Ilusi Inovasi Dalam Penyluhan Agama

Picture of Ikhwan Sy

Ikhwan Sy

Penulis

Penyuluh agama kini bisa terlihat semakin modern. Video semakin canggih, desain semakin menarik, konten semakin rajin diunggah. AI membuat semuanya terasa mudah. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dihasilkan hanya dengan mengetikkan perintah: kepekaan terhadap persoalan umat. Sebab, terlihat inovatif di media sosial tidak selalu berarti berhasil dalam penyuluhan.

Kecerdasan buatan (AI) mulai menjadi bagian dari aktivitas penyuluh agama. Teknologi ini membantu membuat video dakwah, menyusun materi ceramah, merancang poster digital, hingga mengembangkan aplikasi sederhana. Perkembangan tersebut patut diapresiasi. Namun, kita perlu bertanya: apakah semua itu benar-benar menjawab kebutuhan umat, atau sekadar membuat kita semakin sibuk memproduksi konten?

AI memang memudahkan banyak pekerjaan. Dalam hitungan menit, penyuluh dapat menghasilkan materi dengan tampilan menarik. Namun, kemudahan membuat konten tidak otomatis menyelesaikan persoalan masyarakat.

Pasangan yang sedang menghadapi konflik rumah tangga mungkin tidak membutuhkan tambahan video tentang keluarga sakinah. Mereka bisa jadi lebih membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi. Remaja yang kehilangan arah tidak cukup hanya diberi poster tentang akhlak. Mereka membutuhkan ruang untuk bertanya, berdialog, dan merasa dipahami. Di sinilah kita perlu membedakan inovasi dari sekadar mengikuti tren.

AI dapat membantu menyiapkan materi penyuluhan, tetapi tidak otomatis membuat penyuluh memahami masyarakat yang dilayaninya. Persoalannya bukan pada penggunaan teknologi, melainkan pada tujuan penggunaannya. Apakah AI dipakai untuk menjawab kebutuhan nyata, atau sekadar agar tidak dianggap tertinggal?

Video yang viral belum tentu mengubah perilaku. Poster yang menarik belum tentu membuat masyarakat memahami pesan. Aplikasi yang berhasil dibuat pun belum tentu benar-benar digunakan. Produk digital hanyalah sarana; manfaatnya bagi umat harus dinilai secara terpisah.

Karena itu, sebelum menggunakan AI, penyuluh perlu bertanya: persoalan apa yang sedang dihadapi masyarakat? Siapa yang ingin dijangkau? Perubahan apa yang diharapkan? Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya mendahului keputusan memilih teknologi.

Jika AI membantu menjangkau remaja, menyederhanakan informasi keagamaan, atau memperluas akses layanan konsultasi, manfaatkanlah. Namun, kebenaran dalil, ketepatan informasi, dan kerahasiaan data masyarakat tetap harus dijaga. Teknologi juga tidak boleh menggantikan kehadiran manusia ketika umat membutuhkan pendampingan langsung.

Pada akhirnya, penyuluh agama tidak sedang berlomba menjadi kreator konten paling canggih. Inovasi bukan soal seberapa modern tampilan penyuluhan, melainkan seberapa nyata manfaatnya dirasakan masyarakat.

Jangan sampai kita semakin produktif menghasilkan konten, tetapi semakin jarang mendengarkan umat. Jangan sampai penyuluhan terlihat modern di layar, sementara persoalan masyarakat tetap tidak tersentuh.

Terbaru

Artikel Terkait

Lainnya