Penyuluh Berastagi Tunjukkan Komitmen dalam Seleksi Advance Facilitator Bimbingan Perkawinan Berbasis AI

Picture of Ikhwan Sy

Ikhwan Sy

Penulis

Berastagi, 12 Oktober 2026 — Pengumuman hasil seleksi calon peserta Advance Facilitator Bimbingan Perkawinan–Isu Perlindungan Keluarga yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, telah resmi diterbitkan. Seleksi ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kompetensi fasilitator melalui program Bootcamp AI-Enabled Facilitator Bimbingan Perkawinan yang dijadwalkan berlangsung pada 14–16 Oktober 2026 di Tangerang, Banten.

Salah satu penyuluh agama dari Berastagi, Ikhwan Syahlani, turut ambil bagian dalam proses seleksi tersebut. Meskipun belum berhasil masuk dalam daftar peserta yang dinyatakan lolos, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar, mengembangkan kompetensi, serta mengambil bagian dalam kemajuan dunia penyuluhan agama di era digital.

Bagi Ikhwan Syahlani, keikutsertaan dalam seleksi ini bukan semata-mata tentang hasil akhir, melainkan juga menjadi pengalaman berharga untuk mengukur kemampuan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai peluang pengembangan kompetensi pada masa mendatang.

Menurut semangat yang diusungnya, dunia penyuluhan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu berkompetisi, tetapi juga terbuka untuk berkolaborasi. Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menghadirkan peluang besar bagi penyuluh agama untuk meningkatkan kualitas pelayanan, memperluas jangkauan edukasi, serta menyampaikan materi penyuluhan secara lebih kreatif dan efektif.

Ikhwan Syahlani juga menunjukkan dukungannya terhadap program pengembangan fasilitator berbasis AI yang digagas Kementerian Agama. Ia memandang bahwa transformasi digital dalam dunia penyuluhan merupakan sebuah keniscayaan yang perlu disambut dengan kesiapan, kemauan belajar, dan semangat berbagi pengetahuan.

Baginya, keberhasilan rekan-rekan penyuluh dari berbagai daerah yang lolos seleksi merupakan hal positif yang patut diapresiasi. Mereka diharapkan dapat menjadi mitra kolaborasi dalam berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik terkait pemanfaatan teknologi untuk mendukung pelaksanaan tugas penyuluhan di tengah masyarakat.

“Kompetisi bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses untuk terus bertumbuh. Kita perlu terus belajar, saling mendukung, dan berkolaborasi dengan penyuluh dari berbagai daerah agar pemanfaatan teknologi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” demikian semangat yang menjadi landasan pengembangan diri dalam dunia penyuluhan.

Kedepan, Ikhwan Syahlani berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas diri, mengikuti perkembangan teknologi, serta membangun jejaring kolaborasi dengan sesama penyuluh agama. Ia berharap semakin banyak penyuluh yang berani berinovasi dan memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat edukasi keagamaan, bimbingan perkawinan, serta ketahanan keluarga.

Partisipasi Ikhwan Syahlani dalam seleksi ini menjadi gambaran bahwa semangat pengabdian tidak berhenti pada hasil seleksi. Justru melalui pengalaman tersebut, terbuka ruang untuk terus berbenah, memperkuat kompetensi, dan mempersiapkan diri agar mampu berkontribusi lebih luas.

Bagi Ikhwan, terus belajar, berani berkompetisi, dan siap berkolaborasi merupakan langkah penting untuk menghadirkan penyuluhan yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan tantangan zaman. Sebab, kemajuan dunia penyuluhan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang berhasil lolos seleksi, tetapi juga oleh kemauan bersama untuk terus berkembang dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Terbaru

Artikel Terkait

Lainnya