Berebut Mimbar di Hari Besar, Dakwah Berubah Jadi Ajang Gelar

Picture of Ikhwan Sy

Ikhwan Sy

Penulis

Setiap tahun, menjelang hari-hari besar Islam seperti Idul Adha atau Idul Fitri, ada satu fenomena yang diam-diam terus berulang di tengah masyarakat. Bukan tentang persiapan kurban, bukan tentang semangat berbagi, melainkan tentang perebutan mimbar. Ada yang kecewa karena tidak ditunjuk menjadi khatib. Ada yang merasa lebih pantas menjadi imam. Ada yang tersinggung karena namanya tidak masuk dalam susunan petugas hari raya. Bahkan tidak jarang muncul kelompok-kelompok kecil yang saling menjauh hanya karena urusan siapa yang berdiri di podium.

Ironisnya, semua itu terjadi di atas nama dakwah.

Padahal dakwah tidak pernah sesempit pengeras suara masjid. Dakwah juga tidak hanya hidup di atas mimbar megah atau di hadapan ribuan jamaah. Jika dakwah hanya dipahami sebagai kesempatan berbicara di depan umum, maka kita sedang memperkecil makna Islam itu sendiri.

Hari ini, sebagian orang mulai mengukur keberhasilan dakwah dari seberapa besar masjid tempat ia berceramah, seberapa banyak jamaah yang hadir, atau seberapa sering namanya disebut panitia. Akibatnya, mimbar berubah menjadi simbol prestise, bukan lagi amanah. Ketika kesempatan itu tidak didapatkan, lahirlah kekecewaan, persaingan, bahkan konflik yang kadang lebih besar daripada nilai dakwah yang ingin disampaikan.

Padahal Rasulullah ﷺ tidak membangun pengaruh hanya dari podium. Beliau berdakwah melalui akhlak, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian terhadap masyarakat. Banyak hati luluh bukan karena pidato panjang, tetapi karena keteladanan yang nyata.

Ada orang yang tidak pernah menjadi khatib Idul Adha, tetapi setiap hari membantu tetangga yang kesulitan. Ada yang tidak pernah berdiri di mimbar besar, tetapi membiayai anak yatim untuk sekolah. Ada yang suaranya tidak pernah terdengar di pengeras masjid, tetapi tutur katanya membuat keluarganya lebih dekat kepada agama. Bukankah itu juga dakwah?

Kita sering lupa bahwa masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan ceramah, tetapi juga contoh hidup. Dunia sudah terlalu penuh dengan orang yang pandai berbicara, namun kekurangan orang yang mampu menghadirkan ketenangan, kejujuran, dan kasih sayang dalam kehidupan nyata.

Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk merenung. Hari raya kurban mengajarkan tentang keikhlasan melepaskan ego. Nabi Ibrahim tidak mempertahankan keinginannya sendiri ketika diuji oleh Allah. Namun di zaman sekarang, kadang justru ego tumbuh di sekitar syiar agama. Kita rela berdebat demi posisi, tetapi lupa memperbaiki hati.

Mimbar hanyalah tempat. Dakwah yang sesungguhnya adalah bagaimana manusia menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan. Seorang pedagang yang jujur sedang berdakwah. Seorang ayah yang lembut kepada keluarganya sedang berdakwah. Seorang pemuda yang menjaga lisannya di media sosial juga sedang berdakwah.

Tidak semua orang harus berdiri di podium untuk menjadi jalan kebaikan.

Bisa jadi, suara yang paling didengar Allah bukan berasal dari mikrofon masjid terbesar, melainkan dari hati yang tulus membantu sesama tanpa ingin dipuji siapa pun.

Masyarakat perlu kembali memahami bahwa kemuliaan dalam dakwah bukan terletak pada siapa yang paling sering tampil, tetapi siapa yang paling ikhlas memberi manfaat. Sebab ketika dakwah berubah menjadi ajang perebutan panggung, maka yang hilang bukan hanya ketenangan umat, tetapi juga ruh keikhlasan itu sendiri.

Dan mungkin, di situlah letak ironi terbesar kita hari ini: terlalu sibuk mencari tempat untuk berbicara, sampai lupa menjadi teladan dalam kehidupan.

Terbaru

Artikel Terkait

Lainnya