Seorang perempuan berdiri di depan pintu rumah, tampak ragu untuk masuk. Tangannya agak gemetar sambil beberapa kali merapikan ujung jilbab. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi tidak tahu harus dimulai dari mana.
“Iya, Mbak. Silakan masuk. Ada yang bisa saya bantu?”
Perempuan itu duduk. Beberapa detik ia hanya diam.
“Boleh cerita sedikit, Bang?”
“Tentu. Cerita saja. Tidak harus langsung semuanya.”
Ia menarik napas.
“Saya sedang ada masalah dengan suami.”
Kalimat itu pendek. Tetapi sering kali, di balik kalimat sesingkat itu, ada cerita yang panjang.
“Masalah rumah tangga?”
“Iya.”
“Sudah berapa lama?”
“Hampir setahun, Bang. Awalnya cuma masalah kecil. Tapi sekarang rasanya semua menjadi besar.”
Ia kemudian bercerita. Tentang suami yang semakin jarang berbicara. Tentang pertengkaran yang berulang pada persoalan yang sama. Tentang komunikasi yang semakin pendek. Tentang dirinya yang mulai merasa tidak didengar.
“Kadang saya berpikir, mungkin kami memang sudah tidak cocok.”
Penyuluh itu tidak buru-buru menjawab.
Ia tahu, orang yang datang untuk bercerita sebenarnya tidak selalu sedang mencari seseorang yang bisa memberikan jawaban cepat. Kadang mereka hanya membutuhkan tempat yang aman untuk mengeluarkan sesuatu yang selama ini dipendam.
“Kalau boleh saya tanya,” katanya kemudian, “ketika Mbak dan suami bertengkar, apa yang paling sering dipersoalkan?”
Perempuan itu menjawab.
“Hal-hal kecil. Uang. Anak. Keluarga. Pekerjaan. Tapi ujungnya selalu menjadi masalah besar.”
“Dan setelah bertengkar?”
“Diam.”
“Berapa lama?”
“Kadang berhari-hari.”
Ruangan itu kembali hening.
“Rumah tangga,” kata penyuluh itu perlahan, “sering kali tidak rusak karena satu masalah besar. Kadang ia lelah karena masalah kecil yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.”
Perempuan itu menatapnya.
“Jadi saya harus bagaimana?”
Pertanyaan itu mungkin tidak membutuhkan jawaban yang rumit.
“Mungkin kita mulai dari sesuatu yang sederhana. Jangan buru-buru bertanya siapa yang salah. Coba tanyakan dulu, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada pasangan masing-masing.”
“Bukankah kalau dia yang salah, dia juga harus berubah?”
“Tentu. Tetapi kita tidak bisa mengubah orang lain hanya dengan terus menunjukkan kesalahannya.”
Ia terdiam.
“Dalam keluarga, memenangkan perdebatan belum tentu berarti memenangkan rumah tangga.”
Kalimat itu membuat perempuan tersebut tersenyum kecil.
Kemudian pembicaraan berlanjut. Bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana keduanya bisa kembali berbicara. Tentang pentingnya saling mendengar. Tentang hak dan kewajiban suami istri. Tentang cara menyelesaikan konflik tanpa mempermalukan pasangan. Juga tentang agama yang semestinya tidak berhenti sebagai nasihat di mimbar, tetapi hadir ketika sebuah keluarga sedang berada dalam kesulitan.
Di situlah barangkali salah satu wajah penyuluh agama yang sering tidak terlihat.
Penyuluh bukan sekadar orang yang datang membawa materi ceramah. Tidak selalu berdiri di depan jamaah. Tidak setiap pekerjaannya menghasilkan foto kegiatan.
Kadang ia hanya duduk berhadapan dengan seseorang yang sedang menangis.
Mendengarkan. Bertanya. Menimbang persoalan dengan hati-hati.
Lalu membantu seseorang melihat masalah dari sudut yang mungkin selama ini tidak terlihat.
Dalam persoalan keluarga, penyuluh juga tidak semestinya menjadi hakim yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia bukan pula pihak yang mengambil keputusan atas kehidupan orang lain.
Perannya adalah membantu membuka jalan.
Mengingatkan kembali nilai-nilai agama. Menguatkan komunikasi. Mendorong pasangan untuk saling menghormati. Dan jika persoalannya membutuhkan penanganan lebih lanjut, membantu mengarahkan kepada pihak yang memiliki kewenangan atau kompetensi yang sesuai.
Sebab keluarga sakinah tidak berarti keluarga yang tidak pernah bertengkar. Tidak ada rumah tangga yang sepenuhnya bebas dari perbedaan.
Yang membedakan adalah bagaimana perbedaan itu dihadapi. Apakah setiap persoalan menjadi alasan untuk saling menjauh, atau justru menjadi kesempatan untuk belajar memahami? Apakah kesalahan pasangan selalu dijadikan senjata, atau ada ruang untuk memaafkan? Apakah agama hanya hadir ketika seseorang memberi nasihat kepada orang lain, atau juga hadir ketika dirinya sendiri sedang diuji dalam kehidupan rumah tangga?
Menjelang pulang, perempuan itu kembali bertanya,“Bang, sebenarnya masih bisakah keluarga saya diperbaiki?”Penyuluh itu tersenyum.
“Selama masih ada kemauan untuk berbicara, mendengar, dan memperbaiki, jangan terlalu cepat mengatakan semuanya sudah berakhir.”
Ia kemudian menambahkan,“Kadang keluarga tidak membutuhkan orang yang paling pandai memberi nasihat. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang membantu mengingatkan bahwa di balik persoalan itu, masih ada dua orang yang pernah memilih untuk hidup bersama.”
Perempuan itu mengangguk. Ia datang membawa persoalan. Ia pulang belum tentu membawa semua jawaban.
Tetapi setidaknya, ia pulang dengan satu hal yang mungkin lebih penting: harapan bahwa sebuah keluarga masih bisa diperbaiki.
Dan mungkin di situlah makna sederhana dari kehadiran penyuluh agama. Bukan mengambil alih masalah orang lain. Bukan menjadi hakim dalam setiap pertengkaran rumah tangga. Melainkan hadir sebagai teman bicara, pemberi arah, dan pengingat bahwa ajaran agama seharusnya dapat membantu manusia menemukan jalan ketika hidup terasa kehilangan arah.
Sebab keluarga sakinah bukan rumah tanpa masalah.
Ia adalah rumah yang, setiap kali menghadapi masalah, masih memilih untuk mencari jalan pulang bersama.