Menapaki Sibayak, Menguatkan Pesan Ekoteologi

Picture of Ikhwan Sy

Ikhwan Sy

Penulis

Penyuluhan agama tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas, masjid, atau forum resmi. Kadang, pesan-pesan kebaikan justru terasa lebih dekat ketika disampaikan di tengah alam, dalam perjalanan, dan melalui kebersamaan.

Itulah yang tergambar dalam kegiatan penyuluhan yang membawa para penyuluh dan masyarakat menuju puncak Gunung Sibayak, Berastagi.

Langkah demi langkah menuju puncak menjadi ruang untuk belajar bahwa menjaga alam juga merupakan bagian dari menjaga kehidupan. Di tengah udara pegunungan yang sejuk dan panorama Tanah Karo yang terbentang luas, peserta diajak melihat bahwa alam bukan sekadar tempat untuk dinikmati, tetapi amanah yang harus dirawat.

Sesampainya di puncak, rasa lelah seolah terbayar lunas. Dari ketinggian, hamparan pegunungan, permukiman, dan bentang alam Karo terlihat begitu indah. Momen itu menjadi pengingat sederhana: semakin tinggi seseorang memandang, semakin luas pula perspektif yang dapat ia miliki.

Di sanalah penyuluhan menemukan bentuknya yang lain—bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui pengalaman.

Kebersamaan selama perjalanan juga menjadi bagian penting. Mereka saling menunggu, membantu ketika ada yang kelelahan, berbagi bekal, dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Nilai-nilai kepedulian, gotong royong, persaudaraan, dan toleransi tumbuh secara alami dalam perjalanan.

Bagi para penyuluh, kegiatan ini menjadi cara untuk menghadirkan penyuluhan yang lebih kontekstual. Pesan agama tidak berhenti pada ceramah, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari: bagaimana manusia memperlakukan sesama, bagaimana menjaga lingkungan, dan bagaimana mensyukuri keindahan ciptaan Tuhan.

Puncak Sibayak akhirnya bukan sekadar tujuan pendakian.

Ia menjadi ruang refleksi.

Bahwa alam mengajarkan kerendahan hati. Bahwa perjalanan mengajarkan kesabaran. Bahwa kebersamaan mengajarkan kepedulian. Dan bahwa penyuluhan agama dapat hadir di mana saja, selama membawa manusia semakin dekat kepada kebaikan.

Dari mimbar ke jalur pendakian, dari ruang penyuluhan menuju puncak gunung—pesannya tetap sama:

merawat hubungan dengan Tuhan, menjaga hubungan dengan sesama, dan menjaga alam sebagai bagian dari amanah kehidupan.

Terbaru

Artikel Terkait

Lainnya