Sejak kecil kita seperti diajarkan untuk terus naik. Sekolah lebih tinggi, pekerjaan lebih baik, penghasilan lebih besar, posisi lebih tinggi. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi dalam perjalanan, mungkin ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan: apakah semua tangga memang harus kita naiki?
Dalam kehidupan, manusia memang sering dihadapkan pada keinginan untuk menjadi lebih. Ketika sudah berada di satu tempat, mata kembali melihat ke tempat yang lebih tinggi. Ketika satu pencapaian sudah diraih, muncul keinginan untuk mendapatkan pencapaian berikutnya. Begitulah hidup berjalan.
Di dunia pekerjaan, terutama dalam lingkungan birokrasi, tangga itu bisa berbentuk jabatan, pangkat, ruang kerja, kewenangan, atau berbagai macam posisi yang dianggap sebagai tanda keberhasilan. Lalu dimulailah perlombaan…
Siapa yang lebih dulu naik. Siapa yang mendapatkan tempat lebih baik. Siapa yang dipercaya memegang jabatan. Kadang tanpa disadari, perjalanan bekerja yang semestinya menjadi ruang pengabdian berubah menjadi perjalanan untuk membuktikan siapa yang lebih tinggi dari siapa.
Padahal, tidak semua orang harus berada di puncak tangga yang sama. Ada yang menemukan kebahagiaan dalam memimpin. Ada yang merasa cukup ketika pekerjaannya memberi manfaat. Ada yang tidak membutuhkan ruangan besar untuk merasa dirinya berarti. Sebab nilai seseorang tidak selalu ditentukan oleh tempat di mana ia duduk, tetapi oleh apa yang ia lakukan ketika berada di sana.
Mungkin yang perlu dipikirkan bukan hanya seberapa tinggi seseorang bisa naik, tetapi juga ‘untuk apa ia naik’. Sebab jabatan yang tinggi tidak otomatis membuat seseorang lebih berarti. Begitu pula posisi yang sederhana tidak serta-merta membuat seseorang lebih rendah.
Karena semua orang akan berhadapan dengan batas. Ada masa ketika jabatan berakhir. Ada masa ketika pangkat berhenti. Ada masa ketika meja kerja yang setiap hari didatangi harus ditinggalkan. Bahkan sebuah karier yang panjang sekalipun pada akhirnya akan sampai pada satu titik yang sama: selesai. Dan mungkin justru di situlah kita baru mempunyai kesempatan untuk melihat perjalanan dari kejauhan.
Apa yang dulu begitu penting, ternyata tidak selamanya penting. Persaingan yang dulu membuat gelisah, perlahan kehilangan maknanya. Kursi yang dulu begitu ingin diduduki, akhirnya akan ditempati orang lain. Nama yang dulu disebut bersama jabatan, suatu hari hanya tinggal nama.
Tidak semua tangga harus kita naiki, ada kalanya cukup berdiri di tempat kita berada, lalu bekerja dengan baik. Sebab yang paling penting dari sebuah perjalanan bukan selalu tentang mencapai tempat tertinggi, tetapi tentang bagaimana kita melewati setiap anak tangga tanpa kehilangan diri sendiri.
Di akhir cerita, kita baru sadar bahwa yang selama ini kita kejar begitu keras, tidak ikut kita bawa pulang. Jabatan berhenti, pangkat berhenti, pujian berhenti. Yang tinggal hanyalah kenangan tentang bagaimana kita pernah menjalani semuanya. Nice!