<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suntara</title>
	<atom:link href="https://suntara.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suntara.or.id/</link>
	<description>Media kolaborasi Penyuluh Se-Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Jun 2026 00:50:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2025/06/cropped-ikon-logo-suntara-32x32.png</url>
	<title>Suntara</title>
	<link>https://suntara.or.id/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bos Goseh Ajak Semua Pihak Menahan Diri, Utamakan Ukhuwah di Tengah Polemik Gus Ipul dan Hamzah Sahal</title>
		<link>https://suntara.or.id/bos-goseh-ajak-semua-pihak-menahan-diri-utamakan-ukhuwah-di-tengah-polemik-gus-ipul-dan-hamzah-sahal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2026 00:07:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2240</guid>

					<description><![CDATA[<p>Polemik yang berkembang antara Menteri Sosial sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, dan pegiat media sosial sekaligus penulis, Hamzah Sahal, mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Di tengah dinamika yang terjadi, Founder Goseh, Ikhwan Syahlani, yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam di KUA Berastagi mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan semangat persaudaraan sebagaimana diajarkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/bos-goseh-ajak-semua-pihak-menahan-diri-utamakan-ukhuwah-di-tengah-polemik-gus-ipul-dan-hamzah-sahal/">Bos Goseh Ajak Semua Pihak Menahan Diri, Utamakan Ukhuwah di Tengah Polemik Gus Ipul dan Hamzah Sahal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Polemik yang berkembang antara Menteri Sosial sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, dan pegiat media sosial sekaligus penulis, Hamzah Sahal, mendapat perhatian dari berbagai kalangan.</p>
<p>Di tengah dinamika yang terjadi, Founder Goseh, Ikhwan Syahlani, yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam di KUA Berastagi mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan semangat persaudaraan sebagaimana diajarkan Nahdlatul Ulama (NU).</p>
<p>Menurut Ikhwan, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi maupun demokrasi. Namun, setiap perbedaan hendaknya disikapi dengan kepala dingin dan tetap mengedepankan adab serta etika dalam menyampaikan pendapat.</p>
<p>&#8220;NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia telah mengajarkan nilai-nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i&#8217;tidal (adil). Nilai-nilai ini penting untuk terus dijaga dalam menyikapi setiap perbedaan yang muncul,&#8221; kata Ikhwan Syahlani kepada media, Jumat (19/6/2026).</p>
<p>Masyarakat diharapkan tidak memperkeruh suasana dengan spekulasi maupun narasi yang berpotensi memperlebar jurang perbedaan. &#8220;Biarlah proses yang sedang berjalan diselesaikan melalui jalur yang telah disediakan oleh negara dan lembaga yang berwenang.</p>
<p>Kita semua perlu memberikan ruang bagi proses tersebut untuk berjalan secara objektif dan profesional,&#8221; ujarnya. Ikhwan mengatakan, kondisi bangsa saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan ekonomi, lapangan pekerjaan, hingga kebutuhan masyarakat terhadap stabilitas sosial. Karena itu, energi bangsa seharusnya diarahkan untuk membangun optimisme dan kerja sama.</p>
<p><img decoding="async" class="wp-image-2242 size-medium" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc-300x165.png" alt="" width="300" height="165" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc-300x165.png 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc-768x422.png 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/xc.png 900w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Ikhwan Syahlani, SHI&#8221;Kami yang berada di ujung Sumatera pun ikut merasakan energi negatif ketika muncul ketegangan yang berkepanjangan di ruang publik.</p>
<p>Padahal masyarakat saat ini membutuhkan banyak kabar baik, membutuhkan teladan persatuan, dan membutuhkan tokoh-tokoh yang mampu menjadi perekat bangsa,&#8221; katanya.</p>
<p>Sebagai pelaku usaha digital lokal yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat, Ikhwan mengaku memahami pentingnya menjaga suasana yang kondusif. Menurutnya, seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan dan menghindari polarisasi yang tidak produktif.</p>
<p>&#8220;Semua pihak harus tetap profesional menjalankan tugas dan pengabdiannya masing-masing. Para ulama, tokoh masyarakat, pejabat negara, insan pers, aktivis media sosial, hingga pelaku usaha memiliki peran penting dalam menjaga ketenangan masyarakat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ikhwan juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh sampai menghilangkan rasa hormat antar sesama. Dalam tradisi NU, musyawarah dan tabayun selalu menjadi jalan utama untuk menyelesaikan persoalan.</p>
<p>&#8220;Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai kehilangan ukhuwah. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan yang merugikan umat dan bangsa,&#8221; katanya.</p>
<p>Ikhwan Syahlani merupakan Founder Goseh, sebuah platform transportasi dan layanan digital lokal yang beroperasi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.</p>
<p>Melalui Goseh, ia bersama ratusan mitra pengemudi berupaya mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui pemanfaatan teknologi digital. Aplikasi Goseh saat ini tersedia untuk perangkat Android melalui <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.myGoseh.Goseh&amp;hl=id&amp;utm_source=chatgpt.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">Google Play Store Goseh</a> dan perangkat iOS melalui <a href="https://apps.apple.com/id/app/goseh/id6746654566?utm_source=chatgpt.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">App Store Goseh</a>.</p>
<p>Menutup pernyataannya, Ikhwan berharap seluruh pihak dapat kembali fokus pada agenda-agenda besar kemasyarakatan yang lebih bermanfaat bagi umat.</p>
<p>&#8220;Indonesia membutuhkan energi positif. Mari kita rawat persatuan, memperkuat silaturahim, dan bersama-sama membangun bangsa dengan semangat saling menghormati serta saling menguatkan,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/bos-goseh-ajak-semua-pihak-menahan-diri-utamakan-ukhuwah-di-tengah-polemik-gus-ipul-dan-hamzah-sahal/">Bos Goseh Ajak Semua Pihak Menahan Diri, Utamakan Ukhuwah di Tengah Polemik Gus Ipul dan Hamzah Sahal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menuju GOSEH Anniversary Ke-8 Di Sinabung Hills : Momentum Penyuluhan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal</title>
		<link>https://suntara.or.id/menuju-goseh-anniversary-ke-8-di-sinabung-hills-momentum-penyuluhan-dan-pemberdayaan-ekonomi-lokal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2026 13:57:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekraf]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2237</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perayaan ulang tahun ke-8 𝗚𝗢𝗦𝗘𝗛 yang akan diadakan di Sinabubg Hills Berastagi pada 18 Agustus tahun ini akan menjadi momen yang berbeda. Tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan perayaan atas perjalanan panjang perusahaan, GOSEH juga ingin menjadikan momentum ini sebagai sarana penyuluhan dan pemberdayaan ekonomi lokal yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Saat ini, pihak [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/menuju-goseh-anniversary-ke-8-di-sinabung-hills-momentum-penyuluhan-dan-pemberdayaan-ekonomi-lokal/">Menuju GOSEH Anniversary Ke-8 Di Sinabung Hills : Momentum Penyuluhan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perayaan ulang tahun ke-8 𝗚𝗢𝗦𝗘𝗛 yang akan diadakan di Sinabubg Hills Berastagi pada 18 Agustus tahun ini akan menjadi momen yang berbeda. Tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan perayaan atas perjalanan panjang perusahaan, GOSEH juga ingin menjadikan momentum ini sebagai sarana penyuluhan dan pemberdayaan ekonomi lokal yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.</p>
<p>Saat ini, pihak manajemen GOSEH terus mematangkan berbagai persiapan, termasuk melakukan koordinasi dan negosiasi dengan pihak hotel terkait fasilitas, kapasitas peserta, serta konsep acara yang akan diusung.</p>
<p>Pemilihan Sinabung Hills sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan. Berada di kawasan sejuk Berastagi dengan panorama alam yang indah, lokasi ini diharapkan mampu menghadirkan suasana yang nyaman sekaligus menginspirasi. Lebih dari sekadar tempat penyelenggaraan, Sinabung Hills akan menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan dan semangat untuk tumbuh bersama.</p>
<p>Mengusung tema pemberdayaan ekonomi, GOSEH ingin menghadirkan kegiatan penyuluhan yang memberikan wawasan kepada para mitra dan masyarakat mengenai peluang usaha di era digital. Berbagai materi akan diarahkan pada penguatan kapasitas pelaku usaha, pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan pendapatan, serta pentingnya membangun kolaborasi untuk menciptakan ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.</p>
<p>Selama delapan tahun perjalanan, GOSEH telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran layanan transportasi dan pengantaran berbasis aplikasi tidak hanya memudahkan mobilitas, tetapi juga membuka kesempatan kerja, memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM, serta mendorong tumbuhnya ekonomi lokal di berbagai daerah.</p>
<p>Karena itu, anniversary kali ini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, melainkan juga menjadi refleksi dan komitmen bersama untuk terus berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, GOSEH ingin membuktikan bahwa teknologi dan inovasi dapat berjalan seiring dengan upaya pemberdayaan ekonomi yang inklusif.</p>
<p>Menuju GOSEH Anniversary Ke-8 di Sinabung Hills, seluruh keluarga besar GOSEH bersiap menyambut sebuah perayaan yang bukan hanya meriah, tetapi juga penuh makna. Sebuah momentum untuk berbagi ilmu, memperkuat kolaborasi, dan bersama-sama membangun ekonomi lokal yang lebih tangguh di masa depan.</p>
<p>Delapan tahun melangkah bersama, delapan tahun tumbuh bersama, dan kini saatnya melangkah lebih jauh untuk memberdayakan ekonomi lokal demi kesejahteraan bersama.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/menuju-goseh-anniversary-ke-8-di-sinabung-hills-momentum-penyuluhan-dan-pemberdayaan-ekonomi-lokal/">Menuju GOSEH Anniversary Ke-8 Di Sinabung Hills : Momentum Penyuluhan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Arah Kiblat Sudah Menjamur, Masih Perlukah Tim Pengukur Kiblat?</title>
		<link>https://suntara.or.id/aplikasi-arah-kiblat-sudah-menjamur-masih-perlukah-tim-pengukur-kiblat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 08:13:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2234</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di zaman ketika hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi melalui telepon genggam, pertanyaan ini terasa semakin relevan: masih perlukah pengukuran arah kiblat dilakukan secara manual? Hari ini, cukup membuka aplikasi di smartphone, lalu dalam hitungan detik muncul panah yang menunjukkan arah Ka&#8217;bah. Bahkan banyak aplikasi salat, peta digital, hingga fitur bawaan ponsel yang mampu menampilkan arah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/aplikasi-arah-kiblat-sudah-menjamur-masih-perlukah-tim-pengukur-kiblat/">Aplikasi Arah Kiblat Sudah Menjamur, Masih Perlukah Tim Pengukur Kiblat?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di zaman ketika hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi melalui telepon genggam, pertanyaan ini terasa semakin relevan: masih perlukah pengukuran arah kiblat dilakukan secara manual?</p>
<p>Hari ini, cukup membuka aplikasi di smartphone, lalu dalam hitungan detik muncul panah yang menunjukkan arah Ka&#8217;bah. Bahkan banyak aplikasi salat, peta digital, hingga fitur bawaan ponsel yang mampu menampilkan arah kiblat secara instan. Di tengah kemudahan tersebut, sebagian masyarakat mungkin bertanya-tanya, mengapa masih ada petugas, penyuluh agama, atau tim falak yang datang ke masjid untuk melakukan pengukuran arah kiblat secara manual? Apakah itu sekadar tradisi yang belum ditinggalkan, atau memang masih diperlukan?</p>
<p>Pertanyaan ini menarik untuk dikaji. Sebab di satu sisi, teknologi memang telah memberikan kemudahan yang luar biasa. Namun di sisi lain, kemudahan tidak selalu identik dengan ketepatan.</p>
<p>Sebagian besar aplikasi arah kiblat bekerja dengan memanfaatkan GPS, kompas digital, dan sensor magnetik pada ponsel. Masalahnya, tidak semua perangkat memiliki tingkat akurasi yang sama. Gangguan medan magnet, posisi pengguna, kualitas sensor, hingga kesalahan kalibrasi dapat menyebabkan hasil yang ditampilkan meleset beberapa derajat. Untuk penggunaan pribadi, selisih kecil tersebut mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Namun untuk bangunan permanen seperti masjid, musala, atau pesantren, tingkat ketelitian tentu menjadi lebih penting.</p>
<p>Di sinilah pengukuran manual atau pengukuran teknis oleh ahli falak masih memiliki peran. Menariknya, istilah &#8220;manual&#8221; sebenarnya sering disalahpahami. Pengukuran arah kiblat yang dilakukan petugas saat ini bukan berarti menggunakan perkiraan atau metode tradisional semata. Banyak di antaranya justru memanfaatkan data astronomi, koordinat geografis, perangkat ukur modern, hingga metode Rashdul Kiblat yang secara ilmiah sangat akurat.</p>
<p>Dengan kata lain, yang dilakukan bukanlah pertarungan antara metode lama melawan teknologi baru. Yang terjadi justru kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Lalu apakah setiap rumah harus diukur ulang secara manual? Tentu tidak. Untuk kebutuhan ibadah sehari-hari, aplikasi arah kiblat yang terpercaya umumnya sudah sangat membantu. Namun untuk pembangunan atau penetapan arah kiblat masjid dan musala yang akan digunakan masyarakat dalam jangka panjang, proses verifikasi dan pengukuran yang lebih akurat tetap diperlukan.</p>
<p>Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah &#8220;Apakah pengukuran manual masih relevan?&#8221; melainkan &#8220;Seberapa penting tingkat akurasi yang kita butuhkan?&#8221;</p>
<p>Karena pada akhirnya, teknologi memang memudahkan kita menemukan arah kiblat. Tetapi ketelitian dalam memastikan arah tersebut tetap menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadapkan diri ke tempat yang sama: Ka&#8217;bah di Makkah. Dan dalam urusan ibadah, terkadang yang dicari bukan hanya kemudahan, melainkan juga keyakinan.</p>
<p>Di era digital ini, aplikasi boleh menjadi penunjuk jalan. Namun ilmu falak dan pengukuran yang tepat tetap menjadi kompas yang memastikan kita tidak sekadar mengikuti arah, tetapi juga memahami alasan di baliknya. Sebab teknologi dapat berubah setiap tahun, tetapi kebutuhan akan kepastian dan ketepatan akan selalu relevan sepanjang zaman.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/aplikasi-arah-kiblat-sudah-menjamur-masih-perlukah-tim-pengukur-kiblat/">Aplikasi Arah Kiblat Sudah Menjamur, Masih Perlukah Tim Pengukur Kiblat?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Antara Amanah dan Tanggung Jawab: Catatan Seorang P3H di Kabupaten Karo</title>
		<link>https://suntara.or.id/di-antara-amanah-dan-tanggung-jawab-catatan-seorang-p3h-di-kabupaten-karo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 03:46:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2229</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjelang pelaksanaan program Wajib Halal Oktober 2026, berbagai kegiatan sosialisasi terus dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai Pendamping Proses Produk Halal (P3H) sekaligus penyuluh agama Islam di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, saya merasakan bahwa peran ini tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Di satu sisi, terdapat tanggung jawab untuk mendukung dan menyukseskan program pemerintah dalam [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/di-antara-amanah-dan-tanggung-jawab-catatan-seorang-p3h-di-kabupaten-karo/">Di Antara Amanah dan Tanggung Jawab: Catatan Seorang P3H di Kabupaten Karo</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang pelaksanaan program Wajib Halal Oktober 2026, berbagai kegiatan sosialisasi terus dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai Pendamping Proses Produk Halal (P3H) sekaligus penyuluh agama Islam di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, saya merasakan bahwa peran ini tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Di satu sisi, terdapat tanggung jawab untuk mendukung dan menyukseskan program pemerintah dalam memperluas ekosistem halal nasional. Namun di sisi lain, pengalaman di lapangan kerap menghadirkan ruang perenungan yang tidak sederhana.</p>
<p>Salah satu fenomena yang cukup menarik adalah tingginya minat pelaku usaha non-Muslim dalam mengurus sertifikasi halal. Kondisi ini tentu patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa sertifikasi halal tidak lagi dipandang semata sebagai kebutuhan umat Islam, melainkan juga sebagai bentuk jaminan mutu dan kepercayaan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial yang luas. Hal ini mencerminkan semakin tumbuhnya kesadaran bahwa produk halal memiliki daya saing dan kredibilitas yang tinggi di tengah masyarakat.</p>
<p>Meski demikian, sebagai seorang Muslim yang turut mengemban amanah dalam proses pendampingan halal, ada sejumlah pertanyaan yang sering muncul dalam benak saya. Apakah seluruh tahapan produksi telah benar-benar memenuhi ketentuan halal sebagaimana yang dipersyaratkan? Seberapa kuat komitmen pelaku usaha untuk menjaga konsistensi penggunaan bahan baku, proses produksi, hingga penyajian produk setelah sertifikat halal diperoleh? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana keberlanjutan pengawasan dapat dilakukan secara optimal di tengah keterbatasan sumber daya yang tersedia?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah bentuk keraguan terhadap individu atau kelompok tertentu. Sebaliknya, hal itu lahir dari rasa tanggung jawab moral yang melekat pada tugas yang saya jalankan. Bagi saya, sertifikat halal bukan sekadar dokumen administratif yang memenuhi ketentuan regulasi. Di balik sertifikat tersebut terdapat amanah besar yang berkaitan dengan keyakinan, kepercayaan, dan ketenteraman hati umat Islam dalam mengonsumsi suatu produk.</p>
<p>Pada saat yang sama, saya juga menyadari bahwa tugas seorang P3H bukanlah menilai suatu usaha berdasarkan latar belakang agama pemiliknya. Sistem sertifikasi halal dibangun atas dasar pemenuhan standar, kelengkapan dokumen, dan kesesuaian proses yang berlaku bagi seluruh pelaku usaha tanpa membedakan agama, suku, maupun status sosial. Dalam kerangka itulah profesionalitas dan integritas harus senantiasa dijaga.</p>
<p>Sebagai penyuluh agama Islam, saya berharap program Wajib Halal tidak hanya berorientasi pada pencapaian target sertifikasi atau angka statistik semata. Lebih dari itu, program ini hendaknya menjadi sarana edukasi yang mampu menumbuhkan kesadaran, kejujuran, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kehalalan produk yang beredar di masyarakat.</p>
<p>Di Kabupaten Karo, saya berupaya menjalankan amanah ini dengan penuh kesungguhan. Saya meyakini bahwa tugas negara dan tanggung jawab moral bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama dilandasi oleh kejujuran, kehati-hatian, serta komitmen yang kuat terhadap prinsip-prinsip halal. Sebab pada akhirnya, halal bukan hanya tentang memperoleh sertifikat, melainkan tentang menjaga amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>𝗜𝗸𝗵𝘄𝗮𝗻 𝗦𝘆𝗮𝗵𝗹𝗮𝗻𝗶, 𝗦𝗛𝗜 (P3H Kabupaten Karo)</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/di-antara-amanah-dan-tanggung-jawab-catatan-seorang-p3h-di-kabupaten-karo/">Di Antara Amanah dan Tanggung Jawab: Catatan Seorang P3H di Kabupaten Karo</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Zona Kolaborasi: Gagasan Sederhana untuk Dampak Penyuluhan yang Lebih Besar</title>
		<link>https://suntara.or.id/zona-kolaborasi-gagasan-sederhana-untuk-dampak-penyuluhan-yang-lebih-besar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2026 11:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2226</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah tantangan penyuluhan agama yang semakin kompleks, kolaborasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Kabupaten Karo dengan kondisi geografis yang luas, karakter masyarakat yang beragam, serta sebaran wilayah binaan yang cukup jauh sering kali membuat sebagian penyuluh bekerja dalam ruang yang terbatas. Tidak sedikit yang harus menjalankan tugasnya secara mandiri dengan segala keterbatasan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/zona-kolaborasi-gagasan-sederhana-untuk-dampak-penyuluhan-yang-lebih-besar/">Zona Kolaborasi: Gagasan Sederhana untuk Dampak Penyuluhan yang Lebih Besar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah tantangan penyuluhan agama yang semakin kompleks, kolaborasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Kabupaten Karo dengan kondisi geografis yang luas, karakter masyarakat yang beragam, serta sebaran wilayah binaan yang cukup jauh sering kali membuat sebagian penyuluh bekerja dalam ruang yang terbatas. Tidak sedikit yang harus menjalankan tugasnya secara mandiri dengan segala keterbatasan yang ada.</p>
<p>Dalam sebuah diskusi dan obrolan santai bersama Kepala KUA Berastagi, Bapak H. Fahmi Sahuddin Tarigan, muncul sebuah gagasan menarik yang patut dipertimbangkan sebagai langkah penguatan penyuluhan agama di Kabupaten Karo. Gagasan tersebut adalah membagi wilayah penyuluhan ke dalam beberapa zona berdasarkan kecamatan. Misalnya, Kabupaten Karo dibagi menjadi empat zona yang masing-masing terdiri dari beberapa kecamatan yang berdekatan.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2227" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/Logopit_1780829612259-300x169.jpg" alt="" width="300" height="169" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/Logopit_1780829612259-300x169.jpg 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/Logopit_1780829612259-768x432.jpg 768w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/06/Logopit_1780829612259.jpg 800w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Sekilas, ide ini tampak sederhana. Namun jika dikelola dengan baik, dampaknya bisa sangat besar. Pembagian zona bukan hanya soal membagi wilayah kerja, melainkan membangun ekosistem kolaborasi yang lebih kuat di antara para penyuluh.</p>
<p>Melalui sistem zona, penyuluh tidak lagi merasa bekerja sendiri. Setiap program dapat dirancang dan dilaksanakan secara bersama-sama. Kegiatan pembinaan masyarakat, sosialisasi program pemerintah, edukasi keluarga sakinah, moderasi beragama, hingga pendampingan sertifikasi halal dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan efektif.</p>
<p>Lebih dari itu, zona penyuluhan dapat menjadi ruang bertukar gagasan dan pengalaman. Setiap penyuluh memiliki kelebihan, pendekatan, dan pengalaman yang berbeda. Ketika mereka berada dalam satu wadah kolaborasi yang terstruktur, maka akan lahir berbagai inovasi yang mungkin tidak muncul jika bekerja secara individual.</p>
<p>Sistem ini juga membuka peluang lahirnya program-program unggulan di setiap zona. Ada zona yang fokus pada pemberdayaan ekonomi umat, ada yang mengembangkan pembinaan generasi muda, ada pula yang menjadi model penguatan keluarga dan masyarakat. Keberhasilan di satu zona dapat menjadi inspirasi bagi zona lainnya.</p>
<p>Pada akhirnya, tujuan terbesar dari gagasan ini bukan sekadar membagi wilayah kerja. Tujuannya adalah membangun kebersamaan, memperkuat koordinasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.</p>
<p>Kabupaten Karo memiliki banyak penyuluh yang kompeten, berdedikasi, dan memiliki semangat pengabdian yang tinggi. Yang dibutuhkan hanyalah sebuah sistem yang mampu menyatukan energi tersebut dalam satu gerakan bersama. Mungkin, pembentukan zona penyuluhan adalah salah satu langkah kecil yang dapat melahirkan perubahan besar bagi masa depan penyuluhan agama Islam di Kabupaten Karo. Karena ketika para penyuluh bergerak bersama, manfaatnya akan jauh lebih luas daripada ketika mereka berjalan sendiri-sendiri.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/zona-kolaborasi-gagasan-sederhana-untuk-dampak-penyuluhan-yang-lebih-besar/">Zona Kolaborasi: Gagasan Sederhana untuk Dampak Penyuluhan yang Lebih Besar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perkuat Ekonomi Lokal, GOSEH Luncurkan Diskon Ongkir Hingga 60 Persen</title>
		<link>https://suntara.or.id/perkuat-ekonomi-goseh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 13:56:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2220</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, kemajuan teknologi akan lebih bermakna apabila mampu menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu upaya yang patut diapresiasi adalah hadirnya aplikasi GOSEH, sebuah layanan delivery yang berfokus pada penguatan potensi ekonomi lokal. Dalam perspektif penyuluhan agama [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/perkuat-ekonomi-goseh/">Perkuat Ekonomi Lokal, GOSEH Luncurkan Diskon Ongkir Hingga 60 Persen</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, kemajuan teknologi akan lebih bermakna apabila mampu menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu upaya yang patut diapresiasi adalah hadirnya aplikasi GOSEH, sebuah layanan delivery yang berfokus pada penguatan potensi ekonomi lokal.</p>
<p>Dalam perspektif penyuluhan agama Islam, pembangunan ekonomi tidak hanya bertujuan meningkatkan keuntungan, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Islam mengajarkan pentingnya bekerja, berdagang secara jujur, serta saling mendukung dalam aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat luas bagi umat.</p>
<p>GOSEH hadir sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan pelaku usaha lokal. Melalui platform ini, produk-produk UMKM dapat lebih mudah dikenal dan dijangkau oleh konsumen. Kemudahan akses tersebut membuka peluang peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha sekaligus memperluas pilihan bagi masyarakat untuk menikmati produk lokal.</p>
<p>Lebih dari sekadar layanan antar, GOSEH memiliki potensi menciptakan perputaran ekonomi yang tetap berada di daerah. Setiap transaksi yang terjadi tidak hanya memberikan manfaat kepada pemilik usaha, tetapi juga kepada pengemudi, pemasok bahan baku, dan berbagai pihak yang terlibat dalam rantai ekonomi lokal. Semakin besar perputaran ekonomi di tingkat lokal, semakin kuat pula daya tahan ekonomi masyarakat.</p>
<p>Dalam konteks penyuluhan ekonomi keumatan, mendukung UMKM lokal merupakan bentuk nyata dari semangat ta&#8217;awun atau saling membantu. Ketika masyarakat memilih membeli produk dari usaha lokal, sesungguhnya mereka sedang berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah.</p>
<p>Digitalisasi juga menjadi peluang bagi UMKM untuk berkembang tanpa harus menghadapi biaya promosi yang besar. Dengan memanfaatkan platform seperti GOSEH, pelaku usaha dapat menjangkau lebih banyak pelanggan, meningkatkan kualitas layanan, dan beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin akrab dengan teknologi.</p>
<p>Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang datang dari luar, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengembangkan dan mendukung potensi yang dimiliki sendiri. GOSEH merupakan salah satu contoh bagaimana teknologi dapat digunakan sebagai sarana pemberdayaan ekonomi keumatan, memperkuat UMKM lokal, serta menumbuhkan semangat gotong royong ekonomi demi terwujudnya kesejahteraan bersama.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/perkuat-ekonomi-goseh/">Perkuat Ekonomi Lokal, GOSEH Luncurkan Diskon Ongkir Hingga 60 Persen</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BAZNAS Karo: Ketika Konflik Internal Menjadi Konsumsi Publik</title>
		<link>https://suntara.or.id/baznas-karo-ketika-konflik-internal-menjadi-konsumsi-publik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 02:34:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2217</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Ikhwan Syahlani, SHI Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat Kabupaten Karo, kehadiran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) seharusnya menjadi sumber harapan. Lembaga ini bukan sekadar organisasi administrasi pengelola zakat, melainkan wadah yang menghubungkan kepedulian umat dengan mereka yang membutuhkan. Karena itu, setiap dinamika yang terjadi di dalam tubuh BAZNAS sesungguhnya [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/baznas-karo-ketika-konflik-internal-menjadi-konsumsi-publik/">BAZNAS Karo: Ketika Konflik Internal Menjadi Konsumsi Publik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>O</b>leh: Ikhwan Syahlani, SHI</p>
<p>Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat Kabupaten Karo, kehadiran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) seharusnya menjadi sumber harapan. Lembaga ini bukan sekadar organisasi administrasi pengelola zakat, melainkan wadah yang menghubungkan kepedulian umat dengan mereka yang membutuhkan. Karena itu, setiap dinamika yang terjadi di dalam tubuh BAZNAS sesungguhnya bukan hanya urusan internal pengurus, melainkan juga menyangkut kepercayaan publik.</p>
<p>Belakangan, masyarakat disuguhi berbagai perdebatan dan silang pendapat yang menyeruak ke media sosial terkait kepengurusan BAZNAS Kabupaten Karo. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, satu hal yang perlu disadari bersama adalah bahwa konflik yang dipertontonkan di ruang publik hampir selalu meninggalkan luka yang lebih besar daripada manfaat yang diperoleh.</p>
<p>Media sosial memang memberikan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Namun, ketika perbedaan pandangan antar pengurus lembaga keagamaan dibawa ke ruang publik tanpa penyelesaian yang matang, yang terkikis bukan hanya hubungan antarindividu, melainkan juga wibawa lembaga itu sendiri. Masyarakat awam tidak selalu memahami akar persoalan. Yang mereka lihat hanyalah pertengkaran, saling sanggah, dan tudingan yang berulang.</p>
<p>Padahal, BAZNAS Kabupaten Karo baru beberapa tahun terakhir berupaya membangun kepercayaan masyarakat melalui berbagai program sosial, digitalisasi layanan, dan kerja sama dengan berbagai pihak untuk membantu masyarakat kurang mampu.</p>
<p>Kepercayaan adalah modal terbesar lembaga sosial dan keagamaan. Sekali kepercayaan itu retak, proses memulihkannya bisa jauh lebih sulit daripada membangunnya sejak awal. Banyak contoh di berbagai daerah menunjukkan bahwa konflik internal yang tidak dikelola dengan baik dapat berujung pada menurunnya partisipasi masyarakat, bahkan menghambat program-program yang seharusnya menyentuh kepentingan umat.</p>
<p>Karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukanlah saling mengalahkan di media sosial, melainkan keberanian untuk duduk bersama. Jika memang terdapat perbedaan penafsiran aturan, sengketa kewenangan, atau persoalan kepengurusan, maka mekanisme organisasi dan regulasi harus menjadi jalan penyelesaiannya. Lembaga yang mengajarkan nilai-nilai keagamaan justru dituntut memberi teladan dalam menyelesaikan konflik secara bermartabat.</p>
<p>Kabupaten Karo masih membutuhkan BAZNAS yang kuat, dipercaya, dan fokus melayani masyarakat. Umat tidak membutuhkan tontonan pertikaian. Mereka membutuhkan bukti bahwa zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan dikelola dengan amanah dan profesional.</p>
<p>Pada akhirnya, jabatan adalah sementara, tetapi nama baik lembaga adalah warisan yang akan dikenang jauh lebih lama. Ketika ego pribadi bertemu dengan kepentingan organisasi, maka yang semestinya didahulukan adalah marwah lembaga. Sebab sebuah organisasi keagamaan tidak akan dinilai dari seberapa keras para pengurusnya berdebat, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu mereka hadirkan bagi masyarakat.</p>
<p>Jika ada persoalan, selesaikanlah di meja musyawarah. Jika ada perbedaan, carilah titik temu. Namun jika yang dipertaruhkan adalah nama baik lembaga umat, maka setiap pihak sudah seharusnya menahan diri untuk tidak menjadikan media sosial sebagai arena pertikaian.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/baznas-karo-ketika-konflik-internal-menjadi-konsumsi-publik/">BAZNAS Karo: Ketika Konflik Internal Menjadi Konsumsi Publik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Refleksi Setahun SUNTARA, Kerinduan Akan Ruang Bersama</title>
		<link>https://suntara.or.id/refleksi-setahun-suntara-kerinduan-akan-ruang-bersama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 16:10:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2206</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah derasnya perubahan sosial, penyuluh agama sesungguhnya memikul tugas yang semakin berat. Mereka bukan hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat bertanya, mengadu, bahkan mencari ketenangan di tengah keadaan yang sering tidak menentu. Namun di balik peran itu, para penyuluh kerap bekerja dalam ruang yang sunyi: bergerak sendiri-sendiri, sibuk dengan wilayah binaan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/refleksi-setahun-suntara-kerinduan-akan-ruang-bersama/">Refleksi Setahun SUNTARA, Kerinduan Akan Ruang Bersama</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah derasnya perubahan sosial, penyuluh agama sesungguhnya memikul tugas yang semakin berat. Mereka bukan hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat bertanya, mengadu, bahkan mencari ketenangan di tengah keadaan yang sering tidak menentu. Namun di balik peran itu, para penyuluh kerap bekerja dalam ruang yang sunyi: bergerak sendiri-sendiri, sibuk dengan wilayah binaan masing-masing, dan jarang memiliki ruang yang benar-benar mempertemukan pengalaman maupun kegelisahan mereka sebagai sesama pelayan masyarakat.</p>
<p>Padahal tantangan yang dihadapi hampir serupa. Tentang masyarakat yang berubah cepat, generasi muda yang semakin jauh dari ruang-ruang pembinaan, persoalan sosial yang semakin rumit, hingga tuntutan administrasi yang sering menguras tenaga. Banyak gagasan baik lahir di lapangan, tetapi tidak sempat berkembang karena berhenti di daerahnya masing-masing. Tidak ada cukup ruang untuk saling belajar, saling menyambung pengalaman, atau sekadar mengetahui bahwa di tempat lain ada orang-orang yang sedang berjuang dengan keresahan yang sama.</p>
<p>Dari kegelisahan itulah setahun lalu saya pernah percaya bahwa jarak antar penyuluh agama di negeri ini sebenarnya bisa dipendekkan. Bukan dengan perjalanan dinas, bukan pula lewat forum-forum seremonial, melainkan melalui sebuah ruang bersama yang memungkinkan orang-orang saling bertemu pikiran, pengalaman, dan keresahan. Dari keyakinan kecil itu lahirlah sebuah gagasan bernama <strong>Suntara (Suluh Nusantara)</strong>.</p>
<figure id="attachment_2208" aria-describedby="caption-attachment-2208" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-2208 size-medium" src="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/05/vr-300x200.png" alt="" width="300" height="200" srcset="https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/05/vr-300x200.png 300w, https://suntara.or.id/wp-content/uploads/2026/05/vr.png 651w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-2208" class="wp-caption-text">Dokumentasi Launching Suntara</figcaption></figure>
<p>Nama itu terdengar besar. Mungkin terlalu besar untuk sesuatu yang lahir dari kegelisahan sederhana: melihat para penyuluh bekerja dalam kesunyian masing-masing. Kita sering berada di tengah masyarakat, berbicara tentang persaudaraan, gotong royong, dan pentingnya saling menguatkan. Tetapi sesama penyuluh sendiri kerap berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing sibuk dengan wilayah binaannya, programnya, laporannya, dan persoalan masyarakat yang datang silih berganti tanpa jeda.</p>
<p>Padahal sering kali masalah yang dihadapi serupa. Tentang remaja yang kehilangan arah. Tentang keluarga yang rapuh. Tentang masyarakat yang semakin mudah bertengkar karena hal-hal kecil. Tentang bagaimana agama kadang hanya berhenti sebagai ceramah, belum menjadi pelukan sosial. Saya membayangkan, jika pengalaman-pengalaman kecil dari berbagai daerah itu dipertemukan, mungkin akan lahir kekuatan yang lebih besar. Akan ada penyuluh yang tidak lagi merasa sendirian menghadapi keadaan. Tetapi perjalanan setahun ini mengajarkan hal lain: manusia ternyata tidak cukup dipertemukan hanya dengan teknologi.</p>
<p>Ada hal-hal yang jauh lebih rumit daripada membuat platform atau membangun sistem. Yakni membangun rasa percaya, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa mendengar orang lain juga penting di tengah kesibukan diri sendiri. Saya mulai menyadari, mungkin selama ini saya terlalu sibuk membangun sesuatu yang menurut saya dibutuhkan, tetapi belum cukup lama duduk untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan para penyuluh di lapangan. Mungkin mereka tidak selalu membutuhkan ruang besar dengan gagasan yang tinggi. Kadang yang dibutuhkan hanya tempat sederhana untuk saling bertanya, saling mengabari, atau sekadar merasa bahwa ada orang lain yang memahami lelah yang sama.</p>
<p>Suntara mungkin belum tumbuh seperti yang saya bayangkan. Bahkan mungkin masih tertatih mencari bentuknya sendiri. Tetapi kegelisahan yang melahirkannya belum benar-benar hilang. Sebab sampai hari ini saya masih percaya: kita tidak kekurangan orang-orang baik. Kita hanya terlalu jarang dipertemukan.</p>
<p>Ikhwan Syahlani, SHI., Penyuluh Agama Islam KUA Berastagi, Kabupaten Karo Smatera Utara</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/refleksi-setahun-suntara-kerinduan-akan-ruang-bersama/">Refleksi Setahun SUNTARA, Kerinduan Akan Ruang Bersama</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berebut Mimbar di Hari Besar, Dakwah Berubah Jadi Ajang Gelar</title>
		<link>https://suntara.or.id/berebut-mimbar-di-hari-besar-dakwah-berubah-jadi-ajang-gelar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 06:41:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2201</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap tahun, menjelang hari-hari besar Islam seperti Idul Adha atau Idul Fitri, ada satu fenomena yang diam-diam terus berulang di tengah masyarakat. Bukan tentang persiapan kurban, bukan tentang semangat berbagi, melainkan tentang perebutan mimbar. Ada yang kecewa karena tidak ditunjuk menjadi khatib. Ada yang merasa lebih pantas menjadi imam. Ada yang tersinggung karena namanya tidak [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berebut-mimbar-di-hari-besar-dakwah-berubah-jadi-ajang-gelar/">Berebut Mimbar di Hari Besar, Dakwah Berubah Jadi Ajang Gelar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 16px;">Setiap tahun, menjelang hari-hari besar Islam seperti Idul Adha atau Idul Fitri, ada satu fenomena yang diam-diam terus berulang di tengah masyarakat. Bukan tentang persiapan kurban, bukan tentang semangat berbagi, melainkan tentang perebutan mimbar. Ada yang kecewa karena tidak ditunjuk menjadi khatib. Ada yang merasa lebih pantas menjadi imam. Ada yang tersinggung karena namanya tidak masuk dalam susunan petugas hari raya. Bahkan tidak jarang muncul kelompok-kelompok kecil yang saling menjauh hanya karena urusan siapa yang berdiri di podium.</span></p>
<p>Ironisnya, semua itu terjadi di atas nama dakwah.</p>
<p>Padahal dakwah tidak pernah sesempit pengeras suara masjid. Dakwah juga tidak hanya hidup di atas mimbar megah atau di hadapan ribuan jamaah. Jika dakwah hanya dipahami sebagai kesempatan berbicara di depan umum, maka kita sedang memperkecil makna Islam itu sendiri.</p>
<p>Hari ini, sebagian orang mulai mengukur keberhasilan dakwah dari seberapa besar masjid tempat ia berceramah, seberapa banyak jamaah yang hadir, atau seberapa sering namanya disebut panitia. Akibatnya, mimbar berubah menjadi simbol prestise, bukan lagi amanah. Ketika kesempatan itu tidak didapatkan, lahirlah kekecewaan, persaingan, bahkan konflik yang kadang lebih besar daripada nilai dakwah yang ingin disampaikan.</p>
<p>Padahal Rasulullah ﷺ tidak membangun pengaruh hanya dari podium. Beliau berdakwah melalui akhlak, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian terhadap masyarakat. Banyak hati luluh bukan karena pidato panjang, tetapi karena keteladanan yang nyata.</p>
<p>Ada orang yang tidak pernah menjadi khatib Idul Adha, tetapi setiap hari membantu tetangga yang kesulitan. Ada yang tidak pernah berdiri di mimbar besar, tetapi membiayai anak yatim untuk sekolah. Ada yang suaranya tidak pernah terdengar di pengeras masjid, tetapi tutur katanya membuat keluarganya lebih dekat kepada agama. Bukankah itu juga dakwah?</p>
<p>Kita sering lupa bahwa masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan ceramah, tetapi juga contoh hidup. Dunia sudah terlalu penuh dengan orang yang pandai berbicara, namun kekurangan orang yang mampu menghadirkan ketenangan, kejujuran, dan kasih sayang dalam kehidupan nyata.</p>
<p>Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk merenung. Hari raya kurban mengajarkan tentang keikhlasan melepaskan ego. Nabi Ibrahim tidak mempertahankan keinginannya sendiri ketika diuji oleh Allah. Namun di zaman sekarang, kadang justru ego tumbuh di sekitar syiar agama. Kita rela berdebat demi posisi, tetapi lupa memperbaiki hati.</p>
<p>Mimbar hanyalah tempat. Dakwah yang sesungguhnya adalah bagaimana manusia menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan. Seorang pedagang yang jujur sedang berdakwah. Seorang ayah yang lembut kepada keluarganya sedang berdakwah. Seorang pemuda yang menjaga lisannya di media sosial juga sedang berdakwah.</p>
<p>Tidak semua orang harus berdiri di podium untuk menjadi jalan kebaikan.</p>
<p>Bisa jadi, suara yang paling didengar Allah bukan berasal dari mikrofon masjid terbesar, melainkan dari hati yang tulus membantu sesama tanpa ingin dipuji siapa pun.</p>
<p>Masyarakat perlu kembali memahami bahwa kemuliaan dalam dakwah bukan terletak pada siapa yang paling sering tampil, tetapi siapa yang paling ikhlas memberi manfaat. Sebab ketika dakwah berubah menjadi ajang perebutan panggung, maka yang hilang bukan hanya ketenangan umat, tetapi juga ruh keikhlasan itu sendiri.</p>
<p>Dan mungkin, di situlah letak ironi terbesar kita hari ini: terlalu sibuk mencari tempat untuk berbicara, sampai lupa menjadi teladan dalam kehidupan.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berebut-mimbar-di-hari-besar-dakwah-berubah-jadi-ajang-gelar/">Berebut Mimbar di Hari Besar, Dakwah Berubah Jadi Ajang Gelar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbisnis Lebih Menyenangkan Karena Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menjatuhkan</title>
		<link>https://suntara.or.id/berbisnis-lebih-menyenangkan-karena-bertumbuh-bersama-bukan-saling-menjatuhkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ikhwan Sy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 16:17:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan Penyuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suntara.or.id/?p=2196</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masjid Agung Kabanjahe,17/05 Kolaborasi antar pelaku usaha memiliki satu kelebihan utama: kita punya kepentingan yang sama, yaitu sama-sama ingin berkembang, mendapatkan pelanggan, meningkatkan penjualan, dan memperoleh keuntungan. Inilah salah satu hal menyenangkan menjadi pengusaha. Saat berkolaborasi dengan sesama pelaku usaha, tujuan kita biasanya lebih selaras. Pemilik usaha kuliner ingin dagangannya laku, platform digital ingin transaksi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berbisnis-lebih-menyenangkan-karena-bertumbuh-bersama-bukan-saling-menjatuhkan/">Berbisnis Lebih Menyenangkan Karena Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menjatuhkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Masjid Agung Kabanjahe,17/05 Kolaborasi antar pelaku usaha memiliki satu kelebihan utama: kita punya kepentingan yang sama, yaitu sama-sama ingin berkembang, mendapatkan pelanggan, meningkatkan penjualan, dan memperoleh keuntungan.</p>
<p>Inilah salah satu hal menyenangkan menjadi pengusaha. Saat berkolaborasi dengan sesama pelaku usaha, tujuan kita biasanya lebih selaras. Pemilik usaha kuliner ingin dagangannya laku, platform digital ingin transaksi meningkat, jasa pengantaran ingin order bertambah, dan konsumen ingin layanan yang mudah. Ketika semua terhubung dalam satu ekosistem, semua pihak sama-sama diuntungkan.</p>
<p>Sebaliknya, dalam banyak bentuk kerja sama lain, sering kali masing-masing pihak memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Ada yang fokus pada target pribadi, ada yang mengejar posisi, ada yang hanya menjalankan kewajiban. Akibatnya, energi yang dikeluarkan lebih banyak untuk menyamakan arah.</p>
<p>Kolaborasi bisnis lebih sederhana: kalau partner bertumbuh, kita juga ikut bertumbuh. Tidak ada alasan untuk menjatuhkan, karena keberhasilan satu pihak justru memperbesar peluang pihak lain.</p>
<p>Melalui ekonomi digital, kolaborasi ini semakin mudah dilakukan. UMKM kini bisa bekerja sama dengan aplikasi lokal, komunitas, reseller, supplier, hingga layanan delivery untuk memperluas pasar. Tidak harus besar untuk mulai berkolaborasi; yang penting punya visi yang sama dan komitmen untuk bertumbuh bersama.</p>
<p>Maka, mindset yang perlu dibangun pelaku UMKM hari ini bukan lagi “bagaimana saya menang sendiri”, tetapi bagaimana kita bisa maju bersama dalam ekosistem yang saling menguntungkan.</p>
<p>Karena pada akhirnya, enaknya berusaha adalah saat kita tidak berjalan sendirian, tetapi bertumbuh bersama orang-orang yang punya tujuan yang sama: membangun usaha yang sehat, berkelanjutan, dan menguntungkan.</p>
<p>Artikel <a href="https://suntara.or.id/berbisnis-lebih-menyenangkan-karena-bertumbuh-bersama-bukan-saling-menjatuhkan/">Berbisnis Lebih Menyenangkan Karena Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menjatuhkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suntara.or.id">Suntara</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
