Di tengah derasnya perubahan sosial, penyuluh agama sesungguhnya memikul tugas yang semakin berat. Mereka bukan hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat bertanya, mengadu, bahkan mencari ketenangan di tengah keadaan yang sering tidak menentu. Namun di balik peran itu, para penyuluh kerap bekerja dalam ruang yang sunyi: bergerak sendiri-sendiri, sibuk dengan wilayah binaan masing-masing, dan jarang memiliki ruang yang benar-benar mempertemukan pengalaman maupun kegelisahan mereka sebagai sesama pelayan masyarakat.
Padahal tantangan yang dihadapi hampir serupa. Tentang masyarakat yang berubah cepat, generasi muda yang semakin jauh dari ruang-ruang pembinaan, persoalan sosial yang semakin rumit, hingga tuntutan administrasi yang sering menguras tenaga. Banyak gagasan baik lahir di lapangan, tetapi tidak sempat berkembang karena berhenti di daerahnya masing-masing. Tidak ada cukup ruang untuk saling belajar, saling menyambung pengalaman, atau sekadar mengetahui bahwa di tempat lain ada orang-orang yang sedang berjuang dengan keresahan yang sama.
Dari kegelisahan itulah setahun lalu saya pernah percaya bahwa jarak antar penyuluh agama di negeri ini sebenarnya bisa dipendekkan. Bukan dengan perjalanan dinas, bukan pula lewat forum-forum seremonial, melainkan melalui sebuah ruang bersama yang memungkinkan orang-orang saling bertemu pikiran, pengalaman, dan keresahan. Dari keyakinan kecil itu lahirlah sebuah gagasan bernama Suntara (Suluh Nusantara).

Nama itu terdengar besar. Mungkin terlalu besar untuk sesuatu yang lahir dari kegelisahan sederhana: melihat para penyuluh bekerja dalam kesunyian masing-masing. Kita sering berada di tengah masyarakat, berbicara tentang persaudaraan, gotong royong, dan pentingnya saling menguatkan. Tetapi sesama penyuluh sendiri kerap berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing sibuk dengan wilayah binaannya, programnya, laporannya, dan persoalan masyarakat yang datang silih berganti tanpa jeda.
Padahal sering kali masalah yang dihadapi serupa. Tentang remaja yang kehilangan arah. Tentang keluarga yang rapuh. Tentang masyarakat yang semakin mudah bertengkar karena hal-hal kecil. Tentang bagaimana agama kadang hanya berhenti sebagai ceramah, belum menjadi pelukan sosial. Saya membayangkan, jika pengalaman-pengalaman kecil dari berbagai daerah itu dipertemukan, mungkin akan lahir kekuatan yang lebih besar. Akan ada penyuluh yang tidak lagi merasa sendirian menghadapi keadaan. Tetapi perjalanan setahun ini mengajarkan hal lain: manusia ternyata tidak cukup dipertemukan hanya dengan teknologi.
Ada hal-hal yang jauh lebih rumit daripada membuat platform atau membangun sistem. Yakni membangun rasa percaya, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa mendengar orang lain juga penting di tengah kesibukan diri sendiri. Saya mulai menyadari, mungkin selama ini saya terlalu sibuk membangun sesuatu yang menurut saya dibutuhkan, tetapi belum cukup lama duduk untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan para penyuluh di lapangan. Mungkin mereka tidak selalu membutuhkan ruang besar dengan gagasan yang tinggi. Kadang yang dibutuhkan hanya tempat sederhana untuk saling bertanya, saling mengabari, atau sekadar merasa bahwa ada orang lain yang memahami lelah yang sama.
Suntara mungkin belum tumbuh seperti yang saya bayangkan. Bahkan mungkin masih tertatih mencari bentuknya sendiri. Tetapi kegelisahan yang melahirkannya belum benar-benar hilang. Sebab sampai hari ini saya masih percaya: kita tidak kekurangan orang-orang baik. Kita hanya terlalu jarang dipertemukan.
Ikhwan Syahlani, SHI., Penyuluh Agama Islam KUA Berastagi, Kabupaten Karo Smatera Utara