Oleh: Habibur Rohman, S.Pd.,Gr., CPSQ
Kehadiran ELIPSKI (Elektronik Literasi Pustaka Keagamaan Islam) yang dikembangkan oleh Kementerian Agama RI telah menjadi bagian penting dalam transformasi literasi keagamaan Islam di Indonesia. Sebagai platform perpustakaan Islam digital, ELIPSKI tidak hanya menyediakan ribuan literatur keagamaan, tetapi juga telah hadir dan bekerja secara nyata dalam mendukung kerja-kerja dakwah dan penyuluhan agama di lapangan.
Bagi kami—penyuluh agama sekaligus penulis di komunitas literasi Pena Dai Nusantara—ELIPSKI bukan lagi sekadar konsep atau wacana digital, melainkan ruang rujukan yang sudah dimanfaatkan dan dirasakan manfaatnya. Dalam aktivitas penyuluhan di masjid, majelis taklim, dan komunitas masyarakat, ELIPSKI membantu menyediakan literatur keagamaan yang kredibel, moderat, dan mudah diakses.
Sebagai penyuluh agama, kami berada pada posisi yang unik: menjadi penghubung antara khazanah keilmuan Islam dan realitas sosial umat. Dalam proses ini, ELIPSKI telah berperan sebagai penopang literasi, terutama ketika penyuluh membutuhkan rujukan cepat dan sahih untuk menjawab persoalan umat yang kian kompleks di era digital.
Lebih dari itu, kolaborasi yang telah terbangun antara ELIPSKI dan komunitas literasi seperti Pena Dai Nusantara menunjukkan bahwa literasi keagamaan tidak berhenti pada konsumsi bacaan semata. Melalui ruang-ruang yang tersedia, pengalaman dakwah, refleksi penyuluhan, serta materi khutbah dan tulisan tematik mulai diarahkan untuk terdokumentasi, dikurasi, dan dibagikan secara lebih luas.
Pengalaman lapangan penyuluh agama—yang lahir dari perjumpaan langsung dengan persoalan keluarga, ekonomi umat, toleransi, hingga dinamika keberagamaan—menjadi kekayaan yang bernilai ketika bertemu dengan sistem literasi digital seperti ELIPSKI. Di sinilah literasi dakwah menemukan bentuknya yang lebih utuh: teks bertemu konteks, kitab bertemu kehidupan.
Di tengah derasnya arus konten keagamaan instan di media sosial, kehadiran ELIPSKI juga telah membantu memperkuat otoritas keilmuan penyuluh agama. Dengan rujukan yang terverifikasi dan berlandaskan semangat moderasi beragama, penyuluh memiliki pijakan yang lebih kokoh dalam menyampaikan pesan keagamaan yang menyejukkan dan mencerahkan.
Kolaborasi ini tentu masih terus berproses dan bertumbuh. Namun satu hal yang dapat dirasakan bersama adalah bahwa ELIPSKI telah membuka jalan menuju ekosistem literasi dakwah yang lebih tertata dan berkelanjutan. Penyuluh agama tidak ditempatkan sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai mitra strategis yang turut menghidupkan literasi keagamaan di tingkat akar rumput.
Bagi komunitas Pena Dai Nusantara, kerja sama ini menjadi penguat keyakinan bahwa literasi dakwah bukan hanya soal menulis dan membaca, tetapi tentang merawat pengalaman keagamaan umat agar menjadi pengetahuan yang bermanfaat lintas generasi. ELIPSKI menjadi ruang bersama tempat pengetahuan itu disimpan, dibagikan, dan dikembangkan.
Pada akhirnya, ELIPSKI layak dipahami bukan semata sebagai proyek digital, melainkan sebagai ruang hidup literasi keagamaan yang terus tumbuh melalui kolaborasi negara, penyuluh agama, dan komunitas literasi. Ketika kerja sama ini terus diperkuat, literasi dakwah Islam Indonesia tidak hanya terdigitalisasi, tetapi juga semakin membumi, relevan, dan bermakna bagi umat dan bangsa.