<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nasional Arsip - Suntara</title>
	<atom:link href="https://suntara.or.id/category/nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Media kolaborasi Penyuluh Se-Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Jun 2026 00:50:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2025/06/cropped-ikon-logo-suntara-32x32.png</url>
	<title>Nasional Arsip - Suntara</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bos Goseh Ajak Semua Pihak Menahan Diri, Utamakan Ukhuwah di Tengah Polemik Gus Ipul dan Hamzah Sahal</title>
		<link>https://suntara.or.id/bos-goseh-ajak-semua-pihak-menahan-diri-utamakan-ukhuwah-di-tengah-polemik-gus-ipul-dan-hamzah-sahal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2026 00:07:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2240</guid>

					<description><![CDATA[<p>Polemik yang berkembang antara Menteri Sosial sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, dan pegiat media sosial sekaligus penulis, Hamzah Sahal, mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Di tengah dinamika yang terjadi, Founder Goseh, Ikhwan Syahlani, yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam di KUA Berastagi mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan semangat persaudaraan sebagaimana diajarkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/bos-goseh-ajak-semua-pihak-menahan-diri-utamakan-ukhuwah-di-tengah-polemik-gus-ipul-dan-hamzah-sahal/">Bos Goseh Ajak Semua Pihak Menahan Diri, Utamakan Ukhuwah di Tengah Polemik Gus Ipul dan Hamzah Sahal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Polemik yang berkembang antara Menteri Sosial sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, dan pegiat media sosial sekaligus penulis, Hamzah Sahal, mendapat perhatian dari berbagai kalangan.</p>
<p>Di tengah dinamika yang terjadi, Founder Goseh, Ikhwan Syahlani, yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam di KUA Berastagi mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan semangat persaudaraan sebagaimana diajarkan Nahdlatul Ulama (NU).</p>
<p>Menurut Ikhwan, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi maupun demokrasi. Namun, setiap perbedaan hendaknya disikapi dengan kepala dingin dan tetap mengedepankan adab serta etika dalam menyampaikan pendapat.</p>
<p>&#8220;NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia telah mengajarkan nilai-nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i&#8217;tidal (adil). Nilai-nilai ini penting untuk terus dijaga dalam menyikapi setiap perbedaan yang muncul,&#8221; kata Ikhwan Syahlani kepada media, Jumat (19/6/2026).</p>
<p>Masyarakat diharapkan tidak memperkeruh suasana dengan spekulasi maupun narasi yang berpotensi memperlebar jurang perbedaan. &#8220;Biarlah proses yang sedang berjalan diselesaikan melalui jalur yang telah disediakan oleh negara dan lembaga yang berwenang.</p>
<p>Kita semua perlu memberikan ruang bagi proses tersebut untuk berjalan secara objektif dan profesional,&#8221; ujarnya. Ikhwan mengatakan, kondisi bangsa saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan ekonomi, lapangan pekerjaan, hingga kebutuhan masyarakat terhadap stabilitas sosial. Karena itu, energi bangsa seharusnya diarahkan untuk membangun optimisme dan kerja sama.</p>
<p><img decoding="async" class="wp-image-2242 size-medium" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc-300x165.png" alt="" width="300" height="165" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc-300x165.png 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc-768x422.png 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc.png 900w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Ikhwan Syahlani, SHI&#8221;Kami yang berada di ujung Sumatera pun ikut merasakan energi negatif ketika muncul ketegangan yang berkepanjangan di ruang publik.</p>
<p>Padahal masyarakat saat ini membutuhkan banyak kabar baik, membutuhkan teladan persatuan, dan membutuhkan tokoh-tokoh yang mampu menjadi perekat bangsa,&#8221; katanya.</p>
<p>Sebagai pelaku usaha digital lokal yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat, Ikhwan mengaku memahami pentingnya menjaga suasana yang kondusif. Menurutnya, seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan dan menghindari polarisasi yang tidak produktif.</p>
<p>&#8220;Semua pihak harus tetap profesional menjalankan tugas dan pengabdiannya masing-masing. Para ulama, tokoh masyarakat, pejabat negara, insan pers, aktivis media sosial, hingga pelaku usaha memiliki peran penting dalam menjaga ketenangan masyarakat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ikhwan juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh sampai menghilangkan rasa hormat antar sesama. Dalam tradisi NU, musyawarah dan tabayun selalu menjadi jalan utama untuk menyelesaikan persoalan.</p>
<p>&#8220;Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai kehilangan ukhuwah. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan yang merugikan umat dan bangsa,&#8221; katanya.</p>
<p>Ikhwan Syahlani merupakan Founder Goseh, sebuah platform transportasi dan layanan digital lokal yang beroperasi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.</p>
<p>Melalui Goseh, ia bersama ratusan mitra pengemudi berupaya mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui pemanfaatan teknologi digital. Aplikasi Goseh saat ini tersedia untuk perangkat Android melalui <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.myGoseh.Goseh&amp;hl=id&amp;utm_source=chatgpt.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">Google Play Store Goseh</a> dan perangkat iOS melalui <a href="https://apps.apple.com/id/app/goseh/id6746654566?utm_source=chatgpt.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">App Store Goseh</a>.</p>
<p>Menutup pernyataannya, Ikhwan berharap seluruh pihak dapat kembali fokus pada agenda-agenda besar kemasyarakatan yang lebih bermanfaat bagi umat.</p>
<p>&#8220;Indonesia membutuhkan energi positif. Mari kita rawat persatuan, memperkuat silaturahim, dan bersama-sama membangun bangsa dengan semangat saling menghormati serta saling menguatkan,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/bos-goseh-ajak-semua-pihak-menahan-diri-utamakan-ukhuwah-di-tengah-polemik-gus-ipul-dan-hamzah-sahal/">Bos Goseh Ajak Semua Pihak Menahan Diri, Utamakan Ukhuwah di Tengah Polemik Gus Ipul dan Hamzah Sahal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Arah Kiblat Sudah Menjamur, Masih Perlukah Tim Pengukur Kiblat?</title>
		<link>https://suntara.or.id/aplikasi-arah-kiblat-sudah-menjamur-masih-perlukah-tim-pengukur-kiblat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 08:13:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2234</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di zaman ketika hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi melalui telepon genggam, pertanyaan ini terasa semakin relevan: masih perlukah pengukuran arah kiblat dilakukan secara manual? Hari ini, cukup membuka aplikasi di smartphone, lalu dalam hitungan detik muncul panah yang menunjukkan arah Ka&#8217;bah. Bahkan banyak aplikasi salat, peta digital, hingga fitur bawaan ponsel yang mampu menampilkan arah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/aplikasi-arah-kiblat-sudah-menjamur-masih-perlukah-tim-pengukur-kiblat/">Aplikasi Arah Kiblat Sudah Menjamur, Masih Perlukah Tim Pengukur Kiblat?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di zaman ketika hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi melalui telepon genggam, pertanyaan ini terasa semakin relevan: masih perlukah pengukuran arah kiblat dilakukan secara manual?</p>
<p>Hari ini, cukup membuka aplikasi di smartphone, lalu dalam hitungan detik muncul panah yang menunjukkan arah Ka&#8217;bah. Bahkan banyak aplikasi salat, peta digital, hingga fitur bawaan ponsel yang mampu menampilkan arah kiblat secara instan. Di tengah kemudahan tersebut, sebagian masyarakat mungkin bertanya-tanya, mengapa masih ada petugas, penyuluh agama, atau tim falak yang datang ke masjid untuk melakukan pengukuran arah kiblat secara manual? Apakah itu sekadar tradisi yang belum ditinggalkan, atau memang masih diperlukan?</p>
<p>Pertanyaan ini menarik untuk dikaji. Sebab di satu sisi, teknologi memang telah memberikan kemudahan yang luar biasa. Namun di sisi lain, kemudahan tidak selalu identik dengan ketepatan.</p>
<p>Sebagian besar aplikasi arah kiblat bekerja dengan memanfaatkan GPS, kompas digital, dan sensor magnetik pada ponsel. Masalahnya, tidak semua perangkat memiliki tingkat akurasi yang sama. Gangguan medan magnet, posisi pengguna, kualitas sensor, hingga kesalahan kalibrasi dapat menyebabkan hasil yang ditampilkan meleset beberapa derajat. Untuk penggunaan pribadi, selisih kecil tersebut mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Namun untuk bangunan permanen seperti masjid, musala, atau pesantren, tingkat ketelitian tentu menjadi lebih penting.</p>
<p>Di sinilah pengukuran manual atau pengukuran teknis oleh ahli falak masih memiliki peran. Menariknya, istilah &#8220;manual&#8221; sebenarnya sering disalahpahami. Pengukuran arah kiblat yang dilakukan petugas saat ini bukan berarti menggunakan perkiraan atau metode tradisional semata. Banyak di antaranya justru memanfaatkan data astronomi, koordinat geografis, perangkat ukur modern, hingga metode Rashdul Kiblat yang secara ilmiah sangat akurat.</p>
<p>Dengan kata lain, yang dilakukan bukanlah pertarungan antara metode lama melawan teknologi baru. Yang terjadi justru kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Lalu apakah setiap rumah harus diukur ulang secara manual? Tentu tidak. Untuk kebutuhan ibadah sehari-hari, aplikasi arah kiblat yang terpercaya umumnya sudah sangat membantu. Namun untuk pembangunan atau penetapan arah kiblat masjid dan musala yang akan digunakan masyarakat dalam jangka panjang, proses verifikasi dan pengukuran yang lebih akurat tetap diperlukan.</p>
<p>Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah &#8220;Apakah pengukuran manual masih relevan?&#8221; melainkan &#8220;Seberapa penting tingkat akurasi yang kita butuhkan?&#8221;</p>
<p>Karena pada akhirnya, teknologi memang memudahkan kita menemukan arah kiblat. Tetapi ketelitian dalam memastikan arah tersebut tetap menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadapkan diri ke tempat yang sama: Ka&#8217;bah di Makkah. Dan dalam urusan ibadah, terkadang yang dicari bukan hanya kemudahan, melainkan juga keyakinan.</p>
<p>Di era digital ini, aplikasi boleh menjadi penunjuk jalan. Namun ilmu falak dan pengukuran yang tepat tetap menjadi kompas yang memastikan kita tidak sekadar mengikuti arah, tetapi juga memahami alasan di baliknya. Sebab teknologi dapat berubah setiap tahun, tetapi kebutuhan akan kepastian dan ketepatan akan selalu relevan sepanjang zaman.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/aplikasi-arah-kiblat-sudah-menjamur-masih-perlukah-tim-pengukur-kiblat/">Aplikasi Arah Kiblat Sudah Menjamur, Masih Perlukah Tim Pengukur Kiblat?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Antara Amanah dan Tanggung Jawab: Catatan Seorang P3H di Kabupaten Karo</title>
		<link>https://suntara.or.id/di-antara-amanah-dan-tanggung-jawab-catatan-seorang-p3h-di-kabupaten-karo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 03:46:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2229</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjelang pelaksanaan program Wajib Halal Oktober 2026, berbagai kegiatan sosialisasi terus dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai Pendamping Proses Produk Halal (P3H) sekaligus penyuluh agama Islam di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, saya merasakan bahwa peran ini tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Di satu sisi, terdapat tanggung jawab untuk mendukung dan menyukseskan program pemerintah dalam [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/di-antara-amanah-dan-tanggung-jawab-catatan-seorang-p3h-di-kabupaten-karo/">Di Antara Amanah dan Tanggung Jawab: Catatan Seorang P3H di Kabupaten Karo</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang pelaksanaan program Wajib Halal Oktober 2026, berbagai kegiatan sosialisasi terus dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai Pendamping Proses Produk Halal (P3H) sekaligus penyuluh agama Islam di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, saya merasakan bahwa peran ini tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Di satu sisi, terdapat tanggung jawab untuk mendukung dan menyukseskan program pemerintah dalam memperluas ekosistem halal nasional. Namun di sisi lain, pengalaman di lapangan kerap menghadirkan ruang perenungan yang tidak sederhana.</p>
<p>Salah satu fenomena yang cukup menarik adalah tingginya minat pelaku usaha non-Muslim dalam mengurus sertifikasi halal. Kondisi ini tentu patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa sertifikasi halal tidak lagi dipandang semata sebagai kebutuhan umat Islam, melainkan juga sebagai bentuk jaminan mutu dan kepercayaan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial yang luas. Hal ini mencerminkan semakin tumbuhnya kesadaran bahwa produk halal memiliki daya saing dan kredibilitas yang tinggi di tengah masyarakat.</p>
<p>Meski demikian, sebagai seorang Muslim yang turut mengemban amanah dalam proses pendampingan halal, ada sejumlah pertanyaan yang sering muncul dalam benak saya. Apakah seluruh tahapan produksi telah benar-benar memenuhi ketentuan halal sebagaimana yang dipersyaratkan? Seberapa kuat komitmen pelaku usaha untuk menjaga konsistensi penggunaan bahan baku, proses produksi, hingga penyajian produk setelah sertifikat halal diperoleh? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana keberlanjutan pengawasan dapat dilakukan secara optimal di tengah keterbatasan sumber daya yang tersedia?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah bentuk keraguan terhadap individu atau kelompok tertentu. Sebaliknya, hal itu lahir dari rasa tanggung jawab moral yang melekat pada tugas yang saya jalankan. Bagi saya, sertifikat halal bukan sekadar dokumen administratif yang memenuhi ketentuan regulasi. Di balik sertifikat tersebut terdapat amanah besar yang berkaitan dengan keyakinan, kepercayaan, dan ketenteraman hati umat Islam dalam mengonsumsi suatu produk.</p>
<p>Pada saat yang sama, saya juga menyadari bahwa tugas seorang P3H bukanlah menilai suatu usaha berdasarkan latar belakang agama pemiliknya. Sistem sertifikasi halal dibangun atas dasar pemenuhan standar, kelengkapan dokumen, dan kesesuaian proses yang berlaku bagi seluruh pelaku usaha tanpa membedakan agama, suku, maupun status sosial. Dalam kerangka itulah profesionalitas dan integritas harus senantiasa dijaga.</p>
<p>Sebagai penyuluh agama Islam, saya berharap program Wajib Halal tidak hanya berorientasi pada pencapaian target sertifikasi atau angka statistik semata. Lebih dari itu, program ini hendaknya menjadi sarana edukasi yang mampu menumbuhkan kesadaran, kejujuran, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kehalalan produk yang beredar di masyarakat.</p>
<p>Di Kabupaten Karo, saya berupaya menjalankan amanah ini dengan penuh kesungguhan. Saya meyakini bahwa tugas negara dan tanggung jawab moral bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama dilandasi oleh kejujuran, kehati-hatian, serta komitmen yang kuat terhadap prinsip-prinsip halal. Sebab pada akhirnya, halal bukan hanya tentang memperoleh sertifikat, melainkan tentang menjaga amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>𝗜𝗸𝗵𝘄𝗮𝗻 𝗦𝘆𝗮𝗵𝗹𝗮𝗻𝗶, 𝗦𝗛𝗜 (P3H Kabupaten Karo)</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/di-antara-amanah-dan-tanggung-jawab-catatan-seorang-p3h-di-kabupaten-karo/">Di Antara Amanah dan Tanggung Jawab: Catatan Seorang P3H di Kabupaten Karo</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BAZNAS Karo: Ketika Konflik Internal Menjadi Konsumsi Publik</title>
		<link>https://suntara.or.id/baznas-karo-ketika-konflik-internal-menjadi-konsumsi-publik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 02:34:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2217</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Ikhwan Syahlani, SHI Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat Kabupaten Karo, kehadiran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) seharusnya menjadi sumber harapan. Lembaga ini bukan sekadar organisasi administrasi pengelola zakat, melainkan wadah yang menghubungkan kepedulian umat dengan mereka yang membutuhkan. Karena itu, setiap dinamika yang terjadi di dalam tubuh BAZNAS sesungguhnya [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/baznas-karo-ketika-konflik-internal-menjadi-konsumsi-publik/">BAZNAS Karo: Ketika Konflik Internal Menjadi Konsumsi Publik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>O</b>leh: Ikhwan Syahlani, SHI</p>
<p>Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat Kabupaten Karo, kehadiran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) seharusnya menjadi sumber harapan. Lembaga ini bukan sekadar organisasi administrasi pengelola zakat, melainkan wadah yang menghubungkan kepedulian umat dengan mereka yang membutuhkan. Karena itu, setiap dinamika yang terjadi di dalam tubuh BAZNAS sesungguhnya bukan hanya urusan internal pengurus, melainkan juga menyangkut kepercayaan publik.</p>
<p>Belakangan, masyarakat disuguhi berbagai perdebatan dan silang pendapat yang menyeruak ke media sosial terkait kepengurusan BAZNAS Kabupaten Karo. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, satu hal yang perlu disadari bersama adalah bahwa konflik yang dipertontonkan di ruang publik hampir selalu meninggalkan luka yang lebih besar daripada manfaat yang diperoleh.</p>
<p>Media sosial memang memberikan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Namun, ketika perbedaan pandangan antar pengurus lembaga keagamaan dibawa ke ruang publik tanpa penyelesaian yang matang, yang terkikis bukan hanya hubungan antarindividu, melainkan juga wibawa lembaga itu sendiri. Masyarakat awam tidak selalu memahami akar persoalan. Yang mereka lihat hanyalah pertengkaran, saling sanggah, dan tudingan yang berulang.</p>
<p>Padahal, BAZNAS Kabupaten Karo baru beberapa tahun terakhir berupaya membangun kepercayaan masyarakat melalui berbagai program sosial, digitalisasi layanan, dan kerja sama dengan berbagai pihak untuk membantu masyarakat kurang mampu.</p>
<p>Kepercayaan adalah modal terbesar lembaga sosial dan keagamaan. Sekali kepercayaan itu retak, proses memulihkannya bisa jauh lebih sulit daripada membangunnya sejak awal. Banyak contoh di berbagai daerah menunjukkan bahwa konflik internal yang tidak dikelola dengan baik dapat berujung pada menurunnya partisipasi masyarakat, bahkan menghambat program-program yang seharusnya menyentuh kepentingan umat.</p>
<p>Karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukanlah saling mengalahkan di media sosial, melainkan keberanian untuk duduk bersama. Jika memang terdapat perbedaan penafsiran aturan, sengketa kewenangan, atau persoalan kepengurusan, maka mekanisme organisasi dan regulasi harus menjadi jalan penyelesaiannya. Lembaga yang mengajarkan nilai-nilai keagamaan justru dituntut memberi teladan dalam menyelesaikan konflik secara bermartabat.</p>
<p>Kabupaten Karo masih membutuhkan BAZNAS yang kuat, dipercaya, dan fokus melayani masyarakat. Umat tidak membutuhkan tontonan pertikaian. Mereka membutuhkan bukti bahwa zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan dikelola dengan amanah dan profesional.</p>
<p>Pada akhirnya, jabatan adalah sementara, tetapi nama baik lembaga adalah warisan yang akan dikenang jauh lebih lama. Ketika ego pribadi bertemu dengan kepentingan organisasi, maka yang semestinya didahulukan adalah marwah lembaga. Sebab sebuah organisasi keagamaan tidak akan dinilai dari seberapa keras para pengurusnya berdebat, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu mereka hadirkan bagi masyarakat.</p>
<p>Jika ada persoalan, selesaikanlah di meja musyawarah. Jika ada perbedaan, carilah titik temu. Namun jika yang dipertaruhkan adalah nama baik lembaga umat, maka setiap pihak sudah seharusnya menahan diri untuk tidak menjadikan media sosial sebagai arena pertikaian.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/baznas-karo-ketika-konflik-internal-menjadi-konsumsi-publik/">BAZNAS Karo: Ketika Konflik Internal Menjadi Konsumsi Publik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Refleksi Setahun SUNTARA, Kerinduan Akan Ruang Bersama</title>
		<link>https://suntara.or.id/refleksi-setahun-suntara-kerinduan-akan-ruang-bersama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 16:10:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2206</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah derasnya perubahan sosial, penyuluh agama sesungguhnya memikul tugas yang semakin berat. Mereka bukan hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat bertanya, mengadu, bahkan mencari ketenangan di tengah keadaan yang sering tidak menentu. Namun di balik peran itu, para penyuluh kerap bekerja dalam ruang yang sunyi: bergerak sendiri-sendiri, sibuk dengan wilayah binaan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/refleksi-setahun-suntara-kerinduan-akan-ruang-bersama/">Refleksi Setahun SUNTARA, Kerinduan Akan Ruang Bersama</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah derasnya perubahan sosial, penyuluh agama sesungguhnya memikul tugas yang semakin berat. Mereka bukan hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat bertanya, mengadu, bahkan mencari ketenangan di tengah keadaan yang sering tidak menentu. Namun di balik peran itu, para penyuluh kerap bekerja dalam ruang yang sunyi: bergerak sendiri-sendiri, sibuk dengan wilayah binaan masing-masing, dan jarang memiliki ruang yang benar-benar mempertemukan pengalaman maupun kegelisahan mereka sebagai sesama pelayan masyarakat.</p>
<p>Padahal tantangan yang dihadapi hampir serupa. Tentang masyarakat yang berubah cepat, generasi muda yang semakin jauh dari ruang-ruang pembinaan, persoalan sosial yang semakin rumit, hingga tuntutan administrasi yang sering menguras tenaga. Banyak gagasan baik lahir di lapangan, tetapi tidak sempat berkembang karena berhenti di daerahnya masing-masing. Tidak ada cukup ruang untuk saling belajar, saling menyambung pengalaman, atau sekadar mengetahui bahwa di tempat lain ada orang-orang yang sedang berjuang dengan keresahan yang sama.</p>
<p>Dari kegelisahan itulah setahun lalu saya pernah percaya bahwa jarak antar penyuluh agama di negeri ini sebenarnya bisa dipendekkan. Bukan dengan perjalanan dinas, bukan pula lewat forum-forum seremonial, melainkan melalui sebuah ruang bersama yang memungkinkan orang-orang saling bertemu pikiran, pengalaman, dan keresahan. Dari keyakinan kecil itu lahirlah sebuah gagasan bernama <strong>Suntara (Suluh Nusantara)</strong>.</p>
<figure id="attachment_2208" aria-describedby="caption-attachment-2208" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-2208 size-medium" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/05/vr-300x200.png" alt="" width="300" height="200" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/05/vr-300x200.png 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/05/vr.png 651w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-2208" class="wp-caption-text">Dokumentasi Launching Suntara</figcaption></figure>
<p>Nama itu terdengar besar. Mungkin terlalu besar untuk sesuatu yang lahir dari kegelisahan sederhana: melihat para penyuluh bekerja dalam kesunyian masing-masing. Kita sering berada di tengah masyarakat, berbicara tentang persaudaraan, gotong royong, dan pentingnya saling menguatkan. Tetapi sesama penyuluh sendiri kerap berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing sibuk dengan wilayah binaannya, programnya, laporannya, dan persoalan masyarakat yang datang silih berganti tanpa jeda.</p>
<p>Padahal sering kali masalah yang dihadapi serupa. Tentang remaja yang kehilangan arah. Tentang keluarga yang rapuh. Tentang masyarakat yang semakin mudah bertengkar karena hal-hal kecil. Tentang bagaimana agama kadang hanya berhenti sebagai ceramah, belum menjadi pelukan sosial. Saya membayangkan, jika pengalaman-pengalaman kecil dari berbagai daerah itu dipertemukan, mungkin akan lahir kekuatan yang lebih besar. Akan ada penyuluh yang tidak lagi merasa sendirian menghadapi keadaan. Tetapi perjalanan setahun ini mengajarkan hal lain: manusia ternyata tidak cukup dipertemukan hanya dengan teknologi.</p>
<p>Ada hal-hal yang jauh lebih rumit daripada membuat platform atau membangun sistem. Yakni membangun rasa percaya, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa mendengar orang lain juga penting di tengah kesibukan diri sendiri. Saya mulai menyadari, mungkin selama ini saya terlalu sibuk membangun sesuatu yang menurut saya dibutuhkan, tetapi belum cukup lama duduk untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan para penyuluh di lapangan. Mungkin mereka tidak selalu membutuhkan ruang besar dengan gagasan yang tinggi. Kadang yang dibutuhkan hanya tempat sederhana untuk saling bertanya, saling mengabari, atau sekadar merasa bahwa ada orang lain yang memahami lelah yang sama.</p>
<p>Suntara mungkin belum tumbuh seperti yang saya bayangkan. Bahkan mungkin masih tertatih mencari bentuknya sendiri. Tetapi kegelisahan yang melahirkannya belum benar-benar hilang. Sebab sampai hari ini saya masih percaya: kita tidak kekurangan orang-orang baik. Kita hanya terlalu jarang dipertemukan.</p>
<p>Ikhwan Syahlani, SHI., Penyuluh Agama Islam KUA Berastagi, Kabupaten Karo Smatera Utara</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/refleksi-setahun-suntara-kerinduan-akan-ruang-bersama/">Refleksi Setahun SUNTARA, Kerinduan Akan Ruang Bersama</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbisnis Lebih Menyenangkan Karena Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menjatuhkan</title>
		<link>https://suntara.or.id/berbisnis-lebih-menyenangkan-karena-bertumbuh-bersama-bukan-saling-menjatuhkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 16:17:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2196</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masjid Agung Kabanjahe,17/05 Kolaborasi antar pelaku usaha memiliki satu kelebihan utama: kita punya kepentingan yang sama, yaitu sama-sama ingin berkembang, mendapatkan pelanggan, meningkatkan penjualan, dan memperoleh keuntungan. Inilah salah satu hal menyenangkan menjadi pengusaha. Saat berkolaborasi dengan sesama pelaku usaha, tujuan kita biasanya lebih selaras. Pemilik usaha kuliner ingin dagangannya laku, platform digital ingin transaksi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berbisnis-lebih-menyenangkan-karena-bertumbuh-bersama-bukan-saling-menjatuhkan/">Berbisnis Lebih Menyenangkan Karena Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menjatuhkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Masjid Agung Kabanjahe,17/05 Kolaborasi antar pelaku usaha memiliki satu kelebihan utama: kita punya kepentingan yang sama, yaitu sama-sama ingin berkembang, mendapatkan pelanggan, meningkatkan penjualan, dan memperoleh keuntungan.</p>
<p>Inilah salah satu hal menyenangkan menjadi pengusaha. Saat berkolaborasi dengan sesama pelaku usaha, tujuan kita biasanya lebih selaras. Pemilik usaha kuliner ingin dagangannya laku, platform digital ingin transaksi meningkat, jasa pengantaran ingin order bertambah, dan konsumen ingin layanan yang mudah. Ketika semua terhubung dalam satu ekosistem, semua pihak sama-sama diuntungkan.</p>
<p>Sebaliknya, dalam banyak bentuk kerja sama lain, sering kali masing-masing pihak memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Ada yang fokus pada target pribadi, ada yang mengejar posisi, ada yang hanya menjalankan kewajiban. Akibatnya, energi yang dikeluarkan lebih banyak untuk menyamakan arah.</p>
<p>Kolaborasi bisnis lebih sederhana: kalau partner bertumbuh, kita juga ikut bertumbuh. Tidak ada alasan untuk menjatuhkan, karena keberhasilan satu pihak justru memperbesar peluang pihak lain.</p>
<p>Melalui ekonomi digital, kolaborasi ini semakin mudah dilakukan. UMKM kini bisa bekerja sama dengan aplikasi lokal, komunitas, reseller, supplier, hingga layanan delivery untuk memperluas pasar. Tidak harus besar untuk mulai berkolaborasi; yang penting punya visi yang sama dan komitmen untuk bertumbuh bersama.</p>
<p>Maka, mindset yang perlu dibangun pelaku UMKM hari ini bukan lagi “bagaimana saya menang sendiri”, tetapi bagaimana kita bisa maju bersama dalam ekosistem yang saling menguntungkan.</p>
<p>Karena pada akhirnya, enaknya berusaha adalah saat kita tidak berjalan sendirian, tetapi bertumbuh bersama orang-orang yang punya tujuan yang sama: membangun usaha yang sehat, berkelanjutan, dan menguntungkan.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berbisnis-lebih-menyenangkan-karena-bertumbuh-bersama-bukan-saling-menjatuhkan/">Berbisnis Lebih Menyenangkan Karena Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menjatuhkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyuluh KUA Berastagi Sosialisasikan Akses Program Beasiswa kepada Siswa SMK</title>
		<link>https://suntara.or.id/penyuluh-agama-islam-di-kua-berastagi-sosialisasikan-akses-program-beasiswa-kepada-siswa-smk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 04:11:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2185</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Berastagi berlangsung dengan penuh antusiasme. Kegiatan ini melibatkan para siswa SMK Al-Karomah Berastagi yang hadir untuk mendapatkan wawasan keagamaan sekaligus motivasi pendidikan. Dalam kesempatan tersebut, penyuluh agama Islam, Ikhwan Syahlani, secara khusus menekankan pentingnya pemanfaatan handphone sebagai sarana untuk mengakses berbagai program beasiswa yang tersedia [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-agama-islam-di-kua-berastagi-sosialisasikan-akses-program-beasiswa-kepada-siswa-smk/">Penyuluh KUA Berastagi Sosialisasikan Akses Program Beasiswa kepada Siswa SMK</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Berastagi berlangsung dengan penuh antusiasme. Kegiatan ini melibatkan para siswa SMK Al-Karomah Berastagi yang hadir untuk mendapatkan wawasan keagamaan sekaligus motivasi pendidikan.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, penyuluh agama Islam, Ikhwan Syahlani, secara khusus menekankan pentingnya pemanfaatan handphone sebagai sarana untuk mengakses berbagai program beasiswa yang tersedia di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa di era digital saat ini, informasi mengenai beasiswa sangat mudah ditemukan, sehingga para siswa diharapkan lebih aktif mencari peluang tersebut.</p>
<p>Ikhwan menjelaskan bahwa program beasiswa tidak hanya diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kurang mampu, tetapi juga terbuka luas bagi siswa yang memiliki kreativitas, inovasi, dan prestasi. Banyak lembaga, baik pemerintah maupun swasta, yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk melanjutkan pendidikan melalui berbagai skema beasiswa.</p>
<p>Lebih lanjut, ia mendorong para siswa untuk mulai membiasakan diri mencari informasi beasiswa sejak dini, memahami persyaratan yang dibutuhkan, serta mempersiapkan diri agar mampu bersaing. Menurutnya, kesungguhan dalam mencari dan memanfaatkan peluang beasiswa dapat menjadi jalan untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi tanpa terkendala biaya.</p>
<p>Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Materi yang disampaikan tidak hanya memberikan pemahaman keagamaan, tetapi juga membuka wawasan mereka tentang pentingnya pendidikan dan peluang yang dapat diraih melalui program beasiswa.</p>
<p>Melalui kegiatan ini, KUA Kecamatan Berastagi diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk lebih proaktif, cerdas dalam memanfaatkan teknologi, serta memiliki semangat tinggi dalam meraih masa depan melalui pendidikan.</p>
<p>Kiatan ini juga menjadi bagian dari inovasi yang dilakukan oleh KUA Kecamatan Berastagi dalam memperluas perannya di tengah masyarakat. KUA tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat pelayanan pernikahan, melainkan juga sebagai pusat edukasi dan pembinaan umat.</p>
<p>Melalui berbagai kegiatan penyuluhan, KUA turut berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, dengan memberikan wawasan keagamaan, motivasi pendidikan, serta informasi penting seperti akses program beasiswa dan pengembangan diri di era digital.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/penyuluh-agama-islam-di-kua-berastagi-sosialisasikan-akses-program-beasiswa-kepada-siswa-smk/">Penyuluh KUA Berastagi Sosialisasikan Akses Program Beasiswa kepada Siswa SMK</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pokjaluh Kab. Karo Bergerak Cepat Tindaklanjuti Hasil Musywil IV Sumatera Utara</title>
		<link>https://suntara.or.id/pokjaluh-kab-karo-bergerak-cepat-tindaklanjuti-hasil-musywil-iv-sumatera-utara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 05:44:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karo — Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kabupaten Karo menunjukkan respons cepat dan sigap dalam menindaklanjuti hasil Musyawarah Wilayah (Musywil) IV Pokjaluh Provinsi Sumatera Utara yang baru saja digelar. Semangat konsolidasi dan penguatan organisasi langsung diwujudkan melalui koordinasi internal serta penguatan solidaritas antar penyuluh agama Islam di daerah tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Pokjaluh [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/pokjaluh-kab-karo-bergerak-cepat-tindaklanjuti-hasil-musywil-iv-sumatera-utara/">Pokjaluh Kab. Karo Bergerak Cepat Tindaklanjuti Hasil Musywil IV Sumatera Utara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Karo</em> — Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kabupaten Karo menunjukkan respons cepat dan sigap dalam menindaklanjuti hasil Musyawarah Wilayah (Musywil) IV Pokjaluh Provinsi Sumatera Utara yang baru saja digelar. Semangat konsolidasi dan penguatan organisasi langsung diwujudkan melalui koordinasi internal serta penguatan solidaritas antar penyuluh agama Islam di daerah tersebut.</p>
<p>Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Pokjaluh Kabupaten Karo dalam menjaga kesinambungan program serta memperkuat peran strategis penyuluh agama di tengah masyarakat. Para pengurus dan anggota Pokjaluh Karo menyadari bahwa hasil Musywil bukan sekadar forum formal, tetapi menjadi pijakan penting dalam meningkatkan kualitas kelembagaan dan kinerja penyuluh.</p>
<p>Senior Pokjaluh Kabupaten Karo, Elismawati,S.Ag menyampaikan bahwa pihaknya segera menginisiasi pertemuan koordinasi guna menyamakan persepsi dan merumuskan langkah konkret pasca-Musywil. “Kami tidak ingin hasil Musywil hanya menjadi dokumen, tetapi benar-benar diimplementasikan melalui langkah nyata di daerah,” ujarnya.</p>
<p>Dalam pertemuan tersebut, para penyuluh menegaskan pentingnya memperkuat komunikasi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mempererat ukhuwah di antara sesama penyuluh. Hal ini dinilai penting mengingat tantangan dakwah dan pembinaan umat yang semakin kompleks di era saat ini.</p>
<p>Selain itu, penguatan struktur kepengurusan juga menjadi fokus utama. Pokjaluh Kabupaten Karo berupaya memastikan bahwa setiap pengurus memiliki peran yang jelas dan mampu menjalankan tugas secara optimal. Dengan demikian, roda organisasi dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.</p>
<p>Respon cepat yang ditunjukkan Pokjaluh Kabupaten Karo ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, karena mencerminkan semangat kolaborasi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas sebagai penyuluh agama.</p>
<p>Ke depan, Pokjaluh Kabupaten Karo berkomitmen untuk terus menjaga sinergi, baik secara internal maupun dengan pemangku kepentingan lainnya, demi terwujudnya penyuluh agama yang berdaya, responsif, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan mental spiritual masyarakat.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/pokjaluh-kab-karo-bergerak-cepat-tindaklanjuti-hasil-musywil-iv-sumatera-utara/">Pokjaluh Kab. Karo Bergerak Cepat Tindaklanjuti Hasil Musywil IV Sumatera Utara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Musyawarah Wilayah IV Pokjaluh Sumut Digelar, Perkuat Peran Penyuluh di Tengah Tantangan Zaman</title>
		<link>https://suntara.or.id/musyawarah-wilayah-iv-pokjaluh-sumut-digelar-perkuat-peran-penyuluh-di-tengah-tantangan-zaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2026 12:14:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2155</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berastagi, 4 April 2026 — Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam (Pokjaluh) Provinsi Sumatera Utara menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-IV pada 4–5 April 2026 di Hotel Rudang Berastagi. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran penyuluh agama dalam menghadapi dinamika sosial dan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/musyawarah-wilayah-iv-pokjaluh-sumut-digelar-perkuat-peran-penyuluh-di-tengah-tantangan-zaman/">Musyawarah Wilayah IV Pokjaluh Sumut Digelar, Perkuat Peran Penyuluh di Tengah Tantangan Zaman</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berastagi, 4 April 2026 — Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam (Pokjaluh) Provinsi Sumatera Utara menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-IV pada 4–5 April 2026 di Hotel Rudang Berastagi. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran penyuluh agama dalam menghadapi dinamika sosial dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.</p>
<p>Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh penting di lingkungan Kementerian Agama Sumatera Utara, di antaranya Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat, dan Wakaf (Penaiszawa) Kanwil Kemenagsu (H. Zulfan Efendi), Kabag TU Kanwil Kemenagsu (Drs.H.Syafrizal Bancin) yang secara resmi membuka kegiatan.</p>
<p>Turut hadir pula Ketua POKJALUH Sumut (Dr. H. Marasakti Bangunan), Kankemenag Kab.Karo (Drs. H. Saparuddin).</p>
<p>Dalam sambutannya, Zulfan Efendi menegaskan pentingnya peran penyuluh agama Islam sebagai garda terdepan dalam membina umat. Ia menyampaikan bahwa penyuluh tidak hanya berfungsi sebagai penyampai pesan keagamaan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mampu merespons berbagai isu kontemporer, termasuk tantangan digitalisasi dan degradasi moral di masyarakat.</p>
<p>“Penyuluh agama harus adaptif, inovatif, dan mampu menjangkau masyarakat dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.</p>
<p>Musyawarah wilayah ini juga menjadi forum evaluasi program kerja sebelumnya sekaligus merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya penyuluh, penguatan sinergi antar lembaga, hingga pemanfaatan media digital dalam dakwah.</p>
<p>Selain sidang pleno, kegiatan juga diisi dengan diskusi panel dan pemaparan materi dari para narasumber. Para peserta yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan.</p>
<p>Ketua panitia menyampaikan harapannya agar Muswil IV ini dapat menghasilkan keputusan yang konstruktif dan membawa dampak nyata bagi penguatan peran penyuluh agama Islam di Sumatera Utara.</p>
<p>Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan Pokjaluh Sumut semakin solid dan mampu berkontribusi aktif dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya saing di era modern.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/musyawarah-wilayah-iv-pokjaluh-sumut-digelar-perkuat-peran-penyuluh-di-tengah-tantangan-zaman/">Musyawarah Wilayah IV Pokjaluh Sumut Digelar, Perkuat Peran Penyuluh di Tengah Tantangan Zaman</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Aplikasi ke Ladang : Goseh Segera Hadirkan Wakaf Produktif Berbasis Pertanian</title>
		<link>https://suntara.or.id/dari-aplikasi-ke-ladang-goseh-hadirkan-wakaf-produktif-berbasis-pertanian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2026 04:20:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2136</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aplikasi Goseh Tanah Karo menginisiasi program wakaf produktif berbasis pertanian sebagai langkah nyata dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya kaum dhuafa. Program ini dijalankan secara mandiri dengan memanfaatkan profit dari Aplikasi Goseh sebagai modal awal. Melalui skema ini, lahan pertanian disewa untuk kemudian dikelola secara produktif dengan menanam berbagai komoditas pangan bernilai ekonomi seperti sayuran. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/dari-aplikasi-ke-ladang-goseh-hadirkan-wakaf-produktif-berbasis-pertanian/">Dari Aplikasi ke Ladang : Goseh Segera Hadirkan Wakaf Produktif Berbasis Pertanian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aplikasi Goseh Tanah Karo menginisiasi program wakaf produktif berbasis pertanian sebagai langkah nyata dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya kaum dhuafa.</p>
<p>Program ini dijalankan secara mandiri dengan memanfaatkan profit dari Aplikasi Goseh sebagai modal awal. Melalui skema ini, lahan pertanian disewa untuk kemudian dikelola secara produktif dengan menanam berbagai komoditas pangan bernilai ekonomi seperti sayuran.</p>
<p>Ikhwan Syahlani menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk komitmen untuk menghadirkan wakaf yang lebih berdampak dan berkelanjutan, tidak hanya sebagai bentuk ibadah, tetapi juga sebagai solusi sosial.</p>
<p>“Wakaf harus bisa bergerak dan memberi manfaat jangka panjang. Melalui pertanian, kita tidak hanya menanam hasil, tetapi juga menanam harapan bagi mereka yang membutuhkan,” ujarnya.</p>
<p>Dalam pelaksanaannya, program ini turut melibatkan masyarakat sekitar sebagai pengelola lahan, sehingga membuka peluang kerja sekaligus meningkatkan keterampilan di sektor pertanian. Hasil panen nantinya akan dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pangan kaum dhuafa serta menjaga keberlangsungan program.</p>
<p>Selain sebagai founder perusahaan teknologi lokal, Ikhwan juga dikenal sebagai penyuluh agama yang aktif mendorong penguatan ekonomi umat berbasis nilai-nilai keislaman. Melalui program ini, ia ingin menghadirkan contoh nyata bahwa wakaf dapat dikelola secara produktif dan modern, selaras dengan kebutuhan zaman.</p>
<p>Program wakaf produktif berbasis pertanian ini saat ini masih dalam tahap awal pengembangan. Ke depan, diharapkan inisiatif ini dapat menjadi model inspiratif yang dapat direplikasi di berbagai daerah serta mendorong keterlibatan lebih luas dari berbagai pihak.</p>
<p>Dengan semangat kemandirian dan keberlanjutan, langkah yang diinisiasi oleh Founder Goseh ini diharapkan mampu memberikan dampak sosial yang nyata sekaligus memperkuat peran wakaf sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat.</p>
<p><strong>Untuk informasi lebih lanjut:</strong><br />
Ikhwan Syahlani (<a href="https://wa.me/6282165284890" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">082165284890</a>)</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/dari-aplikasi-ke-ladang-goseh-hadirkan-wakaf-produktif-berbasis-pertanian/">Dari Aplikasi ke Ladang : Goseh Segera Hadirkan Wakaf Produktif Berbasis Pertanian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
