BERASTAGI — Suasana haru mewarnai pengambilan gambar pertama film yang mengangkat kisah seorang guru ngaji sekaligus pengemudi ojek online. Adegan sederhana tentang percakapan suami-istri itu ternyata mampu membuat sejumlah kru terdiam dan larut dalam emosi.
Dalam adegan tersebut, istri Husein sedang melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran. Di sisi lain, Husein duduk sambil memijat kakinya setelah seharian bekerja. Percakapan mereka perlahan mengarah pada persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: tagihan listrik, uang sekolah anak, hingga tabung gas yang kosong.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara yang meninggi. Justru percakapan yang tenang itu menghadirkan kesedihan yang terasa lebih dalam.
Kegelisahan sang istri bukan karena ia menolak pengabdian Husein sebagai guru ngaji. Ia hanya takut keluarganya tidak mampu bertahan jika kebutuhan sehari-hari terus terabaikan.
Adegan tersebut menjadi take pertama dalam proses produksi film yang mengangkat tema Sakinah Maslahat.
Film ini berkisah tentang Husein, seorang guru ngaji yang juga bekerja sebagai driver ojol demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia menjalani dua peran sekaligus: mencari nafkah dan mengajar anak-anak mengaji di masjid.
Persoalan muncul ketika sebuah order ojol datang bertepatan dengan jadwal mengajarnya. Husein memilih mengajar dan membatalkan pesanan. Akibatnya, akun ojol miliknya mendapat sanksi dan dinonaktifkan sementara.
Bagi Husein, satu hari tanpa bekerja bukan persoalan kecil. Pendapatan harian sangat berarti bagi keluarganya. Konflik kemudian berkembang menjadi persoalan rumah tangga. Husein berada pada persimpangan antara memenuhi kebutuhan keluarga dan mempertahankan pengabdiannya kepada masyarakat.
Namun film ini tidak ingin berhenti pada pertanyaan tentang mana yang harus dipilih. Justru di situlah gagasan utama film dibangun.
Ketika Husein akhirnya memutuskan berhenti mengajar agar dapat lebih fokus mencari nafkah, masyarakat mulai menyadari bahwa selama ini mereka telah menerima manfaat besar dari pengabdiannya. Anak-anak kehilangan guru mengaji. Masjid kehilangan sosok yang selama ini menghidupkan kegiatan tersebut.
Melalui musyawarah, masyarakat kemudian mencari jalan keluar. Mereka tidak ingin Husein mengorbankan keluarganya demi pengabdian, tetapi juga tidak ingin pengabdian Husein berhenti karena persoalan ekonomi.
Film ini mencoba menawarkan pemaknaan bahwa keluarga sakinah bukan hanya keluarga yang mampu menjaga ketenangan di dalam rumah, tetapi juga keluarga yang menghadirkan manfaat bagi lingkungan. Sebaliknya, masyarakat yang merasakan manfaat juga memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga keluarga yang menghadirkan manfaat tersebut.
Take pertama telah dimulai. Kamera masih akan merekam banyak adegan berikutnya.
Namun sejak hari pertama, satu hal sudah terasa: kisah Husein bukan sekadar cerita tentang guru ngaji dan driver ojol.
Ini adalah cerita tentang keluarga, pengabdian, dan masyarakat yang belajar bahwa kebaikan yang ingin terus hidup harus dijaga bersama.