Senin pagi selalu punya suasana yang hampir sama. Orang-orang datang dengan seragam yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Barisan dibentuk, apel dimulai, amanat disampaikan, lalu semuanya kembali kepada rutinitas masing-masing. Begitu terus. Minggu berganti minggu.
Karena terlalu sering dilakukan, kita kadang lupa bahwa ada sesuatu yang sebenarnya sedang berlangsung : waktu sedang berjalan.
Apel di bulan September ini, adalah apel pertama dalam kepemimpinan Kepala KUA Kecamatan Berastagi, Arri Aliansyah Siregar, S.H.I., M.Si. Pergantian seorang pimpinan mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: kantor akan terus berjalan, sementara orang-orang di dalamnya akan datang dan pergi. Kita sering menilai teman sekantor dari apa yang terlihat. Yang rajin kita anggap biasa. Yang sekali melakukan kesalahan bisa lama kita ingat. Kita hafal kekurangan seseorang, tetapi sering lupa menyebutkan kebaikannya. Mengapa memuji orang lain terasa begitu sulit?
Mungkin karena kita terlalu sibuk mengukur diri sendiri dengan orang lain. Padahal, setiap orang membawa perjuangannya masing-masing. Ada pekerjaan yang selesai tanpa tepuk tangan. Ada tanggung jawab yang dipikul diam-diam. Ada orang yang tetap datang bekerja meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Seorang pemimpin, barangkali, bukan hanya orang yang mampu memberi perintah. Pemimpin juga harus mampu melihat hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian: siapa yang bekerja dalam diam, siapa yang membutuhkan dukungan, dan siapa yang selama ini mungkin belum pernah mendengar satu kalimat sederhana: “Terima kasih, pekerjaanmu berarti.”
Kemudian kita kembali kepada soal waktu. Kita sering mengatakan bahwa waktu berputar. Bukankah jarum jam memang berputar? Bukankah Senin akan kembali setelah tujuh hari? Tetapi mungkin yang berputar hanyalah jarum jam.
Waktu sendiri tidak pernah kembali.
Senin depan kita memang akan berdiri lagi di tempat yang sama. Tetapi kita sudah menjadi orang yang berbeda. Ada pengalaman yang bertambah, ada usia yang berkurang, dan ada kesempatan yang tidak mungkin diulang.
Maka mungkin setiap apel bukan sekadar kewajiban kedinasan. Ia adalah kesempatan untuk berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri:
Selama waktu terus berjalan, sebenarnya apa yang sedang kita bangun dalam diri kita?
Sebab suatu hari nanti, barisan itu akan tetap ada. Hanya saja, mungkin kita sudah tidak berada di dalamnya.