedia di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa di era digital saat ini, informasi mengenai beasiswa sangat mudah ditemukan, sehingga para siswa diharapkan lebih aktif mencari peluang tersebut.</p>
<p>Ikhwan menjelaskan bahwa program beasiswa tidak hanya diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kurang mampu, tetapi juga terbuka luas bagi siswa yang memiliki kreativitas, inovasi, dan prestasi. Banyak lembaga, baik pemerintah maupun swasta, yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk melanjutkan pendidikan melalui berbagai skema beasiswa.</p>
<p>Lebih lanjut, ia mendorong para siswa untuk mulai membiasakan diri mencari informasi beasiswa sejak dini, memahami persyaratan yang dibutuhkan, serta mempersiapkan diri agar mampu bersaing. Menurutnya, kesungguhan dalam mencari dan memanfaatkan peluang beasiswa dapat menjadi jalan untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi tanpa terkendala biaya.</p>
<p>Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Materi yang disampaikan tidak hanya memberikan pemahaman keagamaan, tetapi juga membuka wawasan mereka tentang pentingnya pendidikan dan peluang yang dapat diraih melalui program beasiswa.</p>
<p>Melalui kegiatan ini, KUA Kecamatan Berastagi diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk lebih proaktif, cerdas dalam memanfaatkan teknologi, serta memiliki semangat tinggi dalam meraih masa depan melalui pendidikan.</p>
<p>Kiatan ini juga menjadi bagian dari inovasi yang dilakukan oleh KUA Kecamatan Berastagi dalam memperluas perannya di tengah masyarakat. KUA tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat pelayanan pernikahan, melainkan juga sebagai pusat edukasi dan pembinaan umat.</p>
<p>Melalui berbagai kegiatan penyuluhan, KUA turut berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, dengan memberikan wawasan keagamaan, motivasi pendidikan, serta informasi penting seperti akses program beasiswa dan pengembangan diri di era digital.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-agama-islam-di-kua-berastagi-sosialisasikan-akses-program-beasiswa-kepada-siswa-smk/">Penyuluh KUA Berastagi Sosialisasikan Akses Program Beasiswa kepada Siswa SMK</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kartini Dirayakan, Rahmah Dilupakan?</title>
		<link>https://suntara.or.id/kartini-dirayakan-rahmah-dilupakan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 07:41:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru Hari Ini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2181</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebuah tulisan yang bersumber dari buku 𝗣𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵𝘂𝗹𝘂𝗶 𝗭𝗮𝗺𝗮𝗻, yang mengangkat perjuangan Rahmah El Yunusiyah dalam membangun pendidikan bagi perempuan. Setiap kali tiba, kita kembali disuguhi narasi klasik tentang emansipasi perempuan. Namun, sering kali semangat itu berhenti pada seremoni—lomba kebaya, kutipan inspiratif, dan unggahan media sosial. Di tengah euforia itu, membaca seperti sebuah tamparan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/kartini-dirayakan-rahmah-dilupakan/">Kartini Dirayakan, Rahmah Dilupakan?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah tulisan yang bersumber dari buku 𝗣𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵𝘂𝗹𝘂𝗶 𝗭𝗮𝗺𝗮𝗻, yang mengangkat perjuangan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Rahmah_El_Yunusiyah" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">Rahmah El Yunusiyah</a> dalam membangun pendidikan bagi perempuan.</p>
<p>Setiap kali tiba, kita kembali disuguhi narasi klasik tentang emansipasi perempuan. Namun, sering kali semangat itu berhenti pada seremoni—lomba kebaya, kutipan inspiratif, dan unggahan media sosial. Di tengah euforia itu, membaca seperti sebuah tamparan halus: bahwa perjuangan perempuan sejati tidak pernah berhenti di simbol, tetapi hidup dalam tindakan nyata.</p>
<p>Kisah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Rahmah_El_Yunusiyah" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">Rahmah El Yunusiyah</a> menghadirkan wajah lain dari emansipasi. Ia tidak sekadar berbicara tentang kesetaraan, tetapi menciptakan ruang nyata bagi perempuan untuk tumbuh. Di masa ketika perempuan bahkan belum dianggap penting dalam pendidikan formal, Rahmah justru melangkah lebih jauh, mendirikan sebuah institusi yang bukan hanya mendidik, tetapi juga membentuk karakter, kemandirian, dan kesadaran peran perempuan dalam masyarakat.</p>
<p>Yang menarik, perjuangan Rahmah tidak datang dengan retorika yang keras atau konfrontatif. Ia tidak melawan budaya dengan cara membakar jembatan, tetapi membangunnya kembali dengan fondasi yang lebih kuat. Ia memahami bahwa perubahan yang bertahan lama bukanlah yang gaduh, melainkan yang mengakar. Inilah pelajaran penting yang terasa relevan hari ini: bahwa kemajuan perempuan tidak harus identik dengan kehilangan nilai, dan keberanian tidak selalu berarti perlawanan yang bising.</p>
<p>Dalam konteks kekinian, kita hidup di zaman di mana akses pendidikan terbuka luas. Perempuan bisa bersekolah tinggi, berkarier, bahkan memimpin. Namun, pertanyaan kritisnya: apakah akses itu benar-benar dimanfaatkan untuk membangun kualitas, atau justru terjebak dalam ilusi pencapaian yang dangkal? Rahmah memberi jawaban yang tegas—bahwa pendidikan bukan sekadar gelar, melainkan alat untuk membentuk peradaban.</p>
<p>Di sisi lain, buku ini juga mengingatkan bahwa perjuangan perempuan bukan hanya tentang hak, tetapi juga tentang tanggung jawab. Rahmah tidak hanya memperjuangkan dirinya, tetapi generasi setelahnya. Ia tidak sekadar ingin “setara”, tetapi ingin “berarti”. Ini adalah pergeseran perspektif yang penting: dari sekadar menuntut ruang, menjadi mampu mengisi ruang itu dengan nilai.</p>
<p>Jika kita bandingkan dengan semangat , Rahmah bisa dilihat sebagai kelanjutan dari gagasan yang telah ditanamkan sebelumnya. Kartini membuka pintu melalui pemikiran, sementara Rahmah masuk dan membangun rumah di dalamnya. Keduanya mengajarkan satu hal yang sama: bahwa perubahan tidak cukup hanya diimpikan, tetapi harus diwujudkan.</p>
<p>Akhirnya, <strong>Perempuan yang Mendahului Zaman</strong> bukan sekadar kisah biografi. Ia adalah cermin. Ia mengajak kita bertanya dengan jujur: di tengah segala kemudahan hari ini, apakah kita sudah benar-benar melanjutkan perjuangan itu, atau justru hanya menikmatinya tanpa makna?</p>
<p>Hari Kartini seharusnya bukan tentang mengenang masa lalu, tetapi menguji diri di masa kini. Karena sejatinya, perempuan yang mendahului zaman bukanlah mereka yang hidup di masa lalu, melainkan mereka yang berani bertindak hari ini, untuk masa depan yang lebih baik.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/kartini-dirayakan-rahmah-dilupakan/">Kartini Dirayakan, Rahmah Dilupakan?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siapa Bilang Minoritas? Saatnya Umat Muslim Karo Mengubah Cara Pandang</title>
		<link>https://suntara.or.id/siapa-bilang-minoritas-saatnya-umat-muslim-karo-mengubah-cara-pandang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 10:05:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2178</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah keberagaman masyarakat di Kabupaten Karo, sering muncul pandangan bahwa umat Muslim adalah kelompok “minoritas” karena jumlahnya lebih sedikit dibandingkan umat Kristen Protestan. Secara statistik, anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru. Namun, jika kita berhenti hanya pada angka, kita berisiko menyederhanakan realitas sosial yang jauh lebih kompleks. Sudah saatnya konsep “minoritas” tidak semata-mata dilihat [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/siapa-bilang-minoritas-saatnya-umat-muslim-karo-mengubah-cara-pandang/">Siapa Bilang Minoritas? Saatnya Umat Muslim Karo Mengubah Cara Pandang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah keberagaman masyarakat di Kabupaten Karo, sering muncul pandangan bahwa umat Muslim adalah kelompok “minoritas” karena jumlahnya lebih sedikit dibandingkan umat Kristen Protestan. Secara statistik, anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru. Namun, jika kita berhenti hanya pada angka, kita berisiko menyederhanakan realitas sosial yang jauh lebih kompleks.</p>
<p>Sudah saatnya konsep “minoritas” tidak semata-mata dilihat dari kuantitas, melainkan juga dari kualitas. Sebab dalam kehidupan bermasyarakat, pengaruh, kontribusi, dan kapasitas suatu kelompok tidak selalu sejalan dengan jumlahnya.</p>
<h3>Minoritas: Perspektif yang Perlu Direvisi</h3>
<p>Pemaknaan minoritas yang hanya bertumpu pada angka sering kali melahirkan persepsi keterbatasan, seolah-olah kelompok tersebut memiliki ruang gerak yang sempit, pengaruh yang kecil, atau bahkan peran yang tidak signifikan. Padahal, sejarah dan realitas sosial menunjukkan bahwa banyak kelompok yang secara jumlah lebih sedikit justru mampu memberikan kontribusi besar dalam pembangunan masyarakat.</p>
<p>Di Kabupaten Karo, umat Muslim memiliki potensi besar yang tidak bisa diabaikan. Potensi ini bukan hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Ketika kualitas ini dioptimalkan, maka label “minoritas” menjadi tidak lagi relevan dalam konteks daya pengaruh dan kontribusi.</p>
<h3>Dari Kuantitas ke Kualitas</h3>
<p>Menggeser cara pandang dari kuantitas ke kualitas berarti menempatkan indikator seperti:</p>
<ul>
<li><strong>Kapasitas sumber daya manusia</strong></li>
<li><strong>Peran aktif dalam pembangunan sosial</strong></li>
<li><strong>Kemandirian ekonomi</strong></li>
<li><strong>Kontribusi dalam menjaga harmoni antarumat beragama</strong></li>
</ul>
<p>Sebagai contoh, jika umat Muslim mampu membangun ekosistem pendidikan yang baik, memperkuat ekonomi berbasis komunitas, serta aktif dalam kegiatan sosial lintas agama, maka posisi mereka dalam masyarakat akan jauh lebih kuat daripada sekadar angka statistik.</p>
<p>Dalam konteks ini, dakwah tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ceramah, tetapi juga sebagai gerakan pemberdayaan. Dakwah menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup umat sekaligus memperluas pengaruh positif di tengah masyarakat yang majemuk.</p>
<h3>Peran Strategis Kolaborasi</h3>
<p>Untuk mewujudkan paradigma baru ini, diperlukan kerja sama lintas sektor. Tidak cukup hanya mengandalkan satu pihak, melainkan harus melibatkan:</p>
<ul>
<li>Pemerintah daerah sebagai pembuat kebijakan</li>
<li>Pengusaha sebagai penggerak ekonomi</li>
<li>Pemangku adat sebagai penjaga nilai budaya</li>
<li>Tokoh masyarakat sebagai penghubung sosial</li>
<li>Dan tentu saja penyuluh agama Islam sebagai ujung tombak pembinaan umat</li>
</ul>
<p>Kolaborasi ini akan menciptakan ekosistem yang memungkinkan umat Muslim berkembang secara kualitas, sehingga mampu berkontribusi lebih besar dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Karo.</p>
<h3>Penyuluh Agama dan Kepala KUA : Agen Perubahan</h3>
<p>Peran penyuluh agama, khususnya di bawah koordinasi (KUA), menjadi sangat krusial. Mereka bukan hanya penyampai materi keagamaan, tetapi juga agen perubahan sosial.</p>
<p>Diperlukan kesadaran baru bahwa tugas pembinaan tidak hanya berorientasi pada rutinitas administratif, tetapi juga pada penguatan kualitas umat. Penyuluh dan kepala KUA perlu memahami bahwa:</p>
<ul>
<li>“Minoritas” bukan alasan untuk pasif</li>
<li>Kualitas adalah kunci utama dalam memperluas pengaruh</li>
<li>Dakwah harus adaptif terhadap konteks sosial masyarakat Karo</li>
</ul>
<p>Dengan pemahaman ini, strategi pembinaan dapat diarahkan pada peningkatan kapasitas umat secara menyeluruh—baik spiritual, intelektual, maupun ekonomi.</p>
<h3>Membangun Kesadaran Kolektif</h3>
<p>Mengubah cara pandang dari kuantitas ke kualitas bukanlah proses instan. Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran kolektif dan komitmen bersama. Namun, langkah pertama selalu dimulai dari cara kita memaknai realitas.</p>
<p>Umat Muslim di Kabupaten Karo mungkin lebih sedikit secara jumlah, tetapi bukan berarti lebih kecil dalam peran. Ketika kualitas menjadi fokus utama, maka ruang kontribusi akan terbuka lebih luas, dan dakwah pun akan berkembang dengan lebih pesat.</p>
<p>Pada akhirnya, “minoritas” bukanlah tentang berapa banyak, tetapi tentang seberapa besar dampak yang bisa diberikan.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/siapa-bilang-minoritas-saatnya-umat-muslim-karo-mengubah-cara-pandang/">Siapa Bilang Minoritas? Saatnya Umat Muslim Karo Mengubah Cara Pandang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pembinaan Tahun Depan”, Janji Tahunan yang Nyaris Lebih Konsisten daripada MTQ Itu Sendiri</title>
		<link>https://suntara.or.id/pembinaan-tahun-depan-janji-tahunan-yang-nyaris-lebih-konsisten-daripada-mtq-itu-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2026 05:26:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap kali rangkaian MTQ berakhir, ada satu momen yang terasa begitu akrab. Bukan semata gema lantunan ayat yang masih tersisa, atau haru para peserta, melainkan sebuah kalimat yang hampir selalu mengemuka di akhir sambutan: &#8220;Tahun depan kita harus mulai pembinaan peserta lokal, agar tidak lagi bergantung pada peserta dari luar daerah.&#8221; Kalimat ini disampaikan dengan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/pembinaan-tahun-depan-janji-tahunan-yang-nyaris-lebih-konsisten-daripada-mtq-itu-sendiri/">&#8220;Pembinaan Tahun Depan”, Janji Tahunan yang Nyaris Lebih Konsisten daripada MTQ Itu Sendiri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>S</b>etiap kali rangkaian MTQ berakhir, ada satu momen yang terasa begitu akrab. Bukan semata gema lantunan ayat yang masih tersisa, atau haru para peserta, melainkan sebuah kalimat yang hampir selalu mengemuka di akhir sambutan:</p>
<p><em>&#8220;Tahun depan kita harus mulai pembinaan peserta lokal, agar tidak lagi bergantung pada peserta dari luar daerah.&#8221;</em></p>
<p>Kalimat ini disampaikan dengan penuh keyakinan &#8211; intonasinya tegas, ekspresinya serius, bahkan kerap diiringi tepuk tangan hadirin yang seolah menaruh harapan besar. Sebuah tekad kolektif yang terdengar mulia, namun sayangnya sering kali bersifat sementara.</p>
<p>Sebab, begitu lampu panggung dipadamkan, spanduk diturunkan, dan dokumentasi diunggah ke media sosial, kalimat tersebut perlahan memudar. Ia hilang tanpa jejak, layaknya sisa konsumsi panitia yang terlewat untuk dibawa pulang.</p>
<p>Fenomena ini bukan hal baru. Ia seakan menjadi tradisi tak tertulis yang berulang dari tahun ke tahun dengan pola yang nyaris identik:</p>
<ol>
<li>Menjelang MTQ, panitia disibukkan dengan upaya mencari “kekuatan terbaik”, termasuk dari luar daerah.</li>
<li>Saat MTQ berlangsung, para peserta tampil optimal dan membawa nama daerah ke panggung prestasi.</li>
<li>Setelah MTQ usai, evaluasi digelar dan kembali, kalimat yang sama pun terdengar.</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Kita harus mulai pembinaan dari sekarang.&#8221;</em></p>
<p>Namun, “sekarang” kerap bergeser menjadi “nanti”, dan “nanti” tanpa disadari berubah menjadi “tahun depan” kembali.</p>
<p>Pertanyaannya sederhana: jika kesadaran akan pentingnya pembinaan selalu muncul setiap tahun, mengapa pelaksanaannya tak kunjung benar-benar dimulai?</p>
<p>Apakah karena pembinaan tidak seatraktif seremoni?<br />
Apakah karena hasilnya tidak dapat ditunjukkan secepat piala kemenangan?<br />
Atau justru karena kita telah terbiasa dengan solusi yang instan?</p>
<p>Menghadirkan peserta dari luar daerah pada dasarnya bukanlah sesuatu yang keliru. Dalam kondisi tertentu, itu bisa menjadi langkah strategis. Namun, ketika hal tersebut terus menjadi pola tahunan tanpa diimbangi upaya serius untuk membangun potensi lokal, yang dipertahankan bukan lagi prestasi, melainkan ketergantungan.</p>
<p>Ironisnya, di tengah situasi tersebut, potensi lokal kerap hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Mereka hadir, menyaksikan, dan mendengar janji-janji pembinaan—namun pulang tanpa membawa perubahan berarti.</p>
<p>Padahal, pembinaan bukan sekadar gagasan. Ia memerlukan perencanaan, konsistensi, dukungan anggaran, serta komitmen untuk memulai—bahkan dari langkah yang paling sederhana.</p>
<p>Tidak harus menunggu program besar atau instruksi resmi. Pembinaan dapat dimulai dari lingkup kecil: satu halaqah, satu pelatih yang berkelanjutan, atau sekelompok anak muda yang diberi ruang untuk belajar dan berkembang.</p>
<p>Mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya hasil MTQ, melainkan juga kejujuran kita terhadap komitmen yang terus diucapkan. Sebab janji yang berulang tanpa tindakan, pada akhirnya kehilangan makna—berubah dari harapan menjadi sekadar formalitas.</p>
<p>Dan jika tahun depan, setelah MTQ kembali usai, kalimat yang sama kembali disampaikan dengan susunan yang tak banyak berbeda, barangkali kita tidak perlu lagi memberikan tepuk tangan.</p>
<p>Cukup tersenyum.</p>
<p>Karena kita telah memahami bagaimana kisah ini berakhir.</p>
<p>Ikhwan Syahlani, SHI</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/pembinaan-tahun-depan-janji-tahunan-yang-nyaris-lebih-konsisten-daripada-mtq-itu-sendiri/">&#8220;Pembinaan Tahun Depan”, Janji Tahunan yang Nyaris Lebih Konsisten daripada MTQ Itu Sendiri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kepala KUA Berastagi Tekankan Pentingnya AD/ART Kemasjidan dalam Halal Bihalal Masjid Istihrar</title>
		<link>https://suntara.or.id/kepala-kua-berastagi-tekankan-pentingnya-ad-art-kemasjidan-dalam-halal-bihalal-masjid-istihrar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2026 15:36:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2169</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berastagi — Suasana hangat penuh kebersamaan terasa dalam acara halal bihalal yang diselenggarakan di pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus refleksi bersama dalam membangun tata kelola masjid yang lebih baik. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Berastagi, , menyampaikan sambutan yang menyoroti pentingnya keberadaan Anggaran Dasar dan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/kepala-kua-berastagi-tekankan-pentingnya-ad-art-kemasjidan-dalam-halal-bihalal-masjid-istihrar/">Kepala KUA Berastagi Tekankan Pentingnya AD/ART Kemasjidan dalam Halal Bihalal Masjid Istihrar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Berastagi </b>— Suasana hangat penuh kebersamaan terasa dalam acara halal bihalal yang diselenggarakan di pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus refleksi bersama dalam membangun tata kelola masjid yang lebih baik.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Berastagi, , menyampaikan sambutan yang menyoroti pentingnya keberadaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dalam pengelolaan kemasjidan.</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat yang membutuhkan sistem organisasi yang jelas dan terarah. “AD/ART bukan sekadar dokumen formalitas, tetapi menjadi pedoman utama dalam menjalankan roda organisasi masjid secara profesional, transparan, dan berkelanjutan,” ujarnya.</p>
<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dengan adanya AD/ART yang tersusun dengan baik, setiap pengurus memiliki batasan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Hal ini dinilai penting untuk menghindari konflik internal serta memastikan setiap program kerja berjalan efektif dan tepat sasaran.</p>
<p>Dalam konteks kebersamaan pasca-Ramadan, Fahmi juga mengaitkan nilai halal bihalal dengan semangat memperbaiki sistem dan memperkuat sinergi antar pengurus dan jamaah. “Momentum halal bihalal ini bukan hanya tentang saling memaafkan, tetapi juga memperbarui komitmen kita dalam memakmurkan masjid dengan tata kelola yang lebih baik,” tambahnya.</p>
<p>Acara tersebut dihadiri oleh pengurus masjid, tokoh masyarakat, serta jamaah dari berbagai kalangan. Selain sambutan, kegiatan juga diisi dengan tausiyah, ramah tamah, dan diskusi ringan mengenai pengembangan program kemasjidan ke depan.</p>
<p>Dengan adanya penekanan pada pentingnya AD/ART, diharapkan dapat menjadi contoh masjid yang tidak hanya aktif dalam kegiatan ibadah, tetapi juga unggul dalam tata kelola organisasi yang profesional dan modern.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/kepala-kua-berastagi-tekankan-pentingnya-ad-art-kemasjidan-dalam-halal-bihalal-masjid-istihrar/">Kepala KUA Berastagi Tekankan Pentingnya AD/ART Kemasjidan dalam Halal Bihalal Masjid Istihrar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Silaturahmi Kemenag Dairi dan Karo Perkuat Sinergi di KUA Mardinding</title>
		<link>https://suntara.or.id/silaturahmi-kemenag-dairi-dan-karo-perkuat-sinergi-di-kua-mardinding/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 08:07:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru Hari Ini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2162</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mardinding – Momen bersejarah tercipta saat jajaran Kementerian Agama dari Kabupaten Dairi dan Kabupaten Karo menggelar pertemuan silaturahmi di Kantor KUA Kecamatan Mardinding. Kegiatan ini menjadi ajang mempererat hubungan kerja sekaligus memperkuat sinergi antarinstansi di lingkungan Kementerian Agama. Dalam suasana penuh keakraban, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Dairi, Riswan Gajah, S.Ag., M.M, menyerahkan cenderamata kepada Kepala [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/silaturahmi-kemenag-dairi-dan-karo-perkuat-sinergi-di-kua-mardinding/">Silaturahmi Kemenag Dairi dan Karo Perkuat Sinergi di KUA Mardinding</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Mardinding</b> – Momen bersejarah tercipta saat jajaran Kementerian Agama dari Kabupaten Dairi dan Kabupaten Karo menggelar pertemuan silaturahmi di Kantor KUA Kecamatan Mardinding. Kegiatan ini menjadi ajang mempererat hubungan kerja sekaligus memperkuat sinergi antarinstansi di lingkungan Kementerian Agama.</p>
<p>Dalam suasana penuh keakraban, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Dairi, <strong>Riswan Gajah, S.Ag., M.M</strong>, menyerahkan cenderamata kepada Kepala Kementerian Agama Kabupaten Karo, <strong>Drs. Safaruddin, M.A</strong>. Penyerahan tersebut menjadi simbol persaudaraan dan kenang-kenangan atas hubungan baik yang telah terjalin.</p>
<p>Tak hanya itu, kegiatan ini juga diwarnai dengan pertukaran cenderamata antar pimpinan KUA. Kepala KUA Kecamatan Tanah Pinem, <strong>Nurul Arif El Hakim, S.H., M.H</strong>, turut memberikan cenderamata kepada Kepala KUA Kecamatan Mardinding, <strong>Arri Aliansyah, S.H.I., M.Si</strong>, sebagai bentuk penghargaan dan penguatan silaturahmi di tingkat kecamatan.</p>
<p>Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting di lingkungan Kementerian Agama, di antaranya Kasubbag TU Kemenag Karo, <strong>Karni Harahap, S.Ag., M.Si</strong>, serta Kasi Bimas Islam Kemenag Dairi, <strong>Lindung Kaloko, S.Ag., M.M</strong>, bersama para ASN lainnya.</p>
<p>Pertemuan ini diharapkan dapat semakin memperkokoh koordinasi, meningkatkan kinerja pelayanan kepada masyarakat, serta mempererat ukhuwah di antara seluruh jajaran Kementerian Agama, khususnya di wilayah Dairi dan Karo.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/silaturahmi-kemenag-dairi-dan-karo-perkuat-sinergi-di-kua-mardinding/">Silaturahmi Kemenag Dairi dan Karo Perkuat Sinergi di KUA Mardinding</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pokjaluh Kab. Karo Bergerak Cepat Tindaklanjuti Hasil Musywil IV Sumatera Utara</title>
		<link>https://suntara.or.id/pokjaluh-kab-karo-bergerak-cepat-tindaklanjuti-hasil-musywil-iv-sumatera-utara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 05:44:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karo — Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kabupaten Karo menunjukkan respons cepat dan sigap dalam menindaklanjuti hasil Musyawarah Wilayah (Musywil) IV Pokjaluh Provinsi Sumatera Utara yang baru saja digelar. Semangat konsolidasi dan penguatan organisasi langsung diwujudkan melalui koordinasi internal serta penguatan solidaritas antar penyuluh agama Islam di daerah tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Pokjaluh [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/pokjaluh-kab-karo-bergerak-cepat-tindaklanjuti-hasil-musywil-iv-sumatera-utara/">Pokjaluh Kab. Karo Bergerak Cepat Tindaklanjuti Hasil Musywil IV Sumatera Utara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Karo</em> — Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kabupaten Karo menunjukkan respons cepat dan sigap dalam menindaklanjuti hasil Musyawarah Wilayah (Musywil) IV Pokjaluh Provinsi Sumatera Utara yang baru saja digelar. Semangat konsolidasi dan penguatan organisasi langsung diwujudkan melalui koordinasi internal serta penguatan solidaritas antar penyuluh agama Islam di daerah tersebut.</p>
<p>Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Pokjaluh Kabupaten Karo dalam menjaga kesinambungan program serta memperkuat peran strategis penyuluh agama di tengah masyarakat. Para pengurus dan anggota Pokjaluh Karo menyadari bahwa hasil Musywil bukan sekadar forum formal, tetapi menjadi pijakan penting dalam meningkatkan kualitas kelembagaan dan kinerja penyuluh.</p>
<p>Senior Pokjaluh Kabupaten Karo, Elismawati,S.Ag menyampaikan bahwa pihaknya segera menginisiasi pertemuan koordinasi guna menyamakan persepsi dan merumuskan langkah konkret pasca-Musywil. “Kami tidak ingin hasil Musywil hanya menjadi dokumen, tetapi benar-benar diimplementasikan melalui langkah nyata di daerah,” ujarnya.</p>
<p>Dalam pertemuan tersebut, para penyuluh menegaskan pentingnya memperkuat komunikasi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mempererat ukhuwah di antara sesama penyuluh. Hal ini dinilai penting mengingat tantangan dakwah dan pembinaan umat yang semakin kompleks di era saat ini.</p>
<p>Selain itu, penguatan struktur kepengurusan juga menjadi fokus utama. Pokjaluh Kabupaten Karo berupaya memastikan bahwa setiap pengurus memiliki peran yang jelas dan mampu menjalankan tugas secara optimal. Dengan demikian, roda organisasi dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.</p>
<p>Respon cepat yang ditunjukkan Pokjaluh Kabupaten Karo ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, karena mencerminkan semangat kolaborasi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas sebagai penyuluh agama.</p>
<p>Ke depan, Pokjaluh Kabupaten Karo berkomitmen untuk terus menjaga sinergi, baik secara internal maupun dengan pemangku kepentingan lainnya, demi terwujudnya penyuluh agama yang berdaya, responsif, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan mental spiritual masyarakat.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/pokjaluh-kab-karo-bergerak-cepat-tindaklanjuti-hasil-musywil-iv-sumatera-utara/">Pokjaluh Kab. Karo Bergerak Cepat Tindaklanjuti Hasil Musywil IV Sumatera Utara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Musyawarah Wilayah IV Pokjaluh Sumut Digelar, Perkuat Peran Penyuluh di Tengah Tantangan Zaman</title>
		<link>https://suntara.or.id/musyawarah-wilayah-iv-pokjaluh-sumut-digelar-perkuat-peran-penyuluh-di-tengah-tantangan-zaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2026 12:14:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2155</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berastagi, 4 April 2026 — Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam (Pokjaluh) Provinsi Sumatera Utara menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-IV pada 4–5 April 2026 di Hotel Rudang Berastagi. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran penyuluh agama dalam menghadapi dinamika sosial dan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/musyawarah-wilayah-iv-pokjaluh-sumut-digelar-perkuat-peran-penyuluh-di-tengah-tantangan-zaman/">Musyawarah Wilayah IV Pokjaluh Sumut Digelar, Perkuat Peran Penyuluh di Tengah Tantangan Zaman</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berastagi, 4 April 2026 — Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam (Pokjaluh) Provinsi Sumatera Utara menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-IV pada 4–5 April 2026 di Hotel Rudang Berastagi. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran penyuluh agama dalam menghadapi dinamika sosial dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.</p>
<p>Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh penting di lingkungan Kementerian Agama Sumatera Utara, di antaranya Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat, dan Wakaf (Penaiszawa) Kanwil Kemenagsu (H. Zulfan Efendi), Kabag TU Kanwil Kemenagsu (Drs.H.Syafrizal Bancin) yang secara resmi membuka kegiatan.</p>
<p>Turut hadir pula Ketua POKJALUH Sumut (Dr. H. Marasakti Bangunan), Kankemenag Kab.Karo (Drs. H. Saparuddin).</p>
<p>Dalam sambutannya, Zulfan Efendi menegaskan pentingnya peran penyuluh agama Islam sebagai garda terdepan dalam membina umat. Ia menyampaikan bahwa penyuluh tidak hanya berfungsi sebagai penyampai pesan keagamaan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mampu merespons berbagai isu kontemporer, termasuk tantangan digitalisasi dan degradasi moral di masyarakat.</p>
<p>“Penyuluh agama harus adaptif, inovatif, dan mampu menjangkau masyarakat dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.</p>
<p>Musyawarah wilayah ini juga menjadi forum evaluasi program kerja sebelumnya sekaligus merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya penyuluh, penguatan sinergi antar lembaga, hingga pemanfaatan media digital dalam dakwah.</p>
<p>Selain sidang pleno, kegiatan juga diisi dengan diskusi panel dan pemaparan materi dari para narasumber. Para peserta yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan.</p>
<p>Ketua panitia menyampaikan harapannya agar Muswil IV ini dapat menghasilkan keputusan yang konstruktif dan membawa dampak nyata bagi penguatan peran penyuluh agama Islam di Sumatera Utara.</p>
<p>Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan Pokjaluh Sumut semakin solid dan mampu berkontribusi aktif dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya saing di era modern.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/musyawarah-wilayah-iv-pokjaluh-sumut-digelar-perkuat-peran-penyuluh-di-tengah-tantangan-zaman/">Musyawarah Wilayah IV Pokjaluh Sumut Digelar, Perkuat Peran Penyuluh di Tengah Tantangan Zaman</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembukaan Pengajian Dibuka Dengan Cara Melompat Tanpa Suara</title>
		<link>https://suntara.or.id/diatas-lantai-papan-masjid-raya-pembukaan-pengajian-dibuka-dengan-cara-melompat-tanpa-suara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2026 13:02:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2147</guid>

					<description><![CDATA[<p>𝘽𝙚𝙧𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙞, 𝙐𝙨𝙩𝙖𝙙𝙯 𝙄𝙠𝙝𝙬𝙖𝙣 𝙎𝙮𝙖𝙝𝙡𝙖𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙬𝙖𝙡𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙥𝙖𝙨𝙘𝙖 𝙡𝙞𝙗𝙪𝙧 𝙍𝙖𝙢𝙖𝙙𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙩𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙤𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙟𝙪𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙧𝙞 𝙟𝙚𝙢𝙥𝙤𝙡 𝙠𝙖𝙠𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙢𝙗𝙪𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙞 𝙡𝙖𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙥𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙨𝙟𝙞𝙙 𝙍𝙖𝙮𝙖 1928 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙞. Puluhan anak tampak hadir memenuhi ruang pengajian yang berlantai papan. Karakter lantai yang mudah berbunyi menjadi bagian dari metode pembelajaran yang diterapkan malam itu. Alih-alih langsung [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/diatas-lantai-papan-masjid-raya-pembukaan-pengajian-dibuka-dengan-cara-melompat-tanpa-suara/">Pembukaan Pengajian Dibuka Dengan Cara Melompat Tanpa Suara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>𝘽𝙚𝙧𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙞, 𝙐𝙨𝙩𝙖𝙙𝙯 𝙄𝙠𝙝𝙬𝙖𝙣 𝙎𝙮𝙖𝙝𝙡𝙖𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙬𝙖𝙡𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙥𝙖𝙨𝙘𝙖 𝙡𝙞𝙗𝙪𝙧 𝙍𝙖𝙢𝙖𝙙𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙩𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙤𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙟𝙪𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙧𝙞 𝙟𝙚𝙢𝙥𝙤𝙡 𝙠𝙖𝙠𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙢𝙗𝙪𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙞 𝙡𝙖𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙥𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙨𝙟𝙞𝙙 𝙍𝙖𝙮𝙖 1928 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙞.</p>
<p>Puluhan anak tampak hadir memenuhi ruang pengajian yang berlantai papan. Karakter lantai yang mudah berbunyi menjadi bagian dari metode pembelajaran yang diterapkan malam itu.</p>
<p>Alih-alih langsung memulai dengan membaca Iqra’ atau hafalan, Ikhwan meminta seluruh anak berdiri dan mencoba melompat.</p>
<p>“Coba melompat, tapi gunakan ujung jari jempol kaki, dan jangan sampai terdengar suara,” ujarnya.</p>
<p>Instruksi tersebut sempat memancing tawa. Beberapa anak langsung mencoba, namun bunyi keras dari lantai papan masih terdengar. Setelah beberapa kali percobaan, anak-anak mulai memahami teknik yang dimaksud—mendarat perlahan dengan tumpuan pada ujung jari jempol untuk meredam suara.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2152" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/04/Logopit_1775135054618-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/04/Logopit_1775135054618-300x199.jpg 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/04/Logopit_1775135054618-768x509.jpg 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/04/Logopit_1775135054618.jpg 900w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Suasana pun berubah dari riuh menjadi lebih fokus. Anak-anak terlihat berusaha mengontrol gerakan tubuh, menahan beban saat mendarat agar tidak menimbulkan bunyi yang mengganggu.</p>
<p>Menurut Ikhwan Syahlani, latihan tersebut memiliki tujuan sederhana namun mendalam.</p>
<p>“Ini latihan kecil agar anak-anak terbiasa berhati-hati dalam bergerak. Kalau jatuh saja bisa kita atur supaya tidak ribut, apalagi dalam sikap dan perilaku sehari-hari,” jelasnya.</p>
<p>Ia menambahkan bahwa pengajian tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga pembentukan adab dan pengendalian diri sejak dini.</p>
<p>Setelah sesi latihan, kegiatan dilanjutkan dengan pembelajaran seperti biasa. Namun suasana terlihat lebih tertib, dengan anak-anak yang lebih tenang dan memperhatikan.</p>
<p>Sejumlah orang tua yang hadir menilai metode tersebut efektif dan mudah dipahami anak-anak. Pendekatan praktis yang langsung dirasakan dinilai mampu memberikan kesan yang lebih kuat dibandingkan sekadar penjelasan teoritis.</p>
<p>Pembukaan pengajian di Masjid Raya Berastagi itu menjadi contoh bahwa inovasi dalam metode pembelajaran keagamaan dapat dilakukan dengan cara sederhana. Melalui “lompatan senyap”, nilai kehati-hatian dan ketenangan ditanamkan sejak awal—bahkan sebelum anak-anak mulai membaca.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/diatas-lantai-papan-masjid-raya-pembukaan-pengajian-dibuka-dengan-cara-melompat-tanpa-suara/">Pembukaan Pengajian Dibuka Dengan Cara Melompat Tanpa Suara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
