Penyuluh Agama KUA Berastagi Bahu Membahu Mengisi Kekosongan Di SDN 040406 Berastagi

Picture of Ikhwan Sy

Ikhwan Sy

Penulis

Berastagi, Kabupaten Karo — Keterbatasan tenaga pendidik agama di sejumlah sekolah menjadi perhatian serius Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karo. Menjawab kondisi tersebut, para Penyuluh Agama Islam, Penyuluh Agama Kristen, dan Penyuluh Agama Katholik menunjukkan kepedulian dengan turun langsung ke sekolah untuk membantu mengisi kekosongan guru agama.

Salah satu bentuk nyata gerakan tersebut dilakukan di SD Negeri 040406 Berastagi, tempat para penyuluh secara bergantian memberikan materi pembelajaran agama kepada para siswa.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan arahan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karo, Saparudin, MA., yang sebelumnya menekankan bahwa masih terdapat sejumlah sekolah yang belum memiliki guru agama. Kondisi tersebut membutuhkan kolaborasi dan keterlibatan para penyuluh agar kebutuhan pembelajaran agama bagi peserta didik tetap dapat terpenuhi.

Di SD Negeri 040406, kegiatan penyuluhan tidak hanya dilakukan sekali. Sejumlah penyuluh agama telah beberapa kali hadir dan memberikan materi keagamaan kepada para siswa.

Dari unsur Penyuluh Agama Kristen, kegiatan tersebut melibatkan Ibu Ester Ekawani br Tarigan, Devi br. Barus, Omega br. Sembiring, Cahaya B. Manalu,. Sementara dari unsur Penyuluh Agama Islam Bapak Alpen Pinem, dan dari Penyuluh Agama Katholik ada Ibu Erna br. Sinaga.

Kehadiran para penyuluh tersebut menjadi gambaran bahwa tugas pembinaan keagamaan di tengah masyarakat tidak selalu harus dibatasi oleh ruang dan sekat kelembagaan. Ketika terdapat kebutuhan pendidikan agama di sekolah, para penyuluh dapat mengambil peran sesuai dengan kompetensi dan keyakinan masing-masing.

Yang menarik, keterlibatan penyuluh agama Islam dan Kristen dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan wajah kerukunan umat beragama yang diwujudkan melalui kerja nyata. Mereka memiliki ruang pengabdian yang sama: memastikan anak-anak mendapatkan hak mereka untuk memperoleh pendidikan agama dan moral.

Bagi para siswa, kehadiran penyuluh bukan sekadar memberikan materi pelajaran. Interaksi langsung di ruang kelas juga menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai moral, karakter, kedisiplinan, toleransi, serta sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi untuk Menjawab Persoalan di Lapangan

Arahan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karo mengenai masih adanya sekolah yang belum memiliki guru agama menjadi pemantik bagi para penyuluh untuk tidak hanya menunggu program, tetapi merespons kebutuhan nyata yang ditemukan di lapangan.

Penyuluh agama yang selama ini dikenal menjalankan fungsi pembinaan dan penyuluhan di tengah masyarakat, dalam konteks ini memperluas pengabdiannya ke lingkungan pendidikan.

Model seperti ini menjadi penting, terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik agama. Kehadiran penyuluh dapat menjadi solusi sementara sekaligus bentuk dukungan terhadap sekolah agar pembelajaran agama tetap berjalan.

Lebih dari itu, kolaborasi antara penyuluh agama Islam dan Kristen menghadirkan pesan penting tentang bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan.

Mereka berbeda dalam keyakinan, tetapi bertemu dalam satu tujuan: memberikan pelayanan terbaik bagi generasi muda.

Kegiatan di SD Negeri 040406 tersebut diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis dalam mendukung program Kementerian Agama, khususnya dalam memperkuat pendidikan karakter dan kehidupan keagamaan peserta didik.

Di tengah tantangan keterbatasan guru agama, langkah sederhana para penyuluh ini menjadi sebuah bentuk pengabdian yang nyata—hadir ke sekolah, masuk ke ruang kelas, dan memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan agama.

Dari ruang kelas SD Negeri 040406, semangat itu tumbuh: berbeda dalam iman, bersatu dalam pengabdian.

Terbaru

Artikel Terkait

Lainnya