Setiap kali rangkaian MTQ berakhir, ada satu momen yang terasa begitu akrab. Bukan semata gema lantunan ayat yang masih tersisa, atau haru para peserta, melainkan sebuah kalimat yang hampir selalu mengemuka di akhir sambutan:
“Tahun depan kita harus mulai pembinaan peserta lokal, agar tidak lagi bergantung pada peserta dari luar daerah.”
Kalimat ini disampaikan dengan penuh keyakinan – intonasinya tegas, ekspresinya serius, bahkan kerap diiringi tepuk tangan hadirin yang seolah menaruh harapan besar. Sebuah tekad kolektif yang terdengar mulia, namun sayangnya sering kali bersifat sementara.
Sebab, begitu lampu panggung dipadamkan, spanduk diturunkan, dan dokumentasi diunggah ke media sosial, kalimat tersebut perlahan memudar. Ia hilang tanpa jejak, layaknya sisa konsumsi panitia yang terlewat untuk dibawa pulang.
Fenomena ini bukan hal baru. Ia seakan menjadi tradisi tak tertulis yang berulang dari tahun ke tahun dengan pola yang nyaris identik:
- Menjelang MTQ, panitia disibukkan dengan upaya mencari “kekuatan terbaik”, termasuk dari luar daerah.
- Saat MTQ berlangsung, para peserta tampil optimal dan membawa nama daerah ke panggung prestasi.
- Setelah MTQ usai, evaluasi digelar dan kembali, kalimat yang sama pun terdengar.
“Kita harus mulai pembinaan dari sekarang.”
Namun, “sekarang” kerap bergeser menjadi “nanti”, dan “nanti” tanpa disadari berubah menjadi “tahun depan” kembali.
Pertanyaannya sederhana: jika kesadaran akan pentingnya pembinaan selalu muncul setiap tahun, mengapa pelaksanaannya tak kunjung benar-benar dimulai?
Apakah karena pembinaan tidak seatraktif seremoni?
Apakah karena hasilnya tidak dapat ditunjukkan secepat piala kemenangan?
Atau justru karena kita telah terbiasa dengan solusi yang instan?
Menghadirkan peserta dari luar daerah pada dasarnya bukanlah sesuatu yang keliru. Dalam kondisi tertentu, itu bisa menjadi langkah strategis. Namun, ketika hal tersebut terus menjadi pola tahunan tanpa diimbangi upaya serius untuk membangun potensi lokal, yang dipertahankan bukan lagi prestasi, melainkan ketergantungan.
Ironisnya, di tengah situasi tersebut, potensi lokal kerap hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Mereka hadir, menyaksikan, dan mendengar janji-janji pembinaan—namun pulang tanpa membawa perubahan berarti.
Padahal, pembinaan bukan sekadar gagasan. Ia memerlukan perencanaan, konsistensi, dukungan anggaran, serta komitmen untuk memulai—bahkan dari langkah yang paling sederhana.
Tidak harus menunggu program besar atau instruksi resmi. Pembinaan dapat dimulai dari lingkup kecil: satu halaqah, satu pelatih yang berkelanjutan, atau sekelompok anak muda yang diberi ruang untuk belajar dan berkembang.
Mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya hasil MTQ, melainkan juga kejujuran kita terhadap komitmen yang terus diucapkan. Sebab janji yang berulang tanpa tindakan, pada akhirnya kehilangan makna—berubah dari harapan menjadi sekadar formalitas.
Dan jika tahun depan, setelah MTQ kembali usai, kalimat yang sama kembali disampaikan dengan susunan yang tak banyak berbeda, barangkali kita tidak perlu lagi memberikan tepuk tangan.
Cukup tersenyum.
Karena kita telah memahami bagaimana kisah ini berakhir.
Ikhwan Syahlani, SHI